
Radit benar-benar tidak mengerti dengan sikap Tari. Tadi dia marah karena menyimpan kontak Melda. Sekarang, giliran Radit akan menghapus nomer ponsel Melda di kontak ponselnya, dia juga melarang.
Radit kembali memegang ponselnya erat, dia mendekap ponsel ke dalam dada bidangnya. Takut terjatuh lagi, pikir Radit di dalam hati. Tari berteriak kencang membuat Radit terkaget.
" Kenapa lagi sih sayang.... Aku bener-bener bingung deh. sumpah...!!!"
Radit menatap Tari penuh sayang berharap Tari tidak lagi memperpanjang masalah ini dan mood nya kembali membaik.
" Kamu mau blokir nomor dia, nanti kalo Melda ngasih tau mamahnya gimana?? Nanti mamahnya komplain ke ibu kamu! Gimana???"
Tari menjelaskan alasannya kepada Radit. Kesadarannya sudah kembali, untuk apa dia marah-marah seperti ini pada Radit. Dia sangat tahu bagaimana perasaan Radit terhadapnya. Radit tidak hanya berkata-kata, Dia tidak hanya sekedar berjanji, tapi dia juga selalu menunjukkan cinta dan kasih sayang pada Tari dengan perbuatan dan tingkah lakunya. Tari merasakan cinta Radit dengan sangat jelas.
Untuk apa dia cemburu atau takut???
" Maafin aku Radit, aku tadi----"
Belum sempat Tari menyelesaikan ucapannya, Radit sudah mengecup bibir Tari sekilas. Manik mata Tari membelalak dengan perlakuan Radit padanya.
" Radit kamu lagi menyetir lho, gak usah aneh-aneh deh" Tari mencoba menunjukan sikap biasa saja di hadapan Radit, padahal denyut jantungnya seakan meledak. Seharusnya di usianya yang hampir 23 tahun ini, sikap Tari tidak begini. Seharusnya dia lebih berwibawa, dewasa, dan bijaksana. Ini bukan roman picisan anak baru gede. Namun berpacaran dengan Radit membuat dia bersikap layaknya ABG.
Tari menghela nafas panjang.
" Aku kangen lho sayang.. Seminggu lagi ujian habis itu kita pasti jarang ketemu.."
" Besok aku juga gak bisa dateng ke sekolah. Aku ada urusan di kampus sayang. Aku keterima test di kampus pilihan kamu kemaren itu sayang. Terus aku di suruh datang buat tanda tangan katanya."
" Kamu jangan ngelayap terus, harus belajar bener-bener Dit. Jangan maen-maen"
Tari memberi nasehat kepada Radit. Dia tau Radit murid yang pintar, tapi Radit selalu menyepelekan pelajaran di sekolah.
Ada anak yang pintar karena rajin belajar, ada yang tidak pintar-pintar walaupun dia giat belajar, tapi Radit bukanlah tipe keduanya. Radit pintar bukan karena belajar, tapi dia pintar karena memang pintar. Ya seperti itulah Radit menurut penilaian Tari selama menjadi guru Radit.
" Jangan sampai gak lulus loh" Ancam nya lagi
" Iya sayang..."
__ADS_1
*****
Pukul 7 pagi di sekolah SMA N 68 jakarta. Terlihat para siswa sudah mulai berdatangan dan menuju kelas mereka masing-masing. Masih ada waktu sekitar 15 menit lagi sebelum bel pelajaran pertama berbunyi.
Sambil menunggu bel pertama berbunyi, Ada beberapa siswa yang menuju ke kantin di pojok sekolah, ada juga yang memilih pergi ke perpustakaan dan lebih banyak lagi yang memilih mengobrol dengan siswa yang lain. Ada juga sebagian siswa yang berebut mengerjakan pekerjaan rumah mereka di ruangan kelas, yang sengaja tidak mereka kerjakan di rumah masing-masing. Entah sibuk atau apa?? ada saja berbagai macam alasan mereka. Begitulah suasana sekolah di pagi hari.
Tari melenggangkan kakinya menyusuri setiap lorong menuju arah ruang guru. Dari halaman parkir menuju ruang guru, dia harus melewati beberapa kelas. Sekolah ini memang sangat luas, jika orang yang bukan warga sekolah pasti akan tersesat jika berada di sekolah ini, saking luasnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, matanya sekilas melihat sosok seperti mirip Radit yang masuk menuju ruang kepala sekolah.
Bukannya dia akan pergi ke kampus? Benarkah itu dia, atau aku salah lihat.
Tari berpikir di dalam hati. Dia ingin melihat lebih dekat, dia berniat menuju ruang kepala sekolah untuk melihat lebih jelas. Belum sempat kakinya melangkah, Ita sudah menyapanya dari belakang...
" Pagi Bu Tari..." Senyumnya mengembang seindah mentari pagi hari ini.
