Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Kalah Lagi


__ADS_3

Tari mengantar Radit kembali ke rumahnya. Dia meminta Danu untuk menuntun Radit ke dalam mobil. Dia tidak mungkin kan menuntun Radit sendiri, orang-orang pasti menyebutnya gila.


Tari membuka pintu penumpang lalu membantu Radit masuk ke dalam mobil.


" Danu, kamu nanti tolong Taruh kertas tugas anak-anak di meja ibu ya.. Ibu mau mengantar Radit dulu"


" Iya bu"


Danu menggangguk lalu berlalu pergi kembali ke kelas. Tari masuk ke dalam mobil dan mulai mengemudikan mobil Radit.


Tari memang sudah mahir menyetir mobil. Waktu kuliah dulu, Ita mengajarinya menyetir bahkan Ita juga lah yang membuatkannya SIM. Karena jika pergi jalan-jalan dengan Ita, dia selalu bergantian mengendarai mobilnya.


Tari melajukan mobil dengan cepat, dia ingin segera sampai ke rumah agar Radit bisa segera beristirahat. Dia membiarkan Radit merebahkan kepalanya di bahu Tari. Dia merasa bersalah sudah membuat Radit seperti ini. Di tempelkannya tangan Tari di kening Radit dan memeriksa suhu tubuhnya.


Kenapa masih panas juga, gumam Tari di dalam hati.


" Kita ke rumah sakit aja ya...?" Ajak Tari setelah mengetahui badan Radit yang masih demam.


" Tidak, aku gak mau kita putus" Radit malah menjawab lain. Bukannya malah menjawab pertanyaannya.


" Kamu tuh di ajakin ngomong apa, malah jawabnya apa" ujar Tari sedikit kesal.


" Bener, aku gak mau putus sayang.." tetep aja itu yang di ucapkan Radit membuat Tari terdiam. Dia tidak ingin berdebat, dia memilih berkonsentrasi menyetir daripada menanggapi ocehan Radit.


****


Pintu gerbang langsung di buka setelah penjaga melihat mobil tuannya menuju halaman rumah. Tari memapah Radit menuju ke dalam rumah, mang Ujang dengan sigap datang membantu ketika mengetahui radennya sakit..


Raden..Den Radit, itu adalah panggilan sayang mang Ujang pada Radit. Mang ujang sudah bekerja di rumah ini dari awal ayah dan ibunya menikah. Jadi den Radit sudah ia anggap anaknya sendiri. Radit juga sangat dekat dengan mang Ujang. Tari dapat melihat, mang Ujang sangat menyayangi Radit.


Mang Ujang memapah nya menggantikan Tari. Tari mengikuti langkah Mang Ujang dari belakang sambil menggendong Tas Ransel milik Radit.


Radit sudah berbaring di atas ranjang, lalu Mang Ujang pamit undur diri.


Tari mengangguk sopan.

__ADS_1


Di letakkan tas Radit di atas nakas.


" Kamu tidur aja ya, aku mau balik ke sekolah dulu" Tari akan berdiri tapi Radit sudah memegangi tanggannya dengan erat.


" Sayang... kamu bohong kan mau putusin aku?"


" Dah gak usah bahas ini lagi ya Dit, aku mohon hargai keputusan aku" pinta Tari dengan sungguh-sungguh. Dia memang menyayangi Radit. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Radit tapi Tari takut... Dia tidak percaya diri lagi, dulu dia sangat percaya diri sekali jika dia memang bisa melakukannya...


Tapi apa??? dia kecewa..


Dia tidak ingin kecewa lagi, lebih baik sakit sekarang dari pada sakitnya nanti. Begitu pikir Tari.


" Aku gak mau makan,aku juga gak mau minum obat. Biarin aku gak usah ikut ujian sekalian." Radit membalikkan badannya memunggungi Tari.


Lama Tari terdiam melihat punggung Radit, badannya sedikit bergetar mungkin karena efek demam di tubuhnya. Tari berdiri melangkahkan kaki berniat keluar dari kamar itu, tapi saat dia memegang handle pintu kamar untuk membukanya, Radit dengan cepat segera mengunci pintu kamar lalu mencabut dan melemparkan kuncinya asal.


Dia memeluk Tari yang masih berdiri di depan pintu, tubuhnya benar-benar panas. Bahkan hembusan napasnya pun panas. Tari dapat merasakannya dengan jelas. Tari terdiam mematung dengan kelakuan Radit. Bagaimana dia bisa melepaskan lelaki seperti ini??? Lelaki yang sangat lembut, lelaki yang sangat mencintainya.


