Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Ujian Sekolah


__ADS_3

Ujian sekolah SMA di mulai hari ini. Semalam Tari melarang Radit berkunjung ke rumahnya, dia meminta Radit belajar saja di rumah mempersiapkan ujian dengan baik.


Radit mengemudikan kendaraannya, melaju membelah jalanan ibu kota yang selalu saja padat. Dia memasang headset di telinganya sambil menekan tombol deal setelah kontak kekasihnya tertera di depan layar ponselnya.


Tidak menunggu lama, panggilanya segera di jawab oleh Tari.


Sayang, aku mau mampir sebentar ke rumah ya... sebentar aja, ini juga masih pagi. masih ada waktu juga kan ya???


Radit sudah membelokkan mobilnya ke arah rumah Tari. Dia berniat mampir sebentar untuk melihat kekasihnya. Hari ini Tari menjadi pengawas ujian di SMA lain sehingga Radit pasti tidak bisa melihatnya nanti. Oleh sebab itu, Radit sengaja berangkat lebih pagi agar memiliki waktu untuk sekedar melihat wajah kekasihnya sebelum dia berangkat menuju sekolah. Radit kan mau berperang, jadi dia membutuhkan semangat yang besar. Dan semangatnya itu adalah Tari tentunya.


Iya tapi sebentar aja ya.


nanti kamu terlambat.


Kamu keluar geh, aku udah sampe di depan ini..


Radit mematikan ponselnya, dan melepaskan headset di telinganya lalu meletakkannya kembali ke dalam dasbor mobil. Dia membuka pintu lalu keluar dan menutup pintu mobilnya kembali. Berdiri di samping pintu mobil, sambil menyenderkan tubuhnya menunggu Tari keluar.


" Kok cepet banget, udah sampek di sini aja" Ucap Tari sambil berjalan tergesa-gesa menuju mobil. Menghampiri Radit yang sudah menunggunya di depan.


" Masuk yuk, sarapan dulu..." Tari mengajak Radit sarapan karena sekarang masih pukul 6.20 menit. Ujian di mulai pukul 8 pagi, masih ada cukup waktu bagi mereka berdua.


" Aku dah makan sayang, aku cuma mau liat kamu aja kok bentar"


" Kenapa gak aku anterin aja sih ke sana nya kan jauh,...?"


Semalam Radit sudah bilang ingin mengantar Tari ke sekolah tempat dia mengawas ujian. Tapi Tari bersikeras menolaknya. Radit juga harus berangkat pagi, dia juga peserta ujian dan tidak boleh terlambat.


Tapi Radit khawatir karena Tari harus mengendarai sepeda motor dengan jarak yang cukup jauh...


" Kok gak bareng bu Ita sih, kalo bareng bu Ita kan setidaknya kamu bisa naek mobil bareng sama dia.."


" Aku bilang paman Irwan aja ya, biar dia bisa ganti tempat kamu. Aku minta dia biar kamu bareng sama Bu Ita ngawasnya" Radit benar-benar khawatir..

__ADS_1


Sekolah yang jadi tempat Tari mengawas ujian terletak di ujung kota mereka berada. Harus mengendarai setidaknya 1 jam untuk tiba di tempat itu. Cukup jauh kan???


" Sudahlah Radit, aku udah biasa..kamu gak usah khawatir. Aku juga pernah kok mengendarai motor selama 3 jam. " Tari berusaha menenangkan Radit.


Radit ini memang rada rewel jika menyangkut Tari. Pada masa awal-awal hubungan mereka, Tari sempat risih dengan perhatian Radit yang menurut Tari terlalu berlebihan.. Tapi semakin kesini, Tari lebih menikmatinya.


Radit masih saja melipat bibirnya ke dalam, dia masih kesal dengan keadaan ini. Tari memegang tangan Radit dan mengecup pipi Radit dengan cepat. Radit kaget dengan tingkah spontan Tari. Hal ini adalah pertama kalinya, Tari berinisiatif mencium Radit lebih dulu. Biasanya segala sentuhan atau apapun itu di dalam hubungan mereka, selalu Radit yang memulainya lebih dulu. Dia tidak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.


Radit memegang bekas pipi yang di kecup oleh Tari tadi, lalu dia pun mengecup kening Tari dan menyuruhnya berhati-hati dalam perjalanan.


Setelah motor kekasihnya menghilang dari pandangan matanya, baru dia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraanya kembali menuju ke sekolah.