" Cerah banget tumben, ada kabar gembira apa nih?" bukannya balik menyapanya Tari malah memberikan pertanyaan lagi.
" Gak ada apa-apa.. cuma lagi seneng aja."
" Ayuk bentar lagi bel" Ita menggandeng lengan Tari lalu berjalan beriring menuju ruang guru.
Mendadak langkah Tari berhenti, dia kaget dengan informasi yang Ita ucapkan. Bukannya Radit kemaren bilang padanya dia akan kuliah di Jakarta. Untuk apa dia menyuruh Tari memilih kampus untuknya, Jika dia memiliki pilihannya sendiri. Tapi apa yang di ucapkan Ita kan belum tentu benar. Ita juga tau pasti dari sekedar " Katanya saja". Tari berusaha tidak terpengaruh dan memilih melangkahkan kakinya kembali tanpa menanggapi ucapan Ita.
" Ternyata yah, Radit itu anaknya temen papah aku. Dia punya bisnis gitu di Bandung. Jadi nyuruh Radit kuliah di sana sekalian ngurusin cabang bisnis di sana"
" Kamu tau gak, denger-denger Radit tuh dah punya pacar. aku sempet liat posting foto berdua sama pacarnya. ih tapi sebel, foto ceweknya tuh di ambil dari arah belakang gitu" Ita terlihat antusias sekali jika membicarakan masalah orang lain.
" Ngapain ngebahas Radit sih Ta. " Tari berucap sambil duduk di meja kerjanya.
" Bukan urusan kita juga" Lanjutnya lagi sambil merapikan beberapa kertas ujian para siswa yang belum selesai dia koreksi. Tari berpikir akan mulai mengoreksi kertas ujian para siswanya sebelum dia memulai mengajar nanti. Dia baru akan mengajar jam pelajaran ketiga dan keempat masih ada waktu sekitar 1 jam 30 menit lagi sebelum waktunya. Tapi ucapan Ita membuatnya tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Dia ingin segera menghubungi Radit dan menanyakan perihal kebenaran ini. Tapi Ita terus saja di sampingnya.
Bahkan Ita sengaja menarik kursi kerjanya dan menggeretnya hingga bersebelahan dengan kursi Tari. Dia seperti berniat sekali menggosipkan Radit pagi ini. Bagaimana jika Ita tau perihal wanita yang ada di foto itu adalah dirinya. Tari tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi dari Ita nanti.
" Iya memang bukan urusan kita juga sih Tar, tapi tadi aku sempet liat Radit di ruangan kepala sekolah. Jadi aku teringat obrolan sama papah tadi malem."
Tari terdiam, dia tidak menanggapi ucapan Tari. Di otaknya timbul banyak pertanyaan.
__ADS_1
Benarkah Radit akan ke Bandung?
Lalu bagaimana dengan hubungan mereka?
Kenapa Radit tidak memberitaunya lebih awal?
Kenapa dia harus tau dari orang lain?
Tari mendadak berdiri membuat Ita yang ada di sampingnya menggeser kursinya dengan pelan.
" Mau kemana??" tanya Ita heran..
" Aku ke kamar mandi bentar ya"
****
Tari mengeluarkan ponselnya , dia mencoba menghubungi Radit di kamar mandi. Seperti inilah nasib hubungannya dengan Radit, menelpon saja harus di kamar mandi. Tari meraup wajahnya kesal.
Tari menghela napas panjang, karena Radit tidak menjawab telpon dari nya. Apa Radit masih di ruang kepala sekolah ya??? pikir Tari
Tari mencoba menelpon kembali, setelah bunyi dering yang ketiga akhirnya suara Radit terdengar di sebrang sana.
" Hallo sayang, tumben telpon pagi-pagi mang gak ada kelas??"
" Kamu dimana??" Tari tidak menjawab pertanyaan Radit. Dia langsung menanyakan keberadaan Radit yang membuat pikirannya terganggu dari tadi.
" Baru keluar dari ruang kepala sekolah, ada yang mau aku diskusiin. Kamu tau gak, Pak Irwan kepala sekolah kita itu adiknya ayah jadi dia itu paman aku."
Hah....Tari terdiam cukup lama untuk mencerna kata-kata Radit. Pagi ini dia sudah di buat terkejut oleh berita dari Ita, sekarang dia juga di buat terkejut oleh ucapan Radit.
" Emang diskusiin apa???" Tanya Tari pura-pura bersikap biasa saja. Dia ingin Radit memberitaukan perihal kuliah di Bandung itu tapi tanpa perlu Tari menanyakan padanya.
" Nanti kita obrolin di rumah ya sayang , sekarang aku mau balik dulu."
" Ya udah hati-hati di jalan" Tari kembali terdiam. Dia memasukkan ponselnya di kantong celana nya. Berjalan dengan lunglai kembali ke ruang guru.
__ADS_1