
Radit memarkirkan kendaraannya di parkiran sebuah taman. Setelah 1 jam lebih perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah taman yang nampak asri. Pepohonan menjulang tinggi menghiasai setiap sisi jalan taman tersebut. Di tambah lagi berbagai macam warna bunga juga tertanam rapi menambah kesan indah pada taman tersebut.
Radit menggenggam erat tangan Tari, dan membawanya ke warung tenda bubur ayam yang ada di sekitar taman itu.
Tadi Tari bilang ingin sarapan bubur ayam, maka dari itu Radit membawanya kemari. Setelah memesan 2 mangkuk bubur ayam dan 2 gelas teh manis hangat Radit berjalan ke arah Tari.
Tari sangat cantik hari ini, dia memakai celana olahraga berwarna hitam dan memakai kaos putih polos. Tidak lupa, Tari juga memakai topi putih menutupi rambut hitamnya yang panjang.
Rambutnya ia ikat ke belakang, menampakkan leher putihnya yang jengjang.
Orang yang baru mengenal mereka pasti tidak akan pernah menyangka jika Tari lebih tua 4 tahun darinya.
Tak membutuhkan waktu lama, bubur ayam pesenan mereka pun tiba. Tari melahap buburnya sampai habis. Begitupun dengan Radit, mereka pergi setelah Radit memberikan selembar 50ribuan pada pedangan bubur tersebut.
****
" Sayang, ayo dong"
Radit menoleh kebelakang dan menghentikan langkahnya. Padahal dia tidak sedang berlari, tapi Tari sudah tertinggal jauh darinya.
" Aku capek, kamu ngapain sih ngajakin aku lari pagi begini"
" Besok- besok aku gak mau ikut lagi"
Radit lalu menghampiri Tari di belakangnya dan menggenggam tangannya erat. Kini mereka jalan-jalan pagi, bukan lagi lari pagi.
" Iya besok gak lari lagi sayang..."
" Ini di minum dulu"
Radit membukakan tutup botol air mineralnya dan memberikannya pada Tari. Badan Tari penuh keringat, bahkan napas nya pun terlihat ngos ngosan.
Radit terkekeh melihatnya. Dia meraih handuk kecil d lehernya lalu menyapukannya di wajah Tari.
Tari masih kesal,dia sengaja menginjak sepatu Radit dengan kakinya.
" Sakit sayang----"
Radit mengeluarkan ponselnya yang berdering lalu menekan tombol deal di layar ponselnya.
Rega nama yang tertera disana.
" Wow kampret.., pagi-pagi dah minggat kemana lo.. gila lo ya, gua di tinggalin sendirian disini. parah banget lo jadi temen."
Rega mengoceh di sebrang telpon, tapi Radit tidak terlalu menanggapinya.
" Gua lagi sama sayangnya gue. Lo tunggu aja sarapan dulu, gua juga gak lama"
" Gak lama palak lo peang, gak mungkin lo ma pacar lo gak lama- lama. Ya udah gua mau balik aja lah."
" Gua minjem kaos ma jaket lo ya...???"
__ADS_1
Ini bukan meminta ijin, lebih tepatnya pemberitahuan. Karena Radit yakin, Rega sudah memakai barang-barangnya sebelum meminta ijin darinya.
Hal ini sudah biasa bagi mereka berdua..
" Dah di pake baru minta ijin lo, pinter banget lo..anak sapa lo..hah.."
" Ya udah gua tutup dulu, bye.."
Radit memutuskan sambungan telponnya secara sepihak, membuat Rega menggerutu kesal di ujung sana.
Dia kembali membawa Tari berjalan sejajar dengannya, sambil tangannya membawa botol air mineral yang di minum Tari. Mereka memutuskan untuk kembali pulang karena hari sudah menjelang siang..
" Kak Radit....."
Suara panggilan memanggil nama Radit membuat langkah mereka terhenti. Tari menoleh ke arah sumber suara.
Ada 2 orang gadis cantik di sana, tatapan mereka sinis memperhatikan penampilan Tari. Sorot matanya seakan menelanjangi Tari, mereka menatap dari atas hingga ke bawah berulang kali seolah tidak percaya sosok seperti Tari berjalan berdampingan dengan wajah tampan Radit.
" Aku pikir salah liat tadi, eh gak tau nya bener kak Radit.. mas lupa sama aku..aku melda kak, anaknya mamah olive..."
Mendengar nama olive di sebut membuat Radit sadar siapa yang ada di hadapannya sekarang.
Tante Olive itu adalah teman ibunya. Tante Olive sering bertandang ke rumah dan tentu saja si gadis yang bernama Melda itu juga ikiut serta. Tapi hanya beberapa kali saja, dan Radit pun tak pernah mengingat perempuan ini.