*****


Radit sudah menyelesaikan ujian sekolahnya dengan baik. Ujian Sekolah di laksanakan seminggu, dan selama seminggu itu pula dia tidak bisa menemui Tari.


Tari terlalu sibuk akhir-akhir ini, aktifitas nya bertambah padat setelah dia memiliki pekerjaan tambahan sebagai guru pembimbing belajar di sebuah bimbel terkemuka di Jakarta. Setelah mengajar dia hanya singgah di rumahnya sebentar, untuk beristirahat. Lalu dia melanjutkan kembali menuju ke sebuah bimbel tempat dia mengajar.


Tari merogoh tas punggung yang ia pegang di tangannya, mengambil ponselnya yang sudah berdering sedari tadi.


Radit...Nama yang tertera di layar ponsel itu.


Hall... belum sempat Tari mengucapkan kata hallo Radit sudah memotong omongannya.


Sayang ,kamu dimana?? dah pulang belom?


Terdengar nada bicara Radit sangat khawatir.


Aku masih di sini , ujannya deres banget Dit. Aku belom bisa pulang...


*Tunggu aku, aku lagi di jalan menuju kesana. Kamu ada temennya gak,? gak sendirian kan?


Tapi motor aku gimana*??

__ADS_1


Radit kesal Tari masih saja memikirkan motornya. Bukannya dia memikirkan keadaannya. Radit juga sebenarnya ingin marah, kenapa dia tidak menghubungi Radit meminta Radit menjemputnya. Sudah tau hujan deres banget, kenapa dia ngotot menunggu sendirian...!!!


Radit juga tidak suka dengan cewek yang manja, tapi Tari ini berlebihan sekali. Dia kelewat mandiri menurut Radit. Radit juga tidak suka. Dia ingin menjadi pria yang di butuhkan oleh Tari. Dia ingin Tari bergantung padanya. Tapi Tari tetaplah Tari... Radit harus sadar jika memang dia mencintai dan menyayangi Tari, dia harus menerima segala sifat Tari. Entah itu positif ataupun negatif..


Kan bisa di taruh di situ dulu, besok kita ambil..dah aku lagi di jalan.


Ucap Radit tanpa embel-embel panggilan sayang seperti biasanya.


****


Kok dia diem aja sih, apa dia marah???


Mungkin aku nyusahin dia karena harus jemput aku sejauh ini...


Tari tetap terdiam tanpa mengeluarkan suara. Dari tadi raut muka Radit tak bisa di baca olehnya. Dia takut salah bicara lalu membuat mereka bertengkar. Radit sebentar lagi berangkat ke Bandung. Tari tidak ingin ada pertengkaran di hari-hari terakhir mereka. Hari ini juga pertama kalinya mereka bertemu, setelah Radit menyelesaikan ujian sekolahnya.


Tari menautkan kedua tangannya, meletakkan di atas pangkuannya. Pandangannya lurus kedepan, dia tidak ingin beradu pandang dengan mata Radit yang terlihat kesal. Sekedar menoleh pun Tari tidak berani.


Mobil Radit terhenti karena terhalang lampu lalu lintas di depan yang berwarna merah.


Hujan masih mengguyur dengan derasnya. Membuat jalanan yang biasanya ramai karena weekend pun mendadak lenggang. Sudah setengah jam mereka saling diam.


" Kenapa kamu gak menghubungi aku Tarii???


Tari??? dia benar-benar marah. panggilan sayang yang biasanya Radit ucapkan pun hilang entah kemana. Tari meremas ujung roknya, dia bingung....


Radit tidak pernah marah, selama ini selalu saja Tari yang marah dan Radit lah yang selalu mengalah padanya. Tapi kali ini keadaan berubah sebaliknya.


" Aku pikir hujannya gak akan lama, jadi aku bisa nunggu sebentar???" Tari mulai beralasan..


" Kamu tuh emang gak pernah nganggap aku pacar kamu ya...aku tau kamu bisa melakukannya sendiri,,tapi kamu tu punya aku!!!" suara Radit sangat lantang, dia benar-benar mengeluarkan emosinya kali ini.


Lampu di depan sudah kembali hijau, Radit melajukan mobilnya dengan kencang. Sedangkan Tari hanya terdiam. Matanya menunduk..tak kuasa menjawab pertanyaan Radit. Karena semua yang di katakan Radit adalah kebenaran.

__ADS_1


__ADS_2