Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Kejutan


__ADS_3

" Sayang, ini sudah semua, gak ada yang tertinggal" Radit mengingatkan Tari tentang tas yang di pegangnya, takutnya gadis nya yang pelupa itu meninggalkan sesuatu.


" Kayaknya gak ada deh."


Ibu sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil, Ibu duduk di samping kemudi. Ada Roman di sana, sengaja Radit mengajaknya agar bisa mengemudikan mobilnya. Ini juga kesempatan bagus buat Roman, agar dia bisa ke Bandung sekedar menengok kedua orang tuanya di sana.


Radit membawa tas Tari, dan membukakan pintu mobil, menyuruh kekasihnya masuk terlebih dahulu. Rencana mereka akan menginap 2 malam di hotel, tidak langsung pulang ke Jakarta. Segala jadwal penting pun sudah dia mundurkan, agar keluarga Radit bisa merayakan kelulusan Radit yang sudah menjadi sarjana.


Radit masuk ke dalam mobil, duduk bersebelahan dengan Tari. sedang Roman mengemudi di samping Ibu.


" Kita siap berangkat pak, " Roman menoleh ke belakang menanyakan pada Radit.


" Ok, Man..."


Roman menghidupkan mesin mobil, lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan rata-rata. Ayah dan Ibu Radit menaiki mobil yang berbeda, yang di kendarai mang Ujang.

__ADS_1


Setelah setengah perjalanan, Mereka memutuskan mampir di sebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka. Waktu sudah menunjukan pukul 1 siang, sudah saatnya makan siang.


Ruangan privat sengaja ayah Herman sengaja memilih ruangan itu untuk keluarga besarnya. Beberapa makanan sudah terhidang di atas meja yang berbentuk bundar. Tari sampai bingung mau memilih makanan yang mana l. saking banyaknya. Radit mengambil piring dan memasukkan satu centong nasi ke piring yang masih dia pegang. Dia terdiam sebentar, menimang-nimang lauk apa yang sesuai untuk kekasihnya.


Akhirnya dia mengambil ayam goreng dan tumisan kangkung untuk Tari lalu menambahkan sedikit sambel juga di atasnya. Dia meletakkan piring yang sudah penuh itu tepat di hadapan Tari, membuat Tari menoleh kesal ke arah Radit.


Bagaimana tidak kesal, Radit selalu membuat nya malu dengan tingkahnya itu. Dia seakan tidak tau tempat. Di sini sedang berkumpul keluarganya, ada ibu juga tapi Radit seolah sedang berdua saja dengan Tari.


Tari kikuk, canggung menerima piring yang di sodorkan Radit padanya. Dia melirik sekilas kedua orang tua Radit yang berada tepat di hadapannya, dia benar-benar malu. Harusnya disini dia yang melayani Radit, mengambilkan makanan untuk Radit. Tapi ini malah sebaliknya. Tari melihat bibir Roman yang menyunggingkan senyumnya melihat tingkah bos nya itu. Bagi Roman, hal yang seperti ini sudah sering ia jumpai.


" Makan pelan-pelan..." Radit mengambil piring lalu mengambil makanan lagi untuk dirinya sendiri. Acara makan siang mereka berjalan dengan lancar, dan sesekali di iringi obrolan ringan dari mereka. Tari hanya jadi pendengar saja di sini. Dia tidak ingin berbicara, tidak ingin melakukan apapun.


Mereka tiba di apartemen mewah milik Radit. Semasa berada di Bandung, sang ayah yang seorang pengusaha kaya raya itu sudah menyiapkan apartemen mewah beserta isinya untuk sang putra tercinta. Jika saja hal itu tidak di lakukannya, istrinya pasti akan marah padanya karena membiarkan putra semata wayangnya meninggalkan Jakarta atas keinginan Ayah.


