
Malam semakin larut. Jam yang menempel di dinding yang berada di kamar Tari sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam. Tapi mata Tari sama sekali belum bisa terpejam. Jika saat ini dia sedang berada di pedesaan, mungkin hanya suara kodok dan jangkriklah yang akan menemaninya pada malam yang sunyi ini.
Lampu ponsel di meja dekat ranjangnya terus saja berkedip-kedip, menandakan ada yang menghubunginya, atau mungkin mengirim pesan whatshap padanya. Tapi dengan tekad bulat, dia enggan melihatnya bahkan hanya sekedar lirikan sekalipun.
Dia marah, kembali lagi marah. Ya..akhir-akhir ini dia memang lebih sering marah dan kesal. Bagaimana tidak kesal, dari hari senin dia menanti dengan penuh harapan sampai dengan hari Jumat. Karena saat Jumat itulah, Radit akan pulang ke Jakarta dan menemuinya. Biasanya Radit pulang dari Bandung Jumat sore, dan tiba di Jakarta pada malam hari nya. Tapi tidak dengan Jumat ini.
Radit mengabarkan tidak akan pulang Jumat ini, karena ada acara yang harus di hadirinya pada Sabtu malamnya. Dan dia bilang terlalu lelah untuk bolak balik.
Tari tidak menjawab, bahkan saat Radit terus-terusan merayunya lewat sambungan telpon, Tari tetap mengabaikannya.
Apa dia bilang??? Lelah??? Tari tidak habis pikir, Radit bilang lelah. Biasanya tidak ada kata lelah, jika menyangkut Tari. Tapi kenapa???
Tari menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Kepalanya pun ia tutupi dengan selimut, ia hanya membuka pada sebagian hidungnya saja agar bisa sedikit bernafas.
Tuhan...harus ku apakan laki-laki itu?. Dan sekarang, hampir pukul 12 malam, Radit baru sibuk menghubunginya. Padahal setelah mengabari bahwa ia tidak akan pulang, dan bahkan Tari sengaja mematikan dengan sepihak sambungan telponnya, Radit tidak menghubunginya kembali. Ponsel terus saja bergetar, entah sudah berapa puluh kali Radit menghubunginya. Tapi tetap, Tari enggan menjawabnya.
Dan ponselnya berhenti bergetar, Tari berusaha memejamkan matanya kembali. Ingin rasanya malam cepat berlalu, dan berganti dengan pagi. Tari ingin segera melewatkan malam ini.
Ugh sial...kenapa tidak bisa tidur juga sih. Tari mengumpat di dalam hati.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu, membuat Tari menyibakkan sebagian selimutnya. Menatap pintu dengan perasaan heran..
Kenapa ibu mengetuk pintu malam-malam begini.? Di lihatnya lagi jam dinding di kamarnya, Jam 12 tepat.
__ADS_1
Tok tok tok
Pintu di ketuk kembali, membuat Tari segera turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya dengan malas.
Tari memegang handle pintu, dan pintupun terbuka.
Betapa terkejutnya Tari, yang di lihat di hadapannya bukanlah ibu, tapi Radit.
Dia mengucek -ngucek matanya, sapa tau dia berhalusinasi. Tapi tidak, yang di hadapannya benarlah Radit.
Memegang kue dengan kedua tangannya, lengkap dengan lilin bertuliskan angka 25 yang sudah ia nyalakan.. Radit menyodorkan kue kehadapan Tari.
Apaan ini? apa aku berulang tahun. Tunggu dulu, 23 Maret.. ah aku lupa...
Tari tak bisa menyembunyikan aura kebahagiannya. Dia benar-benar lupa jika hari ini genap 25 tahun usianya. Hubungannya dengan Radit yang akhir-akhir ini lebih sering di isi pertengkaran pun tak terasa sudah hampir menginjak tahun ke 3.
" Sayang, tiup lilinnya"
Tari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, entah ia terharu atau malu. Lihat lah penampakannya kali ini, rambut acak-acakkan dan dengan kaos kebesaran ciri khas andalan Tari jika akan pergi tidur di tambah celana kolor di atas lutut.
