
Acara wisuda yang di nantikan Radit pun tiba, rombongan keluarga Raditpun sudah menempati aula kampus semenjak pukul 10 pagi tadi. 4 tahun mengenyam pendidikan, dengan jerih payah pengorbanan akhirnya terbayar sudah. Radit rela meninggalkan orang tua dan kekasihnya, bahkan dia belajar sambil mengerjakan tugas dari sang ayah membuatnya bangga pada dirinya sendiri. Akhirnya dia berhasil.
Ada Tari dan juga keluarga di sisinya membuat Radit tidak bisa menyembunyikan aura kebahagiaannya. Mereka kompak menggunakan pakaian berwarna senada yaitu kuning keemasan. Mang Ujang yang ikut beserta rombongan pun memakai baju yang sama yang di kenakan Radit dan juga ayahnya. Keluarga mereka tidak pernah membeda-bedakan status seseorang.
Pakaian ini sudah ibunya persiapkan jauh-jauh hari untuk hari bersejarah putranya.
Dia terlihat lebih antusias ketimbang sang ayah yang memiliki sifat pendiam. Sama seperti Radit. Tapi Radit lebih sering tersenyum, apalagi semenjak memiliki Tari.
Mereka duduk di deretan baris yang sama, dengan Radit duduk di sebelah Tari. Tari terlihat sangat cantik, memakai kebaya yang serupa dengan kedua ibu mereka, rambut di sanggul modern dan memakai make up lebih dari biasanya. Dia duduk dengan manis di sebelah kekasihnya.
Setelah hampir 2 jam, akhirnya acara wisuda pun berjalan dengan lancar. Karena waktu sudah siang, mereka memutuskan untuk mencari makanan terlebih dahulu. Setelah istrahat sebentar, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke Jakarta kembali.
****
Di sebuah restoran yang berada di pusat kota Bandung, mereka memesan hidangan favorit masing-masing. Tidak ada yang janggal di restoran ini, Tari yang memang sudah sangat lapar, melahap makanannya dengan antusias. Pengunjung juga sangat ramai, apalagi memang saat ini adalah waktunya jam makan siang. Hampir semua meja sudah ada yang memakainya.
__ADS_1
Namun, saat Tari menyeruput jus nya tiba-tiba pelayan datang dan memberikan mawar sebuket mawar mewah yang sangat besar. Pelayan berikutnya juga datang, dengan mendorong kereta dorong yang berisikan cake yang sangat cantik. Lalu meletakkannya di atas meja.
Tari terdiam menatap bunga yang dia pegang, matanya beralih ke arah Radit yang berada di sampingnya. Dia bertanya " ada apa??"
Sebenarnya Radit ingin melakukannya pas makan malam nanti dengan suasana malam yang lebih romantis di iringi alunan musik yang sahdu, namun tadi Roman menghubunginya ada masalah darurat di kantor jadi mau tidak mau ia harus segera kembali ke Jakarta. Tidak ada waktu lagi, dan Radit pun dengan terpaksa melakukan lamarannya siang ini. Roman bahkan sudah lebih dulu meninggalkan kota Bandung.
Dia berdiri lalu menarik kursinya agar menjauh. Di raihnya kotak cincin yang berada di saku jas yang ia kenakan, dia berlutut sama persis seperti 4 tahun lalu dia mengajak Tari pacaran dulu. Tari kaget, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tidak tau harus bersikap apa dengan tindakan Radit yang ada di hadapannya sekarang ini. Radit tetaplah Radit. Dari dulu dia mengenalnya, pemuda ini masih tetap saja sama. Selalu bersikap dengan gentle dan terkesan terburu-buru.
"Sayang..sudah berapa tahun kita lewati. banyak kesulitan yang kita hadapi hingga mencapai titik ini. Tapi aku bisa, karena kau bersama ku. Mungkin...di depan akan ada kesulitan yang lebih besar lagi, tapi aku bisa asal kamu selalu bersamaku. Maukah kamu menjadi istri ku? Aku mungkin bukan yang terbaik, tapi aku akan berusaha jadi lebih baik setiap harinya. agar kamu bisa bahagia."
"Sayang...bisa gak jawabnya cepet...aku capek loh.. "ucapan Radit yang seperti itu, jelas membuat orang tua mereka tertawa.
" Iya aku mau"
Radit tersenyum puas akhirnya rencana nya berhasil, dia mengangkat tubuhnya lalu meraih tangan kekasihnya itu. Di sematkan nya cincin putih bertahtakan berlian kecil di tengahnya, cincin itu pas di jari manis Tari. Dia lalu menyerahkan cincin yang ukurannya lebih besar, agar Tari juga melalukan hal yang sama. Menyematkan cincin itu di jari manis Radit. Mang Ujang yang sedang berada bersama mereka menjadi juru foto kali ini, pertama dia memfoto Tari dan Radit berdua yang sedang memasangkan cincin mereka. lalu beberapa pose lainnya yang sedang memamerkan cincin mereka berdua di kedua jari manis masing-masing. Setelah itu, barulah foto bersama keluarga mereka.
__ADS_1
****
Mobil Radit tiba di pelataran rumah Tari, setelah mengantar kedua orang tuanya terlebih dahulu. Tapi ada mobil lain di sana. Radit segera turun dari mobil, di susul dengan Tari dan juga ibu. Pria muda yang berada di dalam mobil sedan hitam itu pun ikut keluar dan menatap intens Tari dan Ibu. Tari melirik ibu, seakan bertanya siapa yang ada di depan mereka.
Raka...Raka Bumi Putra. Putra tertua dari Rafa Adi Putra. Parasnya sangat tampan mewarisi gen sang ayah, tapi sikapnya lembut lebih condong terhadap sang ibu.
Sudah beberapa tahun ini dia mencari keberadaan adik tirinya Senja, dia agak kesulitan karena sang ayah hanya mengetahui namanya saja. Terlebih foto Senja yang ayah miliki , adalah foto sewaktu ia masih kecil. Tapi wajah wanita di samping Senja, membuat Raka yakin bahwa orang yang ada di hadapannya adalah benar orang yang sedang dia cari selama ini.
Terlahir dari kedua orang tua yang penuh kasih sayang, Raka tumbuh menjadi pemuda yang lembut. Sikap yang ayah ajarkan serta tunjukan padanya, menjadi cerminan Raka hingga menjadi pribadi yang seperti ini. Sang ayah adalah idola bagi Raka.
Keluarganya termasuk keluarga yang bahagia, memiliki harta melimpah serta mempunyai putra dan juga putri, seharusnya menjadi tolak ukur keluarga yang " bahagia " bagi seorang Raka.
Tapi memang benar apa kata Tuhan, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Petaka yang tiba-tiba datang menghampiri keluarga bahagianya hingga menjadi penyebab kematian ibu tercintanya.
Sang ayah yang menjadi idola serta panutan telah menghancurkan hati Raka. Jika dari awal ayah memilih menyembunyikan mereka, seharusnya ayah menyembunyikannya hingga akhir. Sampai akhir hayat ayah, harusnya tetap merahasiakannya.
__ADS_1