Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bab 10 Marah


__ADS_3

Waktu telah berlalu, tadi mereka janjian siang hari tapi nyatanya sekarang sudah menjelang malam.. Seperti inilah jalanan jakarta di jam sibuk, ramainya luar biasa. Apalagi mereka mengendarai mobil, menambah terulurnya waktu mereka.


Ita tidak mengajaknya ke cafe, dia mengendarai mobilnya menuju mall terbesar di pusat kota Jakarta. Tadi tiba-tiba Ronald mengganti tempat pertemuan mereka, dan Ita tidak mempermasalahkannya.


Mobil Ita sudah terparkir rapi di parkiran mall. Tari bergegas turun, dan segera mensejajarkan langkahnya dengan Ita sahabatnya. Waktu kini sudah menunjukkan pukul 6 sore. Kami lalu berjalan memasuki mall dan menuju restoran yang ada di lantai 5 mall tersebut.


" Di sini Ta" Ronald melambaikan tangannya ke arah kami. Ita mengangguk lalu menghampiri mereka. Ya mereka...


Ternyata Ronald tak sendiri, dia bersama seorang pria muda di sebelahnya. Mungkin teman kantor Ronald, pikir Tari...


Tari tak ambil pusing, dia menarik kursi dan duduk di sebelah pria asing tersebut.


Wajahnya sih tampan, sangat tampan malahan. Dia mengenakan setelah jas berwarna abu-abu, sangat indah di pandang mata. Mungkin pekerjaan pria itu tak jauh beda dengan Ronald yang pekerja kantoran.


" Tar, kenalin ini Ronald pacar aku..Dan ini temennya Dimas..Iyakan. ..???" Ita berusaha memperkenalkan Tari senatural mungkin. Dia tidak ingin Tari curiga, bahwa mereka menjodohkannya..


" Tidak apa-apa kan aku bergabung di sini?? aku Dimas temennya Ronald" Dimas mengulurkan tangannya dan Tari juga memperkenalkan dirinya..


Acara makan-makan pun berjalan dengan lancar. Tidak ada yang terlihat mencurigakan awalnya.


Sampai akhirnya dering ponsel Ronald berbunyi,


" Iya aku kesana sekarang...."


Ronald mematikan sambungan telponnya, lalu berkata pamit pulang terlebih dahulu. Dan parahnya lagi, bukan Dimas yang dia bawa pulang,melainkan Ita.


Dan sekarang, Tari dan Dimas masih duduk di restoran karena ada pesanan es krim mereka yang belum di antarkan pelayan restoran. Ronald mengatakan Dimas akan mengantar Tari pulang.. Padahal Tari sudah berusaha menolaknya..


Tari dan Dimas masih menikmati es krim mereka.

__ADS_1


" Kamu mengajar bareng Ita??" Dimas memulai percakapannya. Dia kembali menyendok es krim dan memasukkan ke dalam mulutnya.


" Iya.." Tari hanya menjawab singkat, terlihat sekali dia sedang tidak nyaman. Hal tersebut tidak luput dari perhatian Dimas.


" Kita pulang sekarang bagaimana? " Tari pikir harus segera pulang. Dari tadi ponselnya sudah bergetar terus, pasti Radit mengirim pesan padanya. Tapi dia tidak berani melihat isi pesannya. Biarkan saja nanti dia akan menjelaskan sendiri kalau sudah tiba di rumah.


" Ayo.." Dimas berdiri dan mengajak Tari keluar dari mall.


******


Mobil Dimas sudah berada di halaman rumah Tari. Dimas keluar membukakan pintu mobil penumpang lalu Tari turun setelahnya.


Bertepatan dengan mobil sport hitam juga tiba di sana. Tari membelalakkan matanya, Radit pasti marah padanya.


" Dim,sebaiknya kamu pulang sekarang ya.." Tari berbicara dengan nada memelas. Dia tidak mau membuat keadaan semakin rumit.


Dimas mengerti, dia mengangguk dan pamit undur diri. Dia tidak melihat Radit, karena Radit sengaja tidak turun dari mobil.


