
" Gimana laki kamu?" Tari berbicara setelah menyesap jus jeruk di hadapannya. Ronald dan Ita sudah menikah. Bahkan sekarang Ita sedang hamil 7 bulan. Mereka berdua sedang berada di cafe di sebuah mall. Eh tidak berdua deng, tapi bertiga. Karena Radit dengan setia terus saja mengekori Tari.
Sudah lama semenjak pertemuan terakhir Tari bersama Ita. Karena Ronald melarang Ita untuk mengajar, jadi mereka berdua jarang bertemu.
Tari dengan antusias menemui sahabatnya, padahal jelas-jelas Radit memasang wajah tidak suka. Tari sedang berada di kediaman Wijaya saat Ita mengajaknya bertemu. Dia meminta Tari menemaninya berbelanja di mall deket dengan rumah Ita. Radit sudah memberi kode, agar Tari menolak ajakan sahabatnya itu.Tapi tanpa pikir panjang, Tari malah langsung menerimanya.
Besok Radit kembali ke Bandung, Radit tidak ingin melewatkan waktu yang singkat ini dengan sia-sia. Di waktu liburnya ini, dia selalu ingin bersama dengan Tari. Tapi lihatlah perempuan itu, malah senang akan meninggalkannya.
Akhirnya Radit memutuskan untuk menemani saja kemanapun Tari pergi.
Dan dia jadi terdampar di sini, duduk menikmati kopinya sambil memandangi wajah kekasihnya. Kakinya lelah, dia keluar masuk toko untuk mencari barang yang di butuhkan Ita. Tidak lupa, beberapa kantong belanjaan pun ia yang membawakan nya.
" kemana sih bu Ronald, kok gak ngikut lo.." Radit sekarang sudah biasa berbicara santai dengan Ita, layaknya berbicara dengan Alvin dan Rega saja. Semenjak hubungannya dengan Tari terbongkar, mereka sering kumpul-kumpul bareng. Jadi tidak ada lagi rasa canggung bagi Radit.
Yang di ajak bicara hanya dia saja, terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan lahap. Padahal dua orang di hadapannya sedang menunggu jawaban darinya. Tapi Ita terlalu asyik dengan makanan yang ia nikmati.
" Males jalan sama Ronald Dit, dia suka ngomel kalo aku belanjanya lama-lama"
" Makanya mending sama Tari aja deh"
Ita berbicara tanpa memandang ke arah Radit, hingga Radit menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Aku ganggu kalian ya...??"
__ADS_1
Ita menengadahkan kepalanya lalu menatap dua orang di depannya.
" Itu lo tau bu" jawab Radit cepat.
" Gak deng Ta, aku seneng ketemu kamu. Kita kan dah lama banget gak ketemu. Lagian kamu tinggalnya jauh banget sih... "
Semenjak menikah, Ita dan Ronald membeli rumah yang dekat dengan kantor Ronald. Letaknya cukup jauh dari rumah Tari maupun sekolah. Tari hanya pernah sekali melihat rumahnya, saat mereka mengadakan pesta pindahan rumah. Itupun dengan Radit tentunya. Jika dia bilang ingin menemui Ita ke rumah nya, Radit selalu melarangnya. Dia tidak ingin Tari berkendara dengan sepeda motor terlalu lama.
" Lagian ngapain kamu ngikutin kita sih Dit, enakan juga sama Tari aja deh tadi...."
Belum Radit menjawab, ia melihat Ronald menghampiri meja mereka.
Ronald menarik kursi yang ada di sebelah Ita lalu mendudukkan tubuhnya disana.
" Tau tuh mas, Tari di buntutin mulu. Takut ilang kayaknya."
" Kalo takut ilang, buruan di kawinin Dit... Gak usah lama-lama pacarannya, ntar gak jadi loh"
Radit diam tak menjawab omongan Ronald, dia mulai berpikir tentang kelanjutan hubungannya bersama Tari. Iya Radit masih muda, tapi tidak dengan Tari. Teman-teman Tari sudah banyak yang menikah bahkan mungkin sudah memiliki anak, sama seperti Ita. Kalau soal materi Radit tidak perlu khawatir, dia sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Dia tidak akan menyusahkan kedua orang tuanya. Kuliahnya juga gampang, dia masih bisa kuliah walaupun sudah menikah. Tapi kerjaan dan kuliahnya berada di Bandung.? Itu yang selalu jadi bahan pertimbangan Radit. Setidaknya dia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu, sebelum ia meminta ayah memindahkan dirinya ke perusahaan yang ada di Jakarta.
Dia tidak ingin menyuruh Tari mengikutinya ke Bandung jika ia menikah sekarang, Radit tahu, Tari sangat menyukai mengajar di sekolahnya. Dan keluarga satu-satunya yang miliki juga ada di sini.
Radit juga tidak ingin, jika sudah menikah harus berjauhan dari Tari. Bisa gila dia...?? Dia ingin terus berada di samping Tari, memejamkan mata di samping Tari dan terbangun juga di samping Tari.
__ADS_1
Dia harus bersabar, setidaknya setahun lagi.
" Laki laen kan banyak ya Tar...?" kelakar dari Ita membuat Radit menghentikan lamunannya.
" Gak bisa" Suara Radit lantang bahkan sekarang dia sudah berdiri saking kagetnya mendengar apa yang Ita ucapkan.
Sikap dari Radit akhirnya membuat ketiga nya tertawa dengan kencang.
Tari menarik lengan Radit dan membawanya duduk kembali.
****
Di dalam kamar, Radit masih memikirkan Tari. Selama ini Tari tidak pernah sekalipun membahas tentang pernikahan dengannya.
Apa dia tidak ingin menikah dengan ku?
Atau dia merasa aku masih seperti anak-anak?
Ah....Radit mengacak-acak rambutnya kesal.
Melihat Ronald dan Ita tadi bersama, membuat Radit membayangkan seperti apa jika ia hidup bersama dengan Tari.
Apalagi jika Tari hamil, pasti bahagia.. Tapi setahun begitu lama. . .
__ADS_1