Ada 2 kamar di apartemen milik Radit, terdapat ruang tamu juga dapur yang masih terdapat di ruangan yang sama. Dapur dan ruang tamu menjadi satu ruangan tanpa dinding, tapi Radit jarang sekali menggunakan kompor nya, dia lebih memilih membeli makanan ketimbang repot-repot memasak.

__ADS_1


Ada assisten rumah tangga yang ia gunakan, tapi hanya untuk membersihkan apartemennya saja, bukan untuk memasak. Karena Radit lebih sering berada di luar, ketimbang di apartemennya ini. Apartemen ini lebih condong ke tempat istirahat saja, untuk tidur dan meluruskan punggungnya akibat lelah beraktifitas. Bahkan , apartemennya selalu bersih, karena hanya ia gunakan untuk tidur dan mandi.


Ayah dan ibunya, akan menempati kamar yang biasa dia gunakan, sedang Tari dan ibu akan menempati kamar tamu yang ada di sebelah kamar Radit. Dia sendiri akan tidur di sofa, tak masalah untuknya. Ibunya melarang memesan kamar hotel, dia ingin merasakan tidur di tempat yang biasa di tinggali putranya. Dan Radit menurut saja.


Roman sudah kembali ke rumah orang tuanya sedari tadi, Radit membawa tas Tari masuk, dan menyuruhnya istirahat. Waktu masih menunjukan pukul 2 siang, setidaknya mereka bisa istirahat terlebih dahulu setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Dia melirik ibu, yang sudah terbaring di ranjang terlebih dahulu. Calon mertuanya itu memang sudah cukup tua, dia juga tidak pernah melakukan perjalanan panjang. Wajar saja dia terlihat kelelahan.


" Kamu juga tidur sayang, nanti aku bangunin kalo udah waktunya makan ya..."


Radit menarik handle pintu, mencoba untuk menutup pintu kamar yang di tempati Tari. Tapi belum juga pintu ia tutup, Tari sudah menarik daun pintu itu kembali sehingga terbuka lebar. " Aku temenin kamu aja ya...?" ucapnya dengan senyum yang menggoda. Radit mengedip-ngedipkan matanya, melihat tingkah Tari. Dia lalu meraih tangan Tari, dan membawa nya keluar dari kamar. Tidak lupa, pintu kamar dia tutup dengan pelan supaya tidak mengganggu sang ibu.


" Mau ngapain??" mereka kini sudah berada di sofa double yang berada di ruang tamu. Ayah Herman dan ibu Rosa sudah berada di dalam kamar, mereka juga kelelahan. Sedang Mang Ujang tadi ijin ingin menemui teman lamanya yang berada di kota ini.


" Gak ngapa-ngapain cuma pengen sama kamu aja terus" lagi-lagi kalimat yang di ucapkan Tari benar-benar menggodanya. Dia meletakkan bibirnya di bibir mungil milik Tari lalu mengecupnya singkat. " Kamu nakal sekarang sayang..."


Tari tersenyum, dan dengan pandangan mata menggoda, dia malah ******* bibir Radit dengan lembut. Bukan hanya sebuah kecupan, tapi lumatan-lumatan lembut yang Tari lalukan pada Radit. membuat Radit terperengah kaget. Ini kali pertama Tari menciumnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Sepersekian detik, Radit masih terdiam tanpa membalas ciuman Tari. Setelah tersadar apa yang sedang mereka lakukan, Radit menarik tengkuk Tari mengikis jarak di antara keduanya. Tari membuka sedikit mulutnya, agar dia bisa meraup sedikit udara. Mereka melakukannya lagi, lagi dan lagi.


Radit menyeka bibir Tari dengan tangannya, lalu mengecup kening kekasihnya dengan lembut. Dia meletakkan kepala Tari di bahunya, membiarkan kekasihnya itu bersandar di pundaknya. Hubungannya bersama Tari sudah terjalin 4 tahun, tapi cinta Radit padanya semakin besar...


__ADS_2