" Tadi siapa? Aku telpon gak di angkat, pesan aku juga gak kamu bales!!!"


" Kamu abis jalan sama cowok lain di belakang aku??" Radit benar-benar marah.


Tadinya dia kuatir setengah mati, karena dari sepulang sekolah tadi, dia tidak bisa menghubungi Tari. Dia bahkan menolak ajakan teman-temannya, dan menuju kemari untuk melihat keadaan kekasihnya ini. Tapi apa??? Radit malah memergokinya dengan pria lain.


" Aku gak berdua Dit, tadi ada Ronald dan Ita juga. Tapi mereka pulang duluan jadi aku di anter Dimas"... Tari mencoba menjelaskan agar Radit tidak marah lagi.


" Oh...jadi namanya Dimas..Dimas brengsek!!!"


Radit mengumpat sambil menendang ban mobilnya dengan keras.

__ADS_1


Tari meringis ngilu melihat kecemburuan Radit..


" Kamu kenapa sih, gak usah marah.. Ayok masuk ke rumah.."


Tari menggenggam tangan Radit dan menuntun nya masuk ke dalam rumah. Dia harus mengenalkan Radit pada ibu. Radit yang tangannya di genggam Tari pun sudah mulai tenang, dan masuk ke dalam rumah Tari.


" Tapi aku belum selesai ngomong,"


Tari tidak menjawab ocehan Radit, dia berlalu meninggalkan Radit yang sudah duduk di sofa. Tari ingin segera mandi dan berganti pakaian. Dari tadi sudah merasa kegerahan, dan ia mulai tidak tahan.


" Bu, di depan ada Radit.. Dia pacar Tari bu. Ibu temenin dulu yah. aku pengen mandi dulu bu"


Ibu yang sedang menonton acara tv pun berhenti, dan melirik ke arah Tari.


" Pacar?? kamu punya pacar, kok gak di kenalin dengan ibu"


" Lah ini kan mau di kenalin,..Tari baru pacaran sama Radit kemarin bu.., gih ibu temenin dia dulu ya bu.."


Tari bergegas ke kamar, segera membersihkan dirinya. Tari tidak jadi mandi, dia takut Radit terlalu lama menunggu. Dia hanya berganti baju dan mencuci muka nya saja.


*****


Di ruangan yang kecil terdapat 1 set sofa coklat. Sofa tersebut adalah sofa pembelian Tari dari hasil gaji pertamanya. Rumah yang mereka tempati juga belum lunas, ini rumah KPR yang mencicilnya hingga 15 tahun. Ya beginilah kehidupan Tari. Dahulu sebelum menempati rumah ini, ia dan ibu nya hanya mampu mengontrak rumah saja. Dan sekarang Alhamdulillah sudah memiliki rumah sendiri, walaupun belum lunas. Tari selalu bersyukur, atas apa yang ia miliki sekarang.


Di sofa Single Radit memilih tempat duduknya. Tari mencuri-curi dengar kira-kira apa yang Radit dan ibunya bicarakan. Tari berniat membuatkan teh hangat untuk Radit.


" Oh.jadi kamu muridnya Tari..." Ibu tidak terdengar kaget sama sekali tak sesuai dugaannya. Dia pikir ibu akan memandang remeh Radit karena bisa jadi masih di anggap bocah ingusan oleh ibu.


Tari datang, dengan membawa nampan berisi 3 gelas teh hangat dah 1 buah toples Roti.

__ADS_1


" Ibu masuk dulu ya..., ibu mau lanjutin nonton sinetron.." Ibu tersenyum ke arah Radit. Radit mengangguk sopan. Ibu berlalu serta membawa gelas teh nya menuju ruang televisi.


" Mana ponselmu yang.." Radit meminta ponsel Tari, membuat ia tergagap tidak mengerti. Radit ingin memblokir nomornya Dimas. Dia tidak ingin Dimas berhubungan lagi dengan Tari. Sebagai sesama lelaki dia tahu pandangan Dimas tadi, memang menyukai kekasihnya. Dan Radit jelas tidak suka...


__ADS_2