" Oh tante Olive.."
" Aku mau jalan pulang, kamu baru datang atau bagaimana???"
Melda malah ingin di antar pulang, karena mereka tadi ke taman menggunakan taxi online. Radit tidak bisa menolaknya, alhasil mereka berempat sudah berada di dalam mobil Radit.
" Rumah mu dimana?" Radit bertanya pada Melda karena dia mau menyetel alamat rumah Melda di GPS mobilnya.
" Kak Radit anterin Kak Tari aja duluan soalnya rumah kita searah kak.."
Tari yang mendengarkan obrolan mereka hanya diam tak menanggapinya.
" Kita anterin Melda dulu gak papa kan sayang" Radit menggenggam tangan Tari.
Radit tau, Tari merasa tidak nyaman dengan kehadiran Melda. Radit tidak mau Tari berpikir yang tidak-tidak.
" Kok kak Radit anterin Melda dulu sih??? nanti kakak capek loh bolak- balik"
Melda protes setelah mendengar ucapan Radit pada Tari. Sebenarnya dia sengaja menyuruh Radit mengantarkan Tari terlebih dahulu, agar dia bisa berduaan dengan Radit di dalam mobil.
Melda sudah menyukai Radit saat pertemuan pertama mereka dulu. Waktu itu mamahnya mengajak dia bertamu ke salah satu teman mamahnya, yaitu ibunya Radit.
Radit memakai setelan basket dengan badannya masih bercucuran keringat. Radit menaiki anak tangga menuju kamarnya saat Melda bertamu ke rumahnya. Dari situ Melda meyakini dia sudah jatuh cinta pada Radit.
Dan sekarang laki-laki yang di sukai nya itu malah terlihat menggenggam tangan perempuan lain. Melda mengepalkan tangannya.
" Gak papa bolak balik, aku malah suka lebih lama sama pacar aku"
__ADS_1
" Iya kan sayang"
" Terserah kamu aja lah" Tari menjawab dengan asal.
***
" Kak, makasih ya udah di anterin pulang" Melda sengaja mengetuk jendela pintu Radit agar leluasa berbicara padanya.
" Iya, sama-sama.."
" Kak Tari, aku boleh kan minta nomor ponsel kak Radit. Aku baru di jakarta, kalo ada apa-apa aku kan bisa nelpon kak Radit"
" Loh kok malah tanya sama aku, tanya ma Radit nya lah..."
" Dari dulu aku dah minta, tapi gak pernah dia kasih.. tu kan kak, sama kak Tari aja boleh..."
Melda menyodorkan ponselnya menyerahkan pada Radit, agar Radit mau menyimpan nomor ponsel dia di ponsel Melda.
Akhirnya dengan sangat terpaksa dia menekan nomor ponselnya dan menyerahkannya kembali ke tangan Melda...
" Ya udah, aku balik dulu ya..."
Radit kembali melajukan kendaraannya..
Dia tidak menyadari suasana hati orang yang duduk di sebelahnya seperti apa. Dia hanya fokus pada jalanan dan kendaraan di depannya.
" Kamu tuh kenapa sih ngasih nomor ponselmu sama cewek itu???"
Tari sudah tidak tahan lagi untuk bertanya, pertanyaan ini dari tadi sudah mengganggunya.
" Kan kata kamu boleh tadi, kan dia nanya kamu bukan nanya aku?? kok jadi marah??"
" Kalo aku bilang boleh tuh belum tentu artinya boleh!!!"
" Kalo aku bilang gak boleh, belum tentu juga artinya gak boleh!!! kamu gak ngerti sih"
Radit makin bingung dengan jawaban Tari, maksudnya apa boleh belum tentu boleh, Gak boleh belum tentu gak boleh.
" Maksudnya gimana sih sayang, iya aku gak ngerti. Makanya di jelasin geehh"
Radit mencoba berkata dengan lembut agar tidak menyulut emosi Tari kembali.
" Kita jarang loh jalan berdua gini, kamu jangan marah ya.. aku juga cuma nyimpen nomornya aja, gak akan aku hubungin juga kok"
Tari masih saja diam. Dia masih kesal dengan Radit. Sekedar berbicara juga sudah malas.
" Sayang jangan diem aja dong, aku blokir aja ya nomornya,?"
Radit merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel dan berniat memblokir nomor Melda yang sudah tersimpan di kontak ponselnya.
" Jangan.." Tari berteriak mengagetkan Radit. Dia bahkan hampir menjatuhkan ponsel di tangannya saking kagetnya..
__ADS_1