Radit tidak mengatakan apapun,dia hanya semakin memeluk Tari dengan sangat erat.


" Aku gak bisa napas loh.." ujar Tari seraya mengusap rambut Radit dengan lembut.


Radit tidak perlu jawaban lagi, dia sudah tau jawabannya dari mata Tari.


" Ngapain di kunci sih, sekarang mana coba kuncinya?" ucap Tari kesal


" Kamu mau pergi ninggalin aku!! kamu tega ninggalin aku sendiri di sini, udah tau ayah sama ibu gak ada!!" Radit juga tidak kalah kesal. Dia tidak menyangka Tari benar-benar tega pergi meninggalkan dirinya, padahal dia sudah memohon dengan menjatuhkan harga dirinya dengan sejatuh-jatuhnya. Jika Rega tau dia se bucin ini terhadap Tari, dia pasti akan di ledek habis-habisan.


" Aku mau keluar ambil air panas buat ngompres kamu Dit, badan kamu demam dan kamu gak mau ke rumah sakit"


" Sekarang tidur lagi, aku mau ambil kuncinya tadi di lemparin kemana??"


Radit membuka laci di meja samping ranjangnya lalu mengeluarkan kunci dari sana.


" Aku punya cadangannya makanya yang tadi aku lempar"

__ADS_1


Dia memberikannya pada Tari lalu dia merebahkan dirinya kembali ke kasur. Kepalanya benar-benar pusing. Tapi sekarang dia bisa tenang memejamkan matanya, hubungannya dengan Tari sudah baik-baik saja.


Tari sadar, dia tidak akan pernah menang melawan Radit. Dia selalu kalah dan kalah lagi. Dia tersenyum menuruni anak tangga dan menuju ke arah dapur.


*****


Mbok Rah sedang berada di dapur juga, dia membuat bubur untuk Radit. Dia bilang biasanya kalau Radit sakit, dia tidak bisa menelan makanan apapun kecuali bubur. Jadi mbok Rah segera memasak bubur setelah mendengar kabar dari mang Ujang kalau Radit sedang sakit.


" Pagi mbok.."


Tari menyapa mbok Rah.. pekerja di rumah sudah tau hubungan Radit dengan Tari. Tari sudah sering bertandang kemari, jadi mereka sudah paham tentang Tari.


" Pagi non" Tari sudah berapa kali melarang mbok Rah memanggilnya dengan sebutan Non, tapi mbok Rah tidak mau mendengarkan dan akhirnya Tari membiarkan saja.


" Non, ini buburnya sudah matang"


" Oh iya mbok, nanti biar Tari bawa ke kamar Radit. Mbok Rah , Tari bisa minta tolong siapin air panas sama handuk. Tari mau ngompres Radit. Tari gak tau tempatnya.." Tari cengar cengir, dia tidak enak sebenarnya menyuruh mbok Rah, tapi Tari juga merasa tidak sopan jika menyiapkannya sendiri. Ini rumah Radit bukan rumah dia.


" Siap Non..."


Mbok Rah dengan sigap mengambil air panas dan handuk lalu menyerahkan nya pada Tari.


Dia juga membantu membawakan bubur ke dalam kamar karena memang Tari sudah kesusahan membawa mangkok air panas.


" Makasih ya mbok..."


" Iya non sama-sama , saya permisi dulu ya non.."


Mbok Rah berlalu setelah menaruh nampan berisi bubur dan segelas air hangat di atas nakas.


Radit terlihat tertidur dengan sangat nyenyak, dia bahkan tidak terbangun saat Tari mengompresnya. Tari memeriksa kening Radit lagi, dan sepertinya suhu tubuhnya sudah menurun. Tari menutup pintu kamar Radit lalu mencari mbok Rah untuk pamit pulang, kembali ke sekolah.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Jam mengajar Tari sebenarnya sudah habis, tapi dia harus kembali ke sekolah karena motornya ada di sana. Setelah memesan ojek online dia keluar dari rumah Radit.


Mang Ujang menghampirinya berniat mengantar Tari pulang, tapi Tari dengan sopan menolak karena memang sudah memesan ojek online.

__ADS_1


" Nanti den Radit marah lho non kalau tau mang Ujang ngebiarin non pulang sendiri.." bujuk mang Ujang.


Lebih baik Mang Ujang menjaga Radit saja. Begitu jawaban Tari.


__ADS_2