
Waktu terus berganti, jam di dinding terus berputar mengikuti porosnya. Hari, bulan, berganti dengan tahun. Kali ini sudah saatnya kuliah yang di jalani Radit selama hampir 4thn selesai sudah. Minggu depan adalah acara wisudanya, ia sengaja mengambil liburan dan pulang ke Jakarta kali ini. Dia juga akan segera mengambil alih pekerjaannya yang di Jakarta, jadi dia hanya tinggal serah terima saja sisa-sisanya pekerjaannya yang belum ia selesaikan selagi masih di cabang Bandung.
Ia merebahkan dirinya di kasur empuk di dalam kamarnya. Matanya belum bisa terpejam, padahal waktu sudah hampir tengah malam. Obrolan iseng-iseng nya dengan Rega tadi masih membayangi pikirannya, berputar-putar terus di otaknya. Membuat dirinya tidak bisa terlelap.
" Lo kapan nikahin Tari, ntar keburu di ambil orang bari tau rasa lo.." Rega membicarakan hal tersebut tanpa berpikir, padahal yang di ajaknya mengobrol tampak berpikir keras. Tari tidak pernah sekalipun membahas tentang pernikahan dengannya, mungkin dia memang masih santai. Itu yang di pikirkan Radit selama ini, toh usia Tari masih 26 tahun. Masih muda bagi Radit tentunya.
Tari juga tau, selama ini dia sangat mencintainya, Cinta Radit pada Tari tidak sekedar kata saja, bahkan apapun akan Radit lakukan jika demi wanita yang bernama Tari. Sungguh, Tari harusnya merasakan betapa besar dan dalamnya Radit terjatuh padanya.
Tidak perlukan dia bilang suatu hari nanti pasti dia akan menikahi Tari. Tari pasti mengerti kan??? iya kan???
Radit berguling lagi di atas kasur, dia bener-bener frustasi. Apa dia harus bertanya saja, bagaimana pendapat Tari? Apa dia ingin segera menikah? Radit tidak masalah, jika memang Tari ingin segera menikah. Dia akan dengan senang hati menikahinya.
Radit memutuskan menghubungi kekasihnya itu lewat sambungan telpon, dia tidak bisa sabar jika dia harus menunggu hingga esok hari.
" Sayang..dah tidur ya? aku ganggu kamu sayang"
Radit mencoba mengutarakan isi hatinya. Tapi dia bingung harus mulai dari mana. Yang ada dia hanya terdiam, tanpa bicara apapun.. Dia berpikir lebih baik tidak menanyakan saat ini. Dia akan menyelesaikannya sendiri. Radit hanya mengajaknya mengobrol hingga ia mengantuk.
__ADS_1
****
Tari mengendarai sepeda motornya menuju ke kediaman rumah Radit. Hari ini dia tidak ada jadwal mengajar, hanya ada jadwal les saja nanti sore. Dia memutuskan untuk mampir ke rumah Radit terlebih dahulu, sebelum ia berangkat bekerja. Waktu masih menunjukan pukul 10 pagi, tadi malam setelah menghubunginya di tengah malam buta, Tari merasa ada yang menganggu di pikiran kekasihnya itu, Tapi Radit tidak ingin memberitahukan kepadanya.
Mang Ujang membukakan pintu gerbang saat melihat sepeda motor Tari bersiap memasuki pelataran rumah megah, milik keluarga Wijaya. Tari sudah terbiasa keluar masuk rumah Radit, hubungannya bersama Radit sudah terjalin lebih dari 4 tahun lamanya. Waktu yang cukup lama memang, baik Tari maupun Radit sangat menghargai setiap waktu yang mereka lewati bersama. Sekalipun pernah terpisah jarak, tapi cinta yang di miliki keduanya tidak pernah pudar.
Tari membuka kaca helmnya saat sepeda motornya melewati mang Ujang, Ia tersenyum ramah saat pria paruh baya itu menyapanya. Mang Ujang mengambil alih sepeda motor Tari, dan menyuruh nona nya itu langsung saja masuk ke dalam rumah.
Lalu dia pun melajukan sepeda motor ke garasi yang berada di sebelah bangunan megah itu.
Tari mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ingin di temuinya, tapi sayang orang itu sama sekali tak terlihat di sini.
" Radit belum bangun Tari, tadi ibu dah bangunin untuk sarapan tapi dia bilang masih ngantuk. Ya sudah, ibu tinggal aja" jawab ibu menjelaskan.
Ibu menuju ke dalam menyuruh mbok Nah membuatkan minuman dan camilan untuk mereka berdua. Tari sudah mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Selama bertamu ke rumah Radit, Tari selalu di ajak menuju ruang keluarga. Tari sudah di anggap bagian keluarga Wijaya, kedua orang tua Radit sangat menyayangi Tari. Tari sangat bersyukur, ia bisa di terima dengan sangat baik di sini.
" Sayang..kamu dah disini." Radit tergesa-gesa menuruni anak tangga. Suara tawa Tari terdengar sampai ke dalam kamarnya, membuat dia terbangun dan segera turun menemui Tari. Radit hanya mencuci mukanya saja, dan menggosok gigi tanpa mandi terlebih dahulu. Dia ingin memastikan benar apa tidak ada Tari di sini.
__ADS_1
Ibu dan Tari menoleh ke arah Radit, meneliti penampilan Radit yang acak-acakan, dia bahkan masih mengenakan piyama tidurnya.
Radit mencium kening Tari lalu duduk di sebelahnya. Memeluk Tari dengan manja tanpa melihat keberadaan ibu yang ada di ruangan yang sama dengan mereka.
Kepalanya bahkan sudah ia letakkan di bahu Tari, membuat ibu menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.
Tari ingin beringsut dan menggeser tubuhnya, tapi Radit malah memeluknya lebih erat.
" Radit, ada ibu..."
Radit menengadahkan kepalanya ke arah Tari lalu menoleh ke arah ibunya.
" Dasar anak nakal" ucap ibu sambil memukul kepala anaknya dengan sayang.
" Ibu mau di peluk juga..?" Radit pindah mendekati ibunya lalu tanpa malu memeluk ibunya sama seperti memeluk Tari tadi.
Tari hanya tersenyum melihat kelakuan pria yang di hadapannya itu. Ibu juga tidak berhenti tertawa, sambil menghempaskan tangan Radit supaya melepaskan pelukannya.
__ADS_1