
Radit buru-buru kembali ke Jakarta mengambil penerbangan pertama setelah selesai menjalankan tugasnya menangani kerjasama dengan salah satu perusahaan yang ada di Jogja. Dia bersama asistennya yang selalu setia menemaninya kemanapun dia pergi.
Setelah menempuh penerbangan yang panjang, akhirnya dia sampai di bandara terbesar di Jakarta. Radit melangkahkan kakinya dengan cepat, dia ingin segera sampai ke rumah, dan pergi menemui Tari. Mang Ujang sudah terlihat di sana, Radit melangkahkan kakinya segera menuju ke rumah. Roman asistennya juga ikut menemaninya pulang, karena Roman adalah orang Bandung jadi dia menyuruh Roman menginap di rumah keluarga Wijaya selama mereka berada di Jakarta.
Mang Ujang mengendari mobil dengan kecepatan rata-rata, sopir pribadi yang sudah bekerja puluhan tahun di keluarga Wijaya itu melirik ke arah tuannya. Dia melihat jika Den Radit nya itu, sedang berada dalam suasana yang tidak baik.
" Pekerjaannya lancar Den,,? mang Ujang bertanya karena tuannya itu terlihat murung.
" Lancar mang, alhamdulillah.."
" Mang, bisa anterin ke rumah Tari sebentar Radit ingin menemuinya terlebih dahulu" Radit berucap kembali sambil memejamkan matanya yang lelah.
" Sebaiknya Den Radit pulang dulu, sepertinya Den Radit sudah sangat lelah" mang Ujang tidak bermaksud kurang ajar pada majikan, tapi dia tidak tega melihat wajah kusut majikannya. Mang Ujang berpikir Radit sebaiknya pulang kerumah dahulu sekedar membersihkan diri dan merebahkan badannya.
" Radit mau ajak Tari kerumah Mang..."
" Oh..baiklah Den."
Roman yang daritadi berada di bangku depan hanya duduk diam tanpa ikut dalam pembicaraan mereka. Roman sudah Tau, jika atasannya itu sudah memiliki pacar yang bernama Tari. Tapi dia hanya tau sebatas itu saja, tidak lebih.
__ADS_1
Radit mengetikkan pesan pada Tari ,menyuruhnya untuk bersiap-siap karena akan mengajaknya kerumah. Di liriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Hari belum gelap, matahari baru turun dari peraduannya, Radit menoleh ke arah jalan raya,.menghirup nafas nya panjang.
Kejadian semalam, saat melihat foto yang di kirimkan Rega padanya, membuat suasana hatinya menjadi kacau. Dia bahkan tidak berani menanyakan nya pada Tari maksud dari foto nya itu. Di foto itu, terlihat Tari memegang bahu Yudi, dan Yudi itu adalah mantan pacar Tari. Yudi juga laki-laki yang tampan, dia juga sangat mapan, pekerjaannya juga baik,.. Radit benar-benar takut, akan kehilangan Tari. Radit takut, Tari masih memiliki perasaan yang tersimpan untuk Yudi, apalagi saat ini, Yudi lah yang selalu berada di dekatnya. Sedangkan dia, bertemu juga sudah jarang. Radit menggaruk kepala yang tidak gatal, dia masih saja memikirkan kejadian tadi malam.
Untung saja Rega mengirimkan foto itu, jadi dia tau apa yang sebenarnya terjadi. Mobil yang di kemudikan Mang Ujang sudah memasuki pelataran rumah Tari. Radit segera keluar dan melesat dengan cepat menuju ke dalam rumah Tari.
Seharian ini Radit memang tidak menghubungi Tari, dia ingin segera pulang dan segera menyelesaikan masalah mereka. Tapi Tari yang tidak tau apa-apa, mengira Radit tidak menghubunginya karena sedang sibuk bekerja.
Tari sudah rapi, karena tadi Radit bilang akan mengajaknya ke rumah. Radit pamitan kepada ibu Tari, dan mengajak Tari masuk ke dalam mobil, tidak ingin mang Ujang dan asistennya menunggu terlalu lama.
Setelah Tari dan Radit masuk, mang Ujang melajukan kendaraannya kembali menuju kediaman keluarga Wijaya. Radit menggenggam tangan Tari, dan merebahkan kepalanya di atas bahu gadisnya itu. Dia memejamkan matanya yang terasa lelah. Tari hanya terdiam dan membiarkan saja kepala Radit berada di atas bahunya.
Tapi lihatlah sekarang, dia dengan tidak tau malunya bermanja-manja pada Tari seperti ini, padahal di depan ada mang Ujang dan Roman yang juga berada di dalam mobil.
****
Setelah tiba di kediaman keluarga Wijaya, Radit menyuruh mang Ujang mengantar Roman ke dalam terlebih dahulu.
" Ini maksudnya apa" Radit mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang di kirim Rega padanya, memperlihatkan pada Tari. Tari membelalakkan matanya kaget, dia sekarang tau alasan Radit yang marah padanya. Radit menatap mata Tari dengan tatapan yang tajam, dia benar-benar marah sekarang. Matanya bahkan sudah memerah menahan amarah yang dari semalam belum tersalurkan.
__ADS_1
" Aku dah bilang kan jauh-jauh dari mantan kamu itu, kenapa malah kayak gini"
" Aku cuma lagi ambil makanan terus dia ajakin aku ngobrol. cuma itu" Tari tidak tau harus berkata apa lagi. " Aku juga gak tau kalo ada foto itu" Tari meraih tangan Radit berusaha meredakan kemarahan laki-laki yang berada tepat di sampingnya. Radit tak bergeming, dia hanya terdiam kaku menutup rapat mulutnya.
" Sayang,...aku beneran cuma ketemu di acara itu aja, kalo di sekolah juga jarang ketemu"
" Aku cuma sayang sama kamu, sungguh" Tari menghela napasnya dengan berat. Radit masih saja terdiam. Lebih baik ia melihat Radit marah, ketimbang dia terdiam seperti itu.
" Kamu gak percaya sama aku, kamu pikir mentang-mentang aku jauh dari kamu terus aku cari pelampiasan lelaki lain, kamu anggap aku cewek gampangan kayak gitu" Tari sudah tidak sabar. Dia sudah menjelaskan semuanya tapi Radit masih saja diam.
" Aku pulang aja!!!" ucapnya lagi sambil meraih pintu mobil dan hendak membukanya. Namun dengan cepat Radit meraih tubuhnya dan memeluknya erat. Ia membenamkan kepalanya di bahu Tari.
" Kamu tau kan, aku sayang banget sama kamu, sayang... kamu tau gimana keadaan aku tadi malem pas liat foto kamu ini"
Radit berbicara tanpa melepaskan pelukannya.
Tari juga heran, padahal sudah berkali-kali ia menjelaskan hubungannya dengan Yudi adalah masa lalu, dia tidak mungkin memiliki perasaan lain terhadap Yudi, apalagi ia sudah memiliki Radit yang sangat menyayanginya.
Tapi tetap saja, Radit bahkan melarang Tari bertemu bahkan berbicara dengan Yudi. Padahal permintaan Radit itu adalah hal yang konyol, tidak mungkin dia tidak bertemu atau berbicara dengan Yudi, mereka mengajar di sekolah yang sama. Tapi begitulah Radit, tidak ingin mendengar penjelasan darinya.
__ADS_1