Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Kegalauan Radit


__ADS_3

Radit menggenggam tangan Tari, saat mereka berdua melewati lorong rumah sakit. Tadi Raka menelpon jika Ayah mereka sudah di pindahkan ke ruang inap kembali pasca operasi. Setelah memilih cincin pernikahan mereka, Radit mengantarkan kekasihnya kembali ke rumah sakit. Tari tidak di perbolehkan bekerja hari ini, jadi Radit langsung mengantarkannya kemari.


Ruang VVIP tempat Rafa di rawat, terlihat ibu yang setia mendampingi ayah. Ayah sudah siuman tadi pagi, namun keadaannya masih tetap harus di pantau selama beberapa hari ke depan. Tidak terlihat Raka ataupun Cecil disana, mungkin keduanya tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Radit menyapa Ibu dan Ayah Tari lalu pamit ke kantor. Karena setelah makan siang, ada pertemuan penting dengan klien. Daritadi Roman sudah terus-terusan menerornya, untuk segera menuju kantor. Radit kadang berpikir, siapa sebenarnya bos di sini. Karena Roman selalu saja memerintahnya.


Radit mengecup kening kekasihnya, kala Tari mengantarnya sampai masuk ke dalam mobil.


" Nanti kalau udah beres, aku langsung kesini lagi ya..jangan lupa makan, tadi kan belum sempet makan."


" Iya Dit.."


" Kamu gak bisa apa yank jangan panggil nama gitu, gak romantis banget kamu tuh" Radit gemes sampai mencubit hidung Tari.


" Terus manggil apa? masak manggil Mas, kan kamu lebih muda."


" Lebih muda juga, aku ini kan suami kamu Yank. Kepala rumah tangga. Yang harus kamu hormati"


" Iya..iya Mas Sayang.."


Radit tersenyum mendengar ucapan Tari. Dia mengecup keningnya sekali lagi lalu masuk ke dalam mobil.


****


Di Kantor Wijaya, Roman sedang mondar mandir di ruangan Radit. Harusnya Radit sudah tiba sedari tadi. Ada beberapa yang harus ia pelajari, sebelum mempresentasikan proposalnya terhadap klien mereka nanti. Tapi nyatanya, sudah hampir tiba waktu pertemuan mereka, Radit belum juga kelihatan batang hidungnya.


Jika bukan atasan, rasanya Roman ingin sekali menonjok wajahnya.


Radit masuk dengan senyum merekah, berbeda dengan Roman yang sedari tadi memandangnya dengan muka yang merah padam karena kesal.


" Lo tuh bisa tepat waktu gak si bro, bisa gak sih lo gak bikin gue panik?"


" Ngapain lo panik Man, kan yang presentasi gue. Kok lo yang gugup.? Aneh lo ni. Makanya punya pacar Man, biar Lo gak uring-uringan terus"

__ADS_1


Roman mencebik kesal. Bagaimana ia mau punya pacar, jika dia selalu sibuk dengan urusan bosnya yang gak tau diri ini. Mulai dari urusan kantor maupun urusan pribadi.


Dan asal kalian tau saja, Radit ini pemimpin yang tidak bisa memisahkan urusan pribadinya. Tari no 1 baginya, Dia bisa saja langsung menghilang dari pertemuan penting, jika ada masalah dengan Tari tunangannya. Jika sudah begitu, pasti Roman lah yang terkena getahnya.


" Iya gue tau Lo yang presentasi, tapi kan yang bikin proposal nya gue, Lo emang dah pelajarin. Ni dah jam berapa? Mang lo sempet baca, Semalem Lo sibuk blaem-blaem sama Tari Lo" Roman terus saja mengoceh dengan kesal.


Roman ingat, semalem di kala mereka sedang melakukan panggilan video guna membahas tentang proposal ini, dengan tidak tau dirinya, bosnya ini malah pamer kemesraan, sedang berada di kasur yang sama. Dan Tari sedang berbaring disana. Walaupun muka Tari tertutup selimut, tapi Roman masih bisa melihat rambut panjangnya yang terurai. Mengingat lagi tentang hal semalem, membuat Roman bertambah kesal.


