Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bingung


__ADS_3

Pernikahan.. Entah kenapa kata itu sekarang selalu ia pikirkan. Usianya memang masih 24 tahun, belum terlalu tua juga untuk melangsungkan pernikahan dengan terburu-buru. Ibunya juga tidak menyuruhnya untuk segera menikah. Hanya saja... semenjak Ita dan Ronald melaksanakan acara pertunangan, kata pernikahan selalu ada di pikirannya akhir-akhir ini.


Radit juga masih berusia 20 tahun. Benar adanya, jika lelaki itu sama sekali belum memikirkan pernikahan atau membahas tentang pernikahan dengan Tari. Tapi sampai kapan?? Jika di bahas saja tidak?


Tari menghela napasnya, memejamkan matanya sesaat sebelum menjawab pertanyaan Radit. Dia tidak ingin Radit mengkhawatirkannya. Sudah cukup jadwal kuliah serta urusan kantor yang sudah membebani otaknya, dia tidak ingin ikut membebaninya juga dengan perasaannya yang tak menentu ini.


" Tidak ada" Tari tersenyum lalu menatap ke arah lawan bicara nya itu. mencoba menenangkan diri, dari hatinya yang berkecamuk malam ini.


" Aku gak mau ya kamu memikirkan apapun sendirian, kamu punya aku. Kamu ngerti kan?"


Sudahlah Tari, tidak apa-apa. Yang terpenting Radit ada di pihakmu. Begitu ucapan Tari menenangkan dirinya sendiri.


Tari tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.


" Aku ingin pulang, kasian ibu sendirian di rumah."


" Ya udah kita pamit sama ibu dan ayah dulu ya.."


****

__ADS_1


Lain cerita dengan Tari, sahabatnya Ita lagi memiliki suasana hati yang berbunga-bunga. Dalam kurang lebih satu bulan, dia dan Ronald akan melangsungkan ijab kabul di depan penghulu. Kali ini Ita dan Tari sedang berada di sebuah Cafe. Radit sudah kembali ke kota Bandung, menjalani lagi ke rutinitasnya yang sibuk, begitupun juga dengan Tari. Dia harus mengajar, dan setelahnya juga harus menjadi tenaga pembimbing di sebuah bimbel terkenal di Jakarta. Syukurlah, karena aktifitasnya yang lumayan sibuk, tidak membuatnya terlalu bergantung dengan Radit. Walau pun Radit belum sempet menghubunginya, dia jadi tidak terlalu memikirkannya berlarut-larut.


Seperti hari ini, tadi malam adalah terakhir kalinya Radit menghubunginya via sambungan telpon. Sampai sekarang waktu sudah menunjukan pukul 2 siang, Radit masih belum juga menghubunginya. Akhir-akhir ini di akui Tari, hubungannya dengan Radit sudah mulai merenggang. Ia pun tidak ingin menghubungi terlebih dahulu. Semenjak kejadian di kediaman Radit kala itu, Tari sudah mulai menjaga jarak dengan Radit.


Apa harus berpisah saja, seperti nya kita memang tidak cocok.


" kamu kenapa sih Tar...daritadi bengong mulu"


Tari sampai lupa keberadaan makhluk di hadapannya.


" Aku bingung Ta, dah mulai males sama Radit."


Dering ponselnya berbunyi. Akhirnya setelah seharian mengabaikannya, Radit pin menghubunginya juga. Tari tidak terasa menyunggingkan senyumnya. Dia bahagia..


" Cih..katanya dah mulai males, dah labil banget jadi orang" Ita terkekeh melihat kelakuan sahabatnya ini.


Tari meletakkan jari telunjuknya ke bibir Ita, dan menyuruhnya diam.


" Aku jawab dulu ya"...

__ADS_1


" Bodo amat"


Tari sedang berada dalam sambungan telpon, dia sengaja berlari keluar cafe untuk menerima telpon dari Radit.


" Sayang...maafin aku ya baru hubungin kamu. Aku tadi abis dari kampus, langsung di telpon pak Wisnu suruh ke kantor, aku sampek belum makan siang ini." Radit menjelaskan agar Tari tidak marah padanya. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk, sampai jarang memperhatikan kekasihnya itu. Radit selalu tiba di apartemen larut malam, dan selalu berakhir ketiduran, saking lelahnya.


" Gak papa, aku tau kok kamu emang lagi sibuk"


" Sayang..kamu gak mikirin yang macem-macem kan?, sekarang kamu juga dah mulai jarang ngehubungin aku. Kenapa?" Radit memang merasa ada yang berbeda dari Tari. Semenjak pertemuannya dengan bibi waktu itu, sikap Tari padanya sedikit berubah.


" Aku tau kamu sibuk, dan aku gak mau ganggu" Tari menjawab seadanya saja.


" Kamu gak usah nguji aku deh sayang, kamu tau kan sesibuk apapun aku, aku pasti berusaha buat selalu ada buat kamu" Radit mencoba tidak terpancing emosi di sini, padahal daritadi rahangnya sudah mengeras karena kesal.


" Aku lagi jalan sama Ita, dia minta di temenin buat nyari-nyari perlengkapan pernikahan"


Pernikahan,,,mungkinkah Tari kesal padanya karena ingin menikah juga. Sama seperti sahabatnya, apalagi di minta menemaninya berbelanja perlengkapan pernikahan, mungkin ada sedikit rasa iri di hati gadis nya itu. Maklum saja, usia Tari memang sudah pas jika menikah. Tapi aku??? Aku masih berusia 20 tahun, dan aku laki-laki. Aku merasa belum cukup dewasa, belum cukup bijaksana, bahkan kata pernikahan belum pernah sekalipun aku bahas bersama Tari. Masih banyak yang belum aku lakukan. .


" Radit----" suara di ujung telpon membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


" Tari, kamu tau kan aku sayang banget sama kamu. Gak usah mikir macem-macem. nanti aku hubungi lagi ya..." Ucap Radit mengakhiri percakapan mereka.


__ADS_2