
Radit POV
Aku menggandeng Tari menuju lantai 2, tempat kamarku berada. Mengabaikan Ibu, yang masih saja mengoceh padaku. Sebenarnya bukan tentang kasur yang tidak empuk yang menjadi masalah, aku hanya ingin Tari tidur di atas kasurku. Tempat yang biasa aku pakai untuk berbaring. Aku ingin, aroma tubuhnya melekat di kasur ku nanti. Makanya, aku menyarankan pada Ibu, agar Tari tidur di kamarku saja.
Sebenarnya aku ingin sekali tidur dengannya, memeluknya hingga pagi. Tapi, jika ku utarakan niatku pada ibu, yang ada ibu sudah menggorok leherku. Sedari kecil, aku sudah di ajari agama. Aku tau..aku hanya ingin memeluknya saja. Rasanya ingin aku percepat saja acara pernikahanku..
Tari hanya mengikuti langkah kakiku, dia memang belum pernah sekalipun masuk ke kamarku. Selagi bertamu kemari, aku tidak pernah mengajaknya menginjakkan kaki ke lantai 2. Alasannya ya itu, Ibuku. Tari seorang wanita yang sopan, mungkin karena pekerjaannya sebagai seorang guru. Dia selalu waspada terhadapku. Aku, selalu aku yang memulai terlebih dahulu.
Lagipula, aku lama berada di Bandung. Jika sedang berada di Jakarta, aku lebih senang membawanya jalan-jalan keluar atau sekedar bermanja-manja di rumahnya. Jika Tari ku bawa ke rumah ini, yang ada ibuku akan terus menempelinya. Dan aku tidak memiliki kesempatan berdua dengannya. Egois memang, tapi seperti inilah diriku.
Ku buka pintu kamar yang memang tidak terkunci. Ku lihat Tari mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan kamarku. Cat berwarna putih, serta beberapa furnitur yang semuanya berwarna hitam mendominasi kamarku ini. Tidak banyak yang dapat di lihat, hanya lemari baju dan ranjang dengan ukuran no 1 adalah barang yang bisa di lihat di sini. Aku menuntunnya ke arah ranjang, lalu menyuruhnya untuk berbaring. Aku tahu, gadisku ini sudