
Rumah Radit sangat besar, Tari sudah beberapa kali Tari datang ke rumah ini tapi tetap saja Tari masih belum hapal semua ruangan yang ada di sini saking luasnya. Tari berada di taman belakang, ada sebuah gazebo, dan kolam renang yang lumayan besar juga tersedia dekat dengan taman. Berbagai pohon tumbuh dengan subur membuat suasana semakin sejuk. Beberapa bunga juga tumbuh dengan indah.
Tari duduk di sebuah ayunan besi yang ada di sini, dia mengayunkan tubuhnya sendiri, sehingga badannya terayun-ayun ke atas dan ke bawah. Radit bilang akan mandi sebentar, dan ibu tidak bisa menemaninya karena sudah ada janji dengan teman sosialitanya.
Jadilah dia menunggu di sini sendiri, beberapa makanan dan minuman sudah mbok Nah letakkan di gazebo, tapi Tari sama sekali belum menyentuhnya. Matanya menerawang menatap langit yang biru. Dia membiarkan rambutnya yang tergerai tertiup angin, dan wajahnya yang putih terterpa sinar matahari yang sudah terik. Sesekali dia menutup matanya karena silau.
Radit menghampirinya, setelah mencari kesana kemari akhirnya dia menemukan Tari di sini. Dia memegang ayunan dari belakang lalu menariknya perlahan.
" Sayang..."
Radit menghentikan ucapannya sejenak, mencoba memilih kata yang tepat agar Tari mengerti maksud hatinya.
" Nanti ikut ke kantor sebentar ya, ayah nyuruh ke kantor" lagi-lagi Radit tidak jadi mengatakan pertanyaan yang sedari malam tadi selalu mengganggunya. Dia memilih membicarakan hal yang lain. Dia berputar, lalu berjongkok dan menggenggam tangan Tari.
" Aku kan harus ke Bimbel Dit.." Jawab Tari sambil menatap mata Radit yang ada di hadapannya. " Cuma sebentar sayang.."
" Abis itu, aku temenin ke bimbel. Aku tungguin nyampek kamu pulang ya..?"
__ADS_1
" Makanya kita berangkat sekarang, biar gak telat kamu nya.. ya?" pintanya lagi dengan nada memelas.
Sebenarnya Tari merasa sungkan jika harus ke kantor Radit, dia bukan siapa-siapa di sini. Dan penampilannya yang hanya memakai pakaian seadanya ini, sepertinya tidaklah pantas untuk berjalan bersama Radit apalagi menuju ke perusahaan besar milik keluarga Wijaya. Tari sudah tau dari internet betapa terkenalnya perusahaan milik keluarga Radit itu, kadang dia juga minder sendiri. Siapalah dirinya?? hanya butiran debu di padang pasir yang sangat luas.
Bukannya menjawab pertanyaan Radit, Tari malah terbengong sendiri dengan pikiran-pikiran negatif yang berkeliaran di otaknya.
" Sayang..." Radit memeluk Tari yang sedari tadi terdiam di hadapannya, dia tau apa yang sedang Tari pikirkan. Tari sudah berapa kali mengajaknya berpisah hanya karena Radit anak orang kaya. Kalau saja Radit tidak sabar-sabar menghadapi Tari, mungkin mereka sudah berpisah sedari dulu. Dia inget dengan benar, bagaimana dulu dia hanya bisa memandangnya dalam diam dan sekarang dia bisa memeluknya menciumnya dan mendekapnya dengan erat. Di kala ada masalah apapun menimpa hubungannya dengan Tari, sebisa mungkin dia mengalah dan bersabar. Dia sangat mencintai Tari.
Tari tipekal wanita yang terlalu memikirkan omongan orang lain. Sudah berapa kali Radit mengatakan padanya, jangan mendengarkan omongan orang lain. Mereka tidak mengenal kita, untuk apa kita peduli omongan mereka? Tapi wanita tetaplah berpikir dengan perasaannya daripada logika nya. Pernah suatu waktu, Radit harus terpaksa pulang di sela-sela jadwalnya yang padat. Karena Tari mengajaknya berpisah, dia mengajak berpisah tapi menangis meraung-raung tiada henti. Radit yang sedang berada di Bandung pun tidak bisa konsentrasi dari pekerjaan apalagi kuliahnya dan memilih menemui Tari.
****
" Aku tunggu di mobil aja ya?" pintanya tanpa ingin bergeser dari jok mobil Radit.
Radit menoleh sekilas, lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil terlebih dahulu. Dia berputar lalu membuka pintu mobil sebelah yang di tempati Tari. Memasukkan kepalanya, melepaskan sabuk pengaman yang masih terpasang di tubuhnya.
Tari cemberut, karena permintaannya tidak di turuti oleh Radit. Dia keluar sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Radit hanya tersenyum, menanggapi kelakuan Tari.
__ADS_1
Dia meraih tangan Tari, dan meletakkannya di lengannya yang kokoh. " Tunggu di ruangan aku aja.." Radit berjalan sambil menepuk-nepuk punggung tangan Tari yang bertengker di lengannya. Senyum merekah terus terukir di bibir Radit. Beberapa karyawan menyapa dengan hormat saat berpapasan dengan mereka. Suara bisik- bisik dari karyawan wanita yang sampai terdengar di telinga Tari. Tari secara spontan melepaskan tangannya, dia merasa canggung dan malu menjadi perhatian banyak orang.
" Kamu malu, jalan sama aku....?"
Sumpah demi apa, Tari ingin menbenturkan kepala Radit di dinding. Mana ada dia malu!? Yang ada, Raditlah yang harusnya malu karena mengajak wanita yang jauh dari kata keren bersamanya ke masuk ke dalam perusahaan ini. Harusnya dia yang malu, karena sudah memilih Tari sebagai pacarnya. Nyali Tari menciut, di saat karyawan mungkin dengan jabatan biasa saja, tapi penampilan mereka sangatlah luar biasa. Semua memiliki badan yang bagus, dan memakai pakaian yang terlihat mahal dan berkelas. Tidak seperti dirinya?
Tari menundukkan pandangannya di kala mereka sudah tiba di depan lift, dan menunggu pintu lift terbuka. Roman menghampiri mereka, dan menyapa Tari dan Radit.
" Eh mbak Tari ikut juga?"
Tari menengakkan tubuhnya dan menatap Roman. Dia hanya menganggukkan kepalanya saja, males menjawab pertanyaan dari Roman.
" Pak, Pak Wijaya sudah menunggu di Ruang meeting., mari saya antar"
" Aku antar Tari dulu ke ruanganku ya, kamu tolong minta sekertaris Milka untuk membawa makanan dan minuman buat Tari" Ucap Radit memerintah.
Roman yang memang bertempat tinggal di Bandung itu sengaja dia ajak ke Jakarta. Dan ketika di tanya soal kepindahannya itu, dengan sigap Roman menjawab sanggup di pindahkan kemanapun yang Radit inginkan. Dia sudah cocok dengan Roman, bahkan Roman sudah mengerti apa yang harus ia lakukan tanpa harus repot-repot menjelaskan. Radit tidak telaten jika harus bekerja dengan orang yang baru, dia harus mengajari lagi dari awal. Makanya dia membawa Roman bersama dengannya. Radit bahkan sudah menyewakan sebuah apartemen untuknya tinggal di jakarta dan tentunya di potong dari sebagian gajinya. Dan Roman menyetujui saja.
__ADS_1