Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Pilihan 2


__ADS_3

Radit mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Bahkan dia sempat berdiri, sebelum akhirnya dia duduk kembali. Radit tidak percaya apa yang ia dengar dari mulut Tari beberapa menit yang lalu. Dia marah, dia kesal, dia ingin menendang meja di hadapannya. Dan juga mengacak-acak kertas milik para siswa yang masih tersusun rapi di atas meja. Mungkin itu bisa sedikit meredakan emosinya yang melonjak.


" Aku mau putus" Tari mengucapkan kalimat yang langsung menohok ke dalam hati Radit.


Putus!??? putus katanya??? mudah sekali bagi Tari mengucapkan kata itu?? Apa menurutnya dia, Radit tidak begitu berharga, hingga dengan mudahnya Tari membuangnya tanpa memikirkan perasaannya??


" Ambilin aku minum, aku haus" Bodoh!!! Radit mengumpat di dalam hati. Dari ribuan kata, kenapa hanya kalimat itu yang keluar dari mulut nya. Dia ingin membenturkan kepalanya pada dinding. Sungguh,,, Radit tidak bisa berpikir.


Di lihatnya Tari sudah berjalan ke arah dapur, Radit terus saja berpikir.. Bagaimana??? Bagaimana???


Tidak mungkin kan dia berlutut lagi, seperti yang pernah di lakukannya dulu pada Tari. Hal itu mungkin akan berkesan hanya jika di lakukan sekali, jika di lakukan kedua kali mungkin Tari malah akan membencinya. Radit kembali berdiri ,menengok ke arah dapur, takut-takut Tari datang secara tiba-tiba ketika dia belum siapkan kalimatnya dengan benar.


Enak saja dia mau putus denganku, setelah aku terjatuh begitu dalam seperti sekarang, dia malah ingin menguburku sekalian..


Enggak bisa sayang...


Tari datang dengan nampan kecil di tangannya. 2 teh dingin dia letakkan di atas meja. Matanya terlihat memerah, mungkin dia menangis di dapur tadi.


" Kamu minum dulu Dit," Pintanya pada Radit setelah menyodorkan satu gelas dekat dengan kursi tempat Radit duduk. Sedangkan Tari memilih duduk menjauh dari Radit.


" Kamu pikir aku bisa haus jika ada di posisi sekarang!!" Radit agak emosi, terdengar dari suaranya yang sedikit lantang. Dia sudah berusaha untuk sedikit tenang tapi tetap saja tidak bisa.


" Aku akan bilang ke ayah aku gak mau kuliah di Bandung. Biarin aja ayah yang bolak balik Jakarta Bandung buat urusin kantor cabangnya di sana. Dia juga belum tua-tua banget. Ayah juga pasti masih sanggup buat menempuh perjalanan panjang. Aku gak peduli. Yang jelas aku gak mau pisah sama kamu."


" Maksud kamu apa sih Dit??"


Radit tau sifat Tari, dia tidak mungkin membiarkan orang lain menderita apalagi ayahnya.


" Aku gak mau pisah sama kamu"


" Kamu bisa cari wanita lain, lagian hubungan kita juga baru sebentar"


Radit benar-benar marah sekarang. Dia tidak peduli jika ibunya Tari mendengarkan semua teriakannya.


" Sebentar kamu bilang!! jadi waktu yang kamu bilang sebentar itu gak ada artinya sama sekali buat kamu! makanya kamu dengan mudah bilang pengen pisah sama aku, iya???"

__ADS_1


" Kamu tau kan waktu yang sebentar ini sangat berharga buat aku sayang..aku juga sudah bilang dari awal, kamu harus percaya sama aku.."


" Aku gak bisa hubungan jarak jauh kayak gitu Dit, hubungan jarak jauh itu gak mudah, dan aku pernah ngalaminnya. Aku gagal Dit, aku gak mau gagal lagi"


" Kamu jangan paksa aku lagi sekarang"


Tari masuk ke dalam kamar,dia sudah tidak ingin mendengarkan kata-kata Radit lagi. Di tinggalkannya Radit seorang diri di ruang tamu. Ibu keluar dan menemui Radit. Dari tadi ibu di ruang televisi, sedikit banyak dia menangkap perbincangan mereka.


" Kamu pulang dulu ya nak Radit, biar ibu yang berusaha bicara sama dia"


Ibu menceritakan masa lalu Tari bersama Yudi dulu, ibu berharap Radit memaklumi sikap Tari. Radit mengerti dan dia pamit pulang.


*****


Radit memarkirkan mobilnya dengan asal di halaman parkir sekolah. Dia tidak semangat melakukan apapun. Tari tidak menjawab telpon darinya, begitupun dengan puluhan pesan yang Radit kirim. Tidak ada jawaban sama sekali. Rega dan Danu menghampiri Radit, mobil mereka juga baru terparkir dekat dengan kendaraan Radit berada.