Ya Tuhan...gak banget kan. Tari mengucapkan doa di dalam hati, lalu dengan semangat meniup lilin penuh semangat. Ibu yang berada di samping Radit ikut bertepuk tangan saat lilin itu sudah padam.
Sekarang kami sudah duduk di sofa, Tari memotong kue ulang tahunnya lalu menyerahkan potongan pertama itu untuk ibunya. Beberapa lafal doa ibu panjatkan, sambil memelukku, bahunya juga bergetar menandakan ia sedang menangis. Tari hanya mengusap-ngusap lembut bahu ibunya, "Tari bahagia bu, memiliki kalian di sini" ucap Tari tulus dari hati. Tangannya meraih tangan Radit yang ada di hadapannya dengan tetap memeluk ibu. Beberapa menit, sampai ibu melepaskan pelukan mereka.
Tari juga memberi Radit potongan kue, tidak lupa ia juga mengambil satu potong untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
" Nak Radit tidur di sini aja ya, dah mau pagi juga" ucap ibu di sela-sela makannya.
" Nanti Tari tidur sama ibu, Radit bisa tidur di kamar Tari." Lanjut ibu lagi.
" Iya bu," jawab Radit sambil menganggukkan kepalanya.
Ibu berdiri, dan berpamitan untuk ke kamar lebih dulu membiarkan mereka mengobrol lebih leluasa. Walau bagaimanapun ibu juga pernah muda.
****
Radit meraih tas ransel yang tergeletak dekat sofa, lalu mengeluarkan kotak kecil dengan bungkus berwarna merah muda. Ada pita merah di atasnya. Pria ini sudah mempersiapkan hadiah untuk Tari dari jauh-jauh hari.
" Sayang, selamat ulang tahun ya..semoga di tahun-tahun berikutnya aku selalu nemenin kamu terus kayak gini" Radit menyodorkan kotak itu dan menyerahkan pada Tari.
Tari membukanya, liontin dengan gantungan hati adalah kado pemberian Radit. Desain yang sederhana sangat kecil, namun indah. Tari tak henti-hentinya menyunggingkan senyum di wajahnya.
Radit memakaikan liontin itu di leher Tari dan memeluk Tari dengan lembut, mengecup kening, pipi, lalu beralih ******* bibir Tari dengan lembut.
Lumatan Radit semakin bergairah membuat keduanya memeluk satu sama lain semakin erat. Beberapa detik sampai akhirnya" Dah ya, gak enak sama ibu" ucap Radit sambil mengecup kening Tari kembali.
" Ayo, aku antar kamu ke kamar."
Mereka berjalan tetap bergandengan tangan menuju kamar Tari berada. Kamar Tari berada di sebelah kamar ibu, luas kamar yang hanya seluas kamar mandi di kediaman Wijaya. Tapi bagi Tari adalah tempat yang paling nyaman.
Tari juga orang yang sangat rajin, kamarnya selalu bersih, jadi dia tidak perlu sungkan jika Radit masuk dan tidur disana. Nuansa biru langit mendominasi di kamar Tari. Tari menyukai warna biru, ada boneka sapi yang sangat besar tergeletak di kasur dengan selimut yang acak-acakkan disana. Boneka itu, pemberian Radit kala membujuk Tari yang sedang merajuk tempo dulu.
__ADS_1
Di atas meja dekat ranjang terdapat foto Tari dan ibunya, serta foto dirinya bersama Radit juga ia letakkan di atas meja. Radit tersenyum, mendapati sosok dirinya yang berada di foto itu.
Foto yang mereka ambil 2 tahun yang lalu saat Radit akan pergi ke Bandung untuk pertama kalinya. Radit masih ingat, bagaimana Tari menangis saat akan ia tinggalkan dulu. Sekarang Radit bisa membuktikan, kalau semuanya akan baik-baik saja selama Tari di sampingnya. Radit mewujudkan janjinya itu.