Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Pilihan


__ADS_3

Radit sedang mengendarai mobilnya, dia tidak kembali ke rumah seperti yang di sampaikan nya pada Tari. Ayah nya sedang menunggu Radit di perusahaan. Ayah ingin memperkenal nya pada Pak Wisnu orang kepercayaan ayah yang akan membantunya di kantor cabang Bandung nanti.


Semalam setelah ia kembali ke rumah, ayahnya sudah menunggunya di ruang keluarga. Sebelum ia melangkahkan kakinya menuju kamar, ayah memanggilnya dan mengajaknya berbicara, Radit juga sedikit heran mengapa raut muka ayahnya yang begitu serius. Ibu nya juga duduk di sofa tepat di sebelah ayah berada, tangannya terlihat mengandeng tangan ayah dan menepuk-nepuk tangan ayah dengan lembut. Sepertinya ibu sedang mencoba membuat ayah tenang.


" Apa apa ayah,? kok suasana nya horor begini? " Radit berkelakar tertawa sendiri sedang kedua orang tua di hadapannya masih dengan muka serius mereka.


Radit mendudukkan tubuhnya di sofa single tepat berhadapan dengan kedua orang tuanya. Pikirannya menerka-nerka apa yang akan di bicarakan oleh ayah dengan mimik muka seserius itu.


" Kamu sudah milih kampus Dit??" pertanyaan itu sontak keluar dari mulut ayah dengan lembut. Ayah berbicara sambil mengambil cangkir kopinya di meja menyesapnya lalu meletakkannya kembali.


Ayah pernah berkata dia harus mengambil jurusan bisnis, karena Radit akan melanjutkan bisnis perusahaan yang sudah lama Ayah bangun dengan susah payah. Radit tidak mempermasalahkan hal itu, dia sadar bahwa hanya dia anak satu-satu nya yang Ayah miliki. Dan hanya dia yang bisa membantu Ayahnya kelak. Walaupun sebenarnya Radit lebih menyukai bidang lain, tapi tidak masalah bagi Radit.


" Sudah Yah, besok mau tanda tangan ma ngisi formulir buat formalitas, Radit dah ijin sama paman Irwan kalau besok Radit gak bisa masuk sekolah"


" Kamu bisa tidak kuliahnya di Bandung aja, Ayah buka cabang baru di sana. Dan tidak ada yang mengawasinya...sebenarnya ada orang kepercayaan Pak Wisnu, tapi ayah ingin kamu belajar lebih awal di cabang baru sana. Sebelum kamu membantu Ayah nanti di kantor pusat. Itu akan sangat membantu kamu Radit. Dan hal itu juga tentunya akan sangat membantu Ayah. Karena ada kamu di sana sebagai wakil dari Ayah."


" Ayah sudah tua, tidak bisa bolak balik Bandung - Jakarta terus. Badan ayah sekarang sudah mulai lelah."


Ayah berbicara dengan panjang lebar, mencoba merangkai kata dengan sangat apik agar Radit mengerti dan paham maksud ayah kali ini adalah untuk kebaikan bersama.


Radit terdiam, dia tidak bisa berkata-kata. Sejenak dia memikirkan nasib Tari, lalu kemudian dia juga memikirkan nasib dirinya sendiri. Hubungan yang ia jalani dengan Tari memang masih seumur jagung, tapi perasaan Radit padanya sudah teramat dalam.


Radit tidak tau, bagaimana jika situasinya seperti ini. Radit tidak bisa menolak permintaan ayah, dia tidak ingin mengecewakan ayah, tapi dia juga tidak ingin berjauhan dengan Tari. Ya Tuhan...Radit bingung...


"Ayah..." Radit mulai memikirkan kata apa yang harus di ucapkan pada ayahnya.


" Kamu bisa mendiskusikannya dengan Tari, ayah juga pernah muda. Ayah paham akan hal itu"

__ADS_1


" Bandung Jakarta kan tidak begitu jauh, kamu masih bisa menemuinya di akhir pekan, ayah yakin dia akan mengerti"


Fix, Radit sudah tidak bisa menolak lagi jika seperti ini.


" Baiklah ayah... Radit menurut saja, mana yang menurut ayah baik." Radit mengembangkan senyumnya dengan terpaksa. Sebenarnya dia tidak rela, sungguh.... dia tidak bisa berlama-lama menahan rindu, Radit juga takut Tari akan jauh dari nya. Jauh dalam artian Hati Tari, hati Tari yang akan perlahan menjauh dari Radit.


Mobil Radit sudah sampai di bassment gedung kantor milik ayahnya. Dia memarkirkan mobilnya, lalu turun menuju lift yang ada di lantai bawah kantor tersebut. Radit masuk ke dalam lift laluenekan tombol 15, lantai tempat ruangan kerja ayah berada.


Pintu lift terbuka, Radit melangkahkan kakinya ke ruangan yang bertuliskan Direktur. Sebelum menuju pintu ruang kerja ayah nya berada, terdapat meja di samping kirinya. Seseorang wanita tersenyum manis padanya, sekertaris ayah itu sudah mengenal Radit. Dia mengetahui bahwa Radit adalah putra satu-satunya dari pemilik perusahaan ini.


