Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bab 8 Berkunjung Dadakan


__ADS_3

******


Rosa tersenyum sangat manis, dia tau anaknya akan membawa gadis itu. Gadis yang selalu saja di ceritakan padanya. Rosa bahkan menyemangati putranya untuk lebih berani.


Tadi siang Radit sudah menghubunginya, akan menemui gadis itu di cafe. Radit juga bilang, jika dia berhasil, dia akan langsung membawanya kemari. Bertemu dirinya...


Dan sepertinya putra ku berhasil...


Rosa berjalan ke arah mereka, senyum mengambang di kedua pipi nya. Dia sangat bahagia ..


" Sore Tante...." Tari menyapa dengan sangat canggung. Dia berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan kesalahan di hari pertama pertemuan mereka..


" Sore...kemari nak..." Rosa sudah lebih dulu mengambil alih tangan Tari dan membawanya duduk di sofa..


Radit pun ikut nimbrung dan menempel tidak jauh dari tempat Tari duduk.


" Ih ngapain kesini sih... udah sana naek ke atas. Mandi, kamu bau banget tau gak.. untung Tari masih mau deket-deket sama kamu.. kamu juga masih pakai seragam sekolah"


" Nanti ya bu" Radit malah cengengesan..


" Gak nanti-nanti..."


Akhirnya dengan berat hati, Radit melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, meninggal dua perempuan cantik yang sangat ia sayangi.


Ini juga seperti mimpi untuk Radit. Dia memuji keberaniannya kali ini. Dulu hanya memandang diam-diam, sekarang menggenggam, bahkan memeluk Tari dengan sesuka hati.


Darimana datangnya keberanian ini? Akhirnya aku sekarang bisa mendapatkan nya. Wanita yang selama ini hanya hadir di dalam angan-angan nya saja.


Setelah membersihkan diri, Radit segera turun ke bawah. Dia menggunakan pakaian santai kali ini. Sebuah kaos putih dari brand ternama, di padukan dengan celana pendek hitam. Sungguh sangat tampan.


Tapi kemana mereka??


Di sofa sudah tidak ada siapa-siapa dimana?


Kemana ibunya membawa Tari??


Radit berjalan ke arah dapur, sepertinya mereka di sana.


Radit mendengar sekilas suara gelak tawa ibunya dari arah dapur.


" Bu..."


Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Radit pikir harus segera membawa Tari pulang, Radit tidak mau membuat ibu Tari khawatir.

__ADS_1


" Kalian di sini rupa nya"


Benar saja tebakan Radit, ibunya langsung akrab dengan Tari. Terlihat sekali Tari sudah tidak canggung lagi, tidak seperti tadi ,waktu mereka baru saja tiba.


" Sayang, ayok aku antar pulang, ini sudah malam,.." Radit merangkul Tari dari samping.


Tari yang di panggil sayang tiba-tiba limbung, kakinya bahkan seperti tidak menapak di lantai. Baru sehari hubungannya dengan Radit, tapi mereka sudah melangkah ke tahap yang jauh seperti ini. Dan bocah sialan itu, bahkan tidak canggung sedikit pun. Sedangkan bagi Tari, dia seperti ingin pingsan. Badannya lemas....


" Loh kok udah pulang, ibu belum ngobrol banyak Dit..." ibu merengut seperti anak kecil yang marah ketika maenannya di ambil.


" Dia sudah lama keluar rumah bu, Radit akan sering-sering ajak Tari kesini.."


Tari pamit pada Tante Rosa dan berjanji akan kembali lagi nanti. Tante rosa orang yang sangat baik. Mereka berbincang selayaknya teman.


" Kami pulang dulu ya tan, lain kali Tari kesini lagi.." Tari memeluk tante Rosa dan mencium kedua pipi nya


Rosa mengantar mereka sampai ke depan rumah. Tari melirik motornya yang sudah di parkir di halaman Radit.


Dia melirik Radit,


" Mana kunci motorku, aku pulang naek motor saja. Kamu tidak perlu mengantarku."


Tari berpikir lebih baik pulang menggunakan motor nya saja kan.? Lagian besok dia pergi mengajar naek apa, jika motornya di tinggal lagi di sini.


" Bu, Radit anterin Tari pulang dulu yah... Assalamuallaikum...."


" Wallaikumsalam, hati- hati di jalan nak.."


******


Mobil sudah melaju kencang membelah jalanan ibu kota yang tidak pernah sepi, berbaur dengan kendaraan lain yang lalu lalang. Tidak ada yang bersuara, Tari terdiam dengan kegugupannya, sedangkan Radit hanya berkonsentrasi menyetir, sambil sesekali tersenyum ke arah Tari.


Alunan musik pop klasik di putar di dalam mobil, membuat suasana tidak terlalu hening.


Tari terus saja berkutat dengan pikirannya. Seakan dia membuat skenario panjang ala-ala drama korea yang sering dia tonton, memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Radit. Benarkah yang iya lakukan sekarang??? Bahkan dia sudah bertemu calon mertua. Apa...calon mertua bukankah terlalu berlebihan..!!! Tari ingin sekali memukul kepalanya yang berpikir dengan sangat lamban. Ia bahkan sudah mulai menyesali keputusannya.


" Ada apa, ada yang mau kamu bicarakan?" Radit memulai percakapan setelah melihat se daritadi Tari hanya diam.


" Aku hanya memikirkan apakah yang aku lakukan ini benar??"


" Dan tunggu Radit, kenapa kamu tidak memanggilku Ibu? Kamu bahkan tidak canggung sama sekali"


" Ini pasti karena kamu sering melakukannya terhadap pacar-pacar kamu dulu kan? "

__ADS_1


Tari terus saja berbicara, dan arah pembicaraannya sangat di pahami oleh Radit.


Memang beginilah sifat perempuan, selalu menafsirkan sendiri.


Radit tersenyum, sebelum akhirnya menjawab..


" Masak harus manggil "ibu"sama pacar sendiri, ini juga kan bukan di sekolah.. Aku harap kamu tidak lupa, aku ini siapa?" Radit sengaja menekankan setiap katanya.


Radit tidak menjawab perkara mantan pacar itu, membuat Tari menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Radit tersenyum melihat tingkah Tari. Dia senang melihat sisi lain dari Tari.


Radit meraih tangan Tari, mencium lembut punggung tangannya. Tari membelalakkan matanya, tidak percaya apa yang di lakukan oleh Radit.


" Radit, kamu masih menyetir, jangan seperti ini nanti kita tidak sampai ke rumah." Tari berusaha melepas genggaman Radit..


" Aku sudah biasa menyetir dengan tangan sebelah, semakin hari kamu akan semakin mengagumiku.." Radit menyombongkan dirinya sendiri. Sedangkan ucapan itu malah menjadi bumerang bagi Radit. Karena pikiran Tari malah mengarah ke hal yang lainnya.


" Jadi kamu sering melakukan hal seperti ini dengan pacar-pacarmu dulu!!!" Tari kesal, sekarang dengan sekuat tenaga dia berusaha agar terlepas dari genggaman Radit. Dan berhasil...


Radit menepikan kembali mobilnya di pinggir jalan, dia tau perbincangan ini akan sangat panjang dan menguras pikirannya. Dia harus berkonsentrasi memilih-milih kata agar Tari tidak menyimpulkan sendiri lagi.


"Sayang..aku cuma punya 1 mantan pacar, itupun wktu masih SMP dulu.. Apa pacaran waktu SMP bisa di katakan cinta? Sepertinya tidak kan?"


" Aku diam-diam menyukaimu sejak kelas XI dulu. Aku tidak berpacaran dengan siapapun semenjak SMA ini. Kalau tidak percaya tanya sama IBU? Aku hubungin ibu sekarang ya..?"


Radit merogoh saku celana jeansnya dan mengeluarkan benda padat pipih itu, guna menghubungi ibunya.


Belum sempat dia menekan tombol deal, Tari sudah merebut ponsel Radit dan menyimpan kembali di dasbor mobil.


" Tidak perlu seperti itu, aku percaya padamu," Tari mulai memberanikan diri merebahkan kepalanya di bahu Radit. Ini keberanian datang darimana.? Mungkin dia sudah mulai tertular dari Radit. Dia merasa nyaman bersama Radit.. Dia tidak akan memikirkan bagaimana besok, dia ingin bahagia walaupun hari ini saja.


Ibu...seperti inikah rasanya??? Tari memandang jalanan panjang dengan tatapan bahagia.


Radit mengelus pucuk kepala Tari dengan lembut, dia bahagia Tari akhirnya menjadi miliknya sekarang.


" Radit, orang bilang sesuatu yang instan itu tidak akan bertahan lama" Tari mulai lagi berbicara setelah Radit kembali melajukan mobilnya. Kepalanya masih ia rebahkan d bahu Radit. Dia bergumam dengan pelan, tapi Radit masih bisa mendengar apa yang ia katakan..


" Cintaku padamu tidak instan Tari, aku sudah mengumpulkan keberanianku. Aku harap kamu mengerti.." Radit berkata sambil mengecup puncak kepalanya.


Radit tau,banyak yang Tari pikirkan tentang hubungan mereka. Radit Ingin Tari percaya padanya..


" Aku tau ini tidak mudah, tapi aku akan berjuang. Kamu cukup ada di sampingku,"


Senyum tersungging di wajah Tari, dia mengeratkan pelukannya tanpa menjawab perkataan Radit...

__ADS_1


__ADS_2