Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Memaafkan


__ADS_3

Siang hari ini terasa semakin panas, seharusnya Radit segera menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Tapi nyatanya otak dan pikirannya sedang tidak sejalan, daritadi dia mencoba menghubungi Tari, tapi gadisnya itu tidak juga menjawabnya. Makan siang yang sedari tadi di bawakan oleh Roman, masih saja tergeletak di meja kerjanya. Tak ada keinginan Radit untuk menyentuhnya, sekalipun perutnya sudah meminta untuk di isi.


Dia bahkan tidak berselera makan, pikirannya bercabang, memikirkan kira-kira sedang apa Tari sehingga tidak bisa menjawab panggilannya. Apalagi mengingat kejadian semalam, Radit benar-benar di landa kekhawariran.


Radit baru inget menghubungi ibu Rani, ibunya Tari. Otak jika sedang gelisah, kadang memang tidak bisa berfikir jernih. Dia mencari kontak ibu Rani di ponselnya lalu menekan tombol hijau yang ada di ponselnya. Sampai dering yang ketiga, barulah panggilannya tersambung. Radit menghela nafas lega.


" Bu, Tari tidak memegang ponselnya ya? dari tadi Radit hubungin gak di angkat?" jelas Radit di ujung ponselnya.


Ibu menjelaskan jika hari ini Tari memutuskan untuk menemui ayahnya di rumah sakit. Sekarang mereka masih di rumah sakit. Radit lega mendengar keputusan Tari. Walau bagaimanapun, nyatanya Tari memang merindukan sosok ayah. Apalagi saat ini, ayahnya sedang sakit.


Radit menutup telponnya, lalu mengambil bungkusan nasi yang sudah di siapkan Roman. Ini bukan lagi makan siang, karena jelas-jelas waktu sudah menunjukan pukul 3 sore.


Radit segera makan, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


****


" Tunggu, nanti aku jemput" Radit mengetikkan pesan singkat pada Tari karena dia akan menjemputnya di rumah sakit. Padahal kerjaan dia masih menumpuk, tapi Radit tetap ingin menjemputnya. Apalagi jika bukan karena dia sudah menjadi budak cinta Tari. Kalau saja Rega tau, pasti dia akan menertawakannya.


" Gak usah, aku tau kamu sibuk. Aku bisa pulang sendiri naik taksi Dit..."


Radit langsung menekan kontak dengan nama " Sayangku" pada ponselnya. Nama itu tidak pernah dia rubah dari pertama kali mereka berpacaran.


Pesan singkat yang baru saja di baca membuat emosinya meningkat dengan cepat. Kenapa sih wanita itu tidak menurut saja apa yang prianya katakan? Tinggal bilang "iya " saja kok kayaknya susah sekali. Suka sekali membantah, dan membuat emosi.


" hallo sayang.." suara lembut Tari terdengar di ujung speaker ponselnya. Mendadak rasa kesalnya hilang menguap entah kemana, ketika terdengar kata sayang keluar dari mulut sang pujaan hati.

__ADS_1


"Iya sayang,,, nanti aku jalan jam 7 ya dari kantor. Kamu tunggu di sana jangan pulang sendiri"


"kalo kamu sibuk, aku bisa naik taksi kok. ak__"


Belum sempat Tari melanjutkan ucapannya, Radit sudah memotongnya.


"Aku bilang tunggu ya tunggu. Kamu nurut aja kenapa sih yang..??"


Nada bicara Radit semakin tinggi. Membuat nyali Tari menciut dan tidak bisa membantah lagi. Dia hanya mengiyakan apapun yang Radit inginkan. Tidak ingin berdebat lagi.


****


Radit sudah berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Sudah tidak ada yang bisa di pending lagi. Semua nya harus selesai hari ini juga. Dia melirik sekilas alroji mahal yang melingkar di tangannya. Sudah pukul 7.15 malam.. Radit sudah terlambat menjemput Tari dari waktu yang sudah dia janjikan, dia melirik Roman yang berada di ruang kerjanya sedari tadi. Roman memang membantunya menyelesaikan pekerjaannya.


Roman hanya melirik tajam pada bosnya itu. Dia tau, tidak ada kata sebentar jika berurusan dengan Tari.


" Gak percaya gue, elo cuma bentar pak?"


Tetap dengan sorot mata tajamnya, Roman mengintimidasi Radit dengan tatapan sinis.


" Bener, elo gak percayaan banget sih, gue dah telat nih..gue jalan dulu ya.."


Tanpa menunggu jawaban dari Roman, assisten sekaligus sahabatnya itu, Radit langsung melesat menuju parkiran mobil. Dan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Tari berada.


Tak memakan waktu lama, akhirnya dia tiba di rumah sakit. Tari tadi sudah mengirim pesan padanya jika ayahnya ada di ruangan VVIP rumah sakit ini. Radit segera menuju ruangan itu.

__ADS_1


Tari sudah berada di luar ruangan saat Radit tiba. Ibu Rani juga masih setia menunggu di sana, ada Raka dan juga gadis remaja yang mungkin adiknya Raka yang waktu itu sempat di ceritakan oleh Raka padanya. Radit masuk ke ruangan VVIP itu, dan melihat ayah Tari terbaring di ranjang rumah sakit.


Dia tersenyum saat Radit menghampirinya. Suaranya seakan tertahan, hanya lambaian tangan yang mencoba meraih tangan kekar Radit. Untuk berbicara saja, ayah Tari sudah kesulitan. Radit berjalan mendekat ke arah ranjang dan menggenggam tangan rapuh yang ada di hadapannya. Tidak ada kalimat yang muncul dari bibir ayah, hanya cengkraman tangan yang di rasakan Radit semakin kuat. Radit hanya menepuk-nepuk pelan punggung tangan ayah, dan membisikkan kata di telinganya semoga lekas sembuh.


****


" Kita pulang sekarang ya sayang, aku harus balik ke kantor lagi soalnya"


Radit menggenggam tangan Tari dan mengajaknya pulang terlebih dahulu. Ibu Rani memutuskan untuk tetap tinggal bersama Raka dan Cecil adiknya. Sedangkan Tari besok harus mengajar pagi, jadi ibu menyuruhnya untuk istirahat saja di rumah.


Radit melirik Cecil yang menempel terus di samping ibu. Padahal mereka baru saja bertemu, tapi sudah seperti anak dan ibu sungguhan.


" Cecil di tinggal ibunya saat dia masih kecil, terus ayahnya sakit jadi dia hanya di asuh oleh kak Raka saja, jadi seperti itu dari tadi sikapnya menempel terus pada ibu" Tari memulai ceritanya saat Radit sudah melajukan mobil membelah jalanan ibukota yang selalu saja padat.


" Kok ayahnya sih sayang, kan ayah kamu juga"


Tari menoleh ke arah Radit sekilas, lalu memilih melihat keluar jendela mobil. Terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari bibirnya.


" Aku gak nyangka aja masih punya ayah, disaat umurku sudah 28 tahun. Aku baru tau kalo ayah masih hidup. Bingung, kecewa , bahagia dan sedih.. " ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya kaca jendela.


" Kita ke kantor aku aja ya sayang?, aku gak bisa ninggalin kamu di rumah sendirian"


" Tapi banyak laporan yang harus aku siapin malam ini, jadi gak bisa nemenin kamu..kamu aja yang nemenin aku kerja ya?"


Tari menoleh ke arahnya, lalu menganggukan kepalanya tanda setuju.

__ADS_1


__ADS_2