Dia menyapanya dengan ramah dan mempersilahkan Radit masuk ke dalam ruangan, karena dari informasinya , ayahnya telah menunggu Radit sedari tadi.


Radit menggangguk mengerti, lalu melangkahkan kakinya kembali menuju pintu ruangan sang ayah.


Tok..tok..tok..


****


Radit menghubungi Tari, mengabarkan padanya bahwa ia sedang di perjalanan menuju ke rumahnya. Dia harus bertemu dengan Tari dan membicarakan perihal ini. Radit tidak ingin menundanya barang sehari, setelah dari kantor ayah, dia langsung menuju ke rumah Tari.


Tari tipe orang rumahan, dia jarang sekali keluar jika tidak ada perlu yang mendesak dan penting. Jadi walaupun Radit secara mendadak pergi ke rumahnya sekalipun, bisa di pastikan dia sedang berada di rumah. Hal ini lah yang membuat sedikit lega. Jika benar dia harus kuliah di Bandung sekalipun, Radit tidak terlalu kuatir kepada Tari.


Tari sudah menyambutnya di depan teras. Ketika mobilnya terhenti dan terparkir di halaman rumah Tari. Senyumnya manis menyapa Radit, Radit menggenggam tangannya lalu mengajaknya bicara di dalam saja. Radit mendudukkan tubuhnya di sofa coklat milik Tari. Di meja terlihat tumpukan kertas ujian anak-anak. Tari pasti sedang mengoreksi lembar jawaban para siswa.. Laptopnya juga masih menyala di sana. Tari merapikan kertasnya lalu beranjak berdiri,..


" Mau kemana???" Tanya Radit sambil memegang tangan kiri Tari. Menghentikan langkah Tari yang ingin menuju ke dapur.


" Mau ke dalem.ambilin kamu minum, " Jawabnya dengan masih posisi berdiri.

__ADS_1


" Gak usah, duduk aja sini." mata Radit mengarah ke kursi di sebelahnya mengisyaratkan agar Tari duduk saja di sana.


" Mang kamu gak haus Dit?" Tanya Tari sambil duduk kembali. Kini dia sudah duduk di sebelah Radit dengan tetap tangannya di genggam Radit dengan erat.


" Ayah nyuruh aku kuliah di Bandung sayang.." Radit mengatakannya dengan suara pelan, dia menenggelamkan kepalanya di bahu Tari.


Tidak ingin melihat tatapan mata Tari, Radit memilih tetap menunduk sambil memegang tangan Tari semakin erat.


Ada gurat kesedihan di dalam nada kalimat Radit. Tari memejamkan matanya berusaha mengatur nafasnya agar kembali teratur. Sebenarnya dia sudah tidak kaget dengan perkataan Radit, karena dia sudah mendengar sedikit tentang hal ini dari Ita tadi pagi. Tapi mendengar Radit yang mengatakannya secara langsung tetap saja membuat dirinya sedih. Sedih harus berjauhan dari Radit. Sedih, hari-hari yang setiap saat melihat wajahnya tidak akan di rasakan lagi oleh Tari. Sedih, karena hal seperti ini terulang lagi dalam hidupnya..


Dulu... hubungannya juga kandas karena pacaran jarak jauh. Tari tidak ingin mengulangnya lagi. Tari takut kejadian yang sama akan kembali menimpa dirinya.


Tari membuka matanya kembali, dia mulai mengatur napasnya lalu berkata


" Ya, kamu kan harus mendengarkan apa kata orang tua kamu Radit"


" Itu hidupmu, itu pilihanmu, aku harap kamu tidak terlalu memperdulikan pendapatku" Nadanya sih cukup biasa saja, tapi isi dari setiap katanya membuat Radit membelalakkan matanya.


" Sayang kok ngomongnya kayak gitu, maksudnya apa??"


" Gak mungkin aku gak memperdulikan pendapatmu. Kamu itu pacar aku sayang..."


Radit menengakkan badannya kembali, dan memegang bahu Tari. Di tatapnya mata Tari dengan penuh kasih.


" Lagian kan cuma di Bandung, kita bisa ketemu di akhir pekan. Seminggu sekali aku pulang ke Jakarta untuk nemuin kamu. Kan orang tua aku juga di sini" Imbuh Radit berusaha menenangkan perasaannya yang mulai gundah..


Tari tertunduk tanpa menatap wajah Radit. Matanya sudah berkaca-kaca, sepertinya dia akan segera menangis. Hal ini juga yang dulu di ucapkan yudi padanya. Yudi, mantan pacarnya dulu. Dia dan yudi berpacaran hampir 5 tahun dan yang 2 tahun dia lalui dengan jarak jauh karena Yudi harus melanjutkan kuliahnya di jogja. Waktu Yudi pamit akan kuliah ke jogja, kata-kata yang di ucapkan pada Tari sama persis seperti yang di ucapkan Radit padanya hari ini..

__ADS_1


__ADS_2