Danu teman sekelas Radit, tapi tidak dengan Rega. Rega jurusan IPS, sedangkan Radit dan Danu jurusan IPA. Kelas mereka juga berbeda arah, tapi anehnya Rega malah dengan santainya mengikuti langkah kaki Radit.


" Kelas lo dimana ngapain ngikutin kita..??" ucap Danu dengan seringai ejekannya.


" Mana dem-dem an lo,.. mang ada gitu yang mau sama lo? " seloroh Danu lagi


Radit tidak menanggapi ocehan mereka berdua. Dia meninggalkan mereka yang terus saja berdebat,melangkahkan kaki menuju ke dalam kelasnya.


Tasnya ia lempar ke atas meja, lalu melipat tangganya di atas meja. Kepalanya ia benamkan di atas lipatan tangan itu, lalu ia pun terpejam. Kepalanya pusing, dia hanya tertidur 1 jam saja. Bahkan lingkaran hitam di bawah matanya pun terlihat dengan sangat jelas. Sebenarnya dia malas masuk sekolah, badannya sedikit demam mungkin karena kurang tidur semalam. Tapi dia ingin bertemu dengan Tari.


Hari ini di kelasnya ada jadwal Matematika, jadi dia tidak ingin melewatkan kesempatan bertemu dengan Tari walau kondisi badannya yang lemah. Matanya terus saja terpejam, sampai akhir nya terdengar suara yang sangat dia rindukan.


Radit berusaha menegakkan kepalanya, tapi rasa sakit di kepalanya bertambah parah. Dia bahkan mencengkram dengan erat pegangan kursi yang dia duduki untuk sedikit mengurangi rasa sakit di kepalanya. Penglihatannya memudar, Radit benar-benar sudah tidak kuat. Wajahnya pucat, sangat pucat.


"Dit, lo gak kenapa-kenapa..?" tanya Dino yang juga teman sebangku Radit. Tari yang melihat wajah Radit sangat pucatpun tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya.


Dia segera melangkahkan kakinya menuju meja Radit, dan memegang kepalanya lembut. Radit meletakkan kepalanya di badan Tari, Tari berdiri tepat di sebelah Radit dan mengusap- ngusap lembut kepalanya.


Tari menghentikan tingkahnya, dia sadar dia sedang berada dimana.

__ADS_1


" Dino , alvin, kamu bantu ibu membawa Radit ke ruang kesehatan ya... nanti ibu menyusul setelah membagikan tugas."


" Baik bu"


****


Tari bergegas menuju ruang kesehatan setelah lebih dulu memberikan tugas kepada murid-muridnya. Di sana masih ada Dino dan Alvin. Tari menyuruh mereka kembali ke dalam kelas karena ada tugas yang harus mereka kerjakan.


" Bagaimana na???"


Tanya Tari kepada Nana, perawat yang bekerja di Sekolah ini.


" Kayaknya dia kelelahan, badannya panas banget. Aku aja heran ngapain dia maksa berangkat sekolah"


" Dia pasti udah panas setidaknya dari tadi pagi, dia kan bisa ijin gak bisa masuk sekolah"


" Terus kata Danu juga tadi dia bilang Radit bawa mobil sendiri lagi" Nana kembali duduk di kursi kerjanya dan membuatkan obat untuk Radit.


" Tadi dah aku suntik, kayaknya sekarang dia lagi tidur"


"Oh..." Tari berkata sambil melirik Radit yang tergeletak tak berdaya di ranjang.


" Mana Radit bu Nana, bagaimana keadaanya"


Pak Irwan datang dengan raut cemas. Dia bergegas kemari setelah mendengar bahwa Radit keponakannya di bawa ke ruang kesehatan. Dia menoleh menatap ke arah Tari, Tari tidak mengerti makna dari tatapannya itu.


" Bu, Tari saya bisa minta tolong antarkan Radit pulang ke rumahnya. Saya dengar ibu bisa menyetir dan mempunyai SIM juga"


" Eh...Iya pak. Tidak masalah"


" Saya ada pertemuan hari ini, dan sudah menghubungi keluarganya, sepertinya orang tua Radit sedang ke Bandung jadi tidak bisa menjemputnya kemari"


" Baik pak" Jawab Tari lagi.


" Terima kasih ya bu"

__ADS_1


Sebenarnya Irwan ingin sekali mengantarkan Radit pulang, tapi pertemuan kali ini penting dan tidak bisa dia wakilkan. Tadi dia menelpon Herman, kakaknya. Dan kakaknya menceritakan perihal hubungan Tari dan Radit. Lalu menyuruh Irwan untuk meminta Tari yang mengantarkannya pulang. Tadi dia sempat kaget, tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu. Menurut Irwan itu bukanlah urusannya, ikut campur dalam hubungan mereka. Lagi pula selama ini Tari dan Radit tidak pernah memiliki masalah apapun di sekolah perihal hubungan mereka. Jadi Irwan akan membiarkannya saja.


__ADS_2