Radit bener-bener gak ngerti perasaan gue.


" Lo kan yang ngetik doank Man, idenya kan tetep dari gue. Dah, Lo ngambek mulu, gue jodohin juga Lo sama Milka."


" Ogah gue,ma nenek lampir kayak dia. Mending gue jomblo seumur hidup gue"


" Ati-ati Lo kalo ngomong "


" Bodo, ayok jalan." Roman melangkahkan kakinya terlebih dahulu, meninggalkan Radit yang masih berdiri di tempatnya. Liat kan? Siapa sebenernya bos di sini.


" Kami keluar meeting dulu Milka, kalo ada yang mendesak hubungi ponsel Roman saja. Oke."


" Baik Pak".


Roman langsung mengambil alih kemudi, dan Radit dengan manis duduk di sebelahnya.


Sok manis. ujar Roman di dalam hati.


****


Meeting kali ini berjalan cukup lancar, tidak membutuhkan waktu lama bagi Radit agar bisa membuat klien di hadapannya puas dengan presentasi yang dia sampaikan. Penyampaian yang tidak berbelit-belit langsung pada fokusnya, membuat klien Radit kali ini puas dengan kinerjanya. Yup, bukan hanya kinerjanya saja, tapi juga kinerja Roman yang selalu berada di belakangnya.


Proyek besar pun akan di dapatkan Radit. Cukup bahagia, tapi cukup bingung juga. Masalahnya, dengan di terimannya kerjasama ini, dia akan sibuk sekali. Bahkan mungkin beberapa kali harus pergi keluar kota.

__ADS_1


Kliennya ini adalah perusahaan dari kalimantan. Mau tidak mau, dia harus melakukan kunjungan lapangan langsung.


Radit meminta Roman mengantarkannya ke rumah sakit. Tari masih menunggunya di sana, dia tidak ingin kembali ke kantor. Kepalanya sudah sangat pusing. Dia memejamkan matanya, tapi juga tidak tertidur. Roman masih menyetir dengan diam di balik kemudinya.


" Dapet proyek gede kok malah kayak gak semangat gitu pak?"


Roman memulai percakapannya, setelah di lihatnya si bos nya itu membuka matanya.


Radit hanya menoleh sekilas, tanpa ingin menjawab pertanyaan Roman.


Dia hanya memejamkan matanya kembali, sambil mengurut keningnya sekali-kali.


" Emang harus gue gitu yang ke Kalimantan? Gak bisa Lo aja ya Man?"


Dia masih ingat perbincangannya dengan pak Chandra, klien nya tadi. Yang mengharuskan dirinya melakukan kunjungan langsung ke perusahaannya yang berada di Kalimantan, guna meninjau bahan baku yang memang berasal dari sana.


" Lo aja yang jalan ya Man, gue gak mau ninggalin Tari?" bujuknya lagi.


" Lah kan tadi pak Chandra mintanya Lo langsung pak, kayaknya gak sopan aja gitu kalo malah gue yang berangkat. Itu sih menurut pendapat gue ya? Ya gue mah gak masalah kalo cuma ke Kalimantan doank. Lagian kan paling lama cuma seminggu doang pak. Tari juga pasti gak keberatan Lo tinggal bentar, dia mah pengertian banget orangnya. Lo bener-bener pak.! Gak bisa ngomong apa-apa lagi gue!"


" Cih..gak bisa ngomong apa-apa kate Lo? tapi itu mulut nyerocos aja kayak ibu-ibu komplek.!"


Roman terkekeh mendengar celotehan sahabat sekaligus bos nya itu.


" Kita jalan Senen depan pak, sesuai intruksi pak Chandra tadi. "


" Seminggu lagi donk Man?"


" Iya pak, lagian pas jadwal Lo kosong. Ada beberapa, tapi masih bisa di pending"


Radit tidak ingin menjawab lagi. Dia kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2