Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bab 12 Kunjungan Yang Gagal


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu, tepat sebulan Tari dan Radit menjalin berhubungan. Radit merasa Tari sudah tulus mencintainya. Dia melupakan janji 3 bulan yang dia ucapkan selagi meminta Tari menjadi pacar nya dulu. Dia sudah sangat yakin Tari tidak akan meninggalkan dirinya. Selama ini pun hari-hari yang mereka jalani sangat menyenangkan, tanpa aral dan rintangan yang berarti.


Kedua keluarga pun mendukung, tanpa mempermasalahkan perbedaan usia antara mereka.


Bagi orang tua Radit, kebahagiaan anaknya adalah hal yang paling utama. Mereka tidak pernah mempermasalahkan soal Tari. Tari juga di nilai kedua orang tua Radit sangat baik dan sopan. Beberapa kali Radit mengajak Tari ke rumah mereka.


Radit dan Tari tidak memiliki tempat bertemu, saking kuatir ketauan orang yang di kenalnya, Tari meminta Radit bertemu di rumah saja. Jika tidak di rumah Tari, maka di rumah Radit.


Radit sempat protes, tapi dia hanya bisa mengalah dan pasrah menuruti semua maunya Tari.


Jika sedang berada di sekolah, Radit seolah-olah tidak memiliki hubungan spesial apapun dengan Tari. Tari bahkan tidak memberi tahu Ita sahabatnya, dia sangat mewanti-wanti Radit bahkan ibunya sendiri untuk merahasiakan hubungan mereka dari siapapun. Tari tidak ingin, terjadi masalah apapun di tempat dia bekerja. Ita memang sahabatnya, tapi menurut Tari, merahasiakan dari Ita adalah hal terbaik. Dan Radit pun tidak mempermasalahkannya. Sesekali dia merengek pada Tari karena seharian tidak bisa melihat wajahnya. Tapi Tari hanya menanggapinya dengan cuek.


Setiap malam, jika rindu menyerang kalbu... Radit datang ke rumah kekasihnya. Hanya untuk sekedar mengobrol dan bermanja-manja pada Tari. Begitupun seharusnya dengan malam ini..


Malam Minggu, malam yang seharusnya menjadi malam yang indah bagi setiap pasangan. Tapi tidak bagi Radit.


" Lo mau kemana sih Dit" Rega kesal setiap mengajak Radit keluar pasti dia menolak. Dan sekarang di lihat nya penampilan Radit sudah rapi, bahkan Radit sudah memakai jaketnya.


Radit menghentak-hentak kan kaki nya ke lantai, terlihat sekali dari raut mukanya dia sedang kesal.


Rega sengaja datang ke rumah temannya itu, untuk mengetahui alesan yang sebenarnya.


Rega sebenarnya mulai curiga dengan Radit.


Setiap Rega mengajak keluar, Radit selalu saja menolak dengan berbagai macam alasan.


" Lo punya pacar? Gak mungkin kan gak cerita sama gue.."


" Atau......????."


Rega sengaja menghentikan ucapannya sambil memegang kepalanya. Bertindak seolah-olah dia sedang berpikir dengan keras.

__ADS_1


" Atau apaan...." Radit semakin emosi.


"Jangan-jangan pacar lo bini nya orang ya.."


Radit melempar buku yang ada di mejanya tepat mengenai kepala Rega..


" Sakit, begoo.."


Rega mengumpat sambil memegang kepalanya yang sakit.


" Lo kira gue bisa gitu suka ma bini orang, secara banyak cewek- cewek cantik di sekolah kita yang ngejar-ngejar gue"


" Lo stres karena minggu depan kita mau ujian ya..makanya kalo ngomong ngawur!!!"


" Omongan lo tu gak pake di ayak tau gak!!"


Radit ikutan ngedumel pada Rega, dia sebenarnya tidak kesal dengan omongan Rega. Dia kesal karena Rega menggagalkan jadwal kunjungan rutinnya ke rumah Tari.


Radit melempar kembali jaketnya ke atas kasur. Rega terkekeh melihat tingkahnya. Dia senang membuat sahabatnya itu kesal.


Jika Rega datang ke rumah Radit, tidak pernah sebentar, malah sering dia tidak pulang ke rumahnya.. Melainkan menginap di rumah Radit. Orang tua Rega bolak-balik ke luar negeri. Ayahnya memiliki bisnis properti di Singapura. Rega malah lebih akrab dengan kedua orang tua Radit ketimbang orang tuanya sendiri.


Berhubung ini malam minggu, dan besok mereka tidak pergi ke sekolah. Bisa di pastikan Rega akan menginap di rumah Radit. Dan bisa di pastikan pula, rencana kunjungannya ke rumah Tari pun gagal total.


" Lo gak punya pacar kek?? tiap malam minggu bukannya ngapel lo, malah ngapel ke rumah gue!!!!"


Radit pindah duduk di tepi ranjang sambil mengambil ponselnya di atas nakas.


Dia berniat mengirim pesan pada Tari, mengabarkan padanya dia tidak bisa datang malam ini.


" Maaf sayang...aku gak bisa kesana malem ini"

__ADS_1


" Ada Rega di rumah yang...😭😭*"


Radit sengaja menambahkan imoticon sedih di akhir pesannya. Imoticon itu mewakili hati Radit yang berduka.. Ya..berduka karena tidak bisa berjumpa dengan dia.


" Maen futsal yok Dit, masih jam 8 malem. Ngapain juga kita di rumah doank"


" Males gue"


" Ya elah lo... gue juga kalo punya pacar dulu, lo recokin gue gak pernah ngambek"


" Lagian ngapain malem minggu spesial banget sih Dit? Malem minggu itu kan sama seperti malem-malem sebelumnya. Sama-sama gelap..." Rega berbicara dengan nada puitis dan sedikit mengejek.


Radit hanya menyunggingkan senyum sinis nya. Bukannya Radit marah, tapi dia memang sangat merindukan Tari. Hari ini dia sama sekali belum melihat wajahnya, biasanya walaupun sebentar dia bisa memandang wajah kekasihnya. Tapi tadi pagi Tari mengikuti pelatihan, sehingga tidak bisa datang ke sekolah...


Pesan yang di kirim belum juga mendapat kan balesan. Berulang kali dia melihat ponselnya belum ada pesan yang masuk.


Lagi ngapain sih dia ini???


" Ya elah...lo bucin sama siapa sih? gue penasaran sumpah!!!"


" Tu ponsel gak usah lo liatin terus, kalo mang ada yang ngehubungin lo juga pasti bunyi"


Rega berlalu keluar kamar, dan berniat turun ke bawah meninggalkan Radit. Rega berpikir lebih baik berbincang dengan orang tua Radit, daripada melihat wajah jutek sahabatnya.


" Bodo!!!" terdengar teriakan Radit saat Rega melangkangkah kan kakinya menuruni anak tangga.


Rega menggelengkan kepalanya heran.


Dia benar-benar penasaran, siapa????


Siapa yang bisa melelehkan hati si kepala batu itu?

__ADS_1


Banyak pertanyaan muncul di kepala Rega, tapi Rega tidak berusaha mencari tahunya. Biarlah, nanti juga kalau Radit sudah siap cerita, dia pasti akan memberitahunya.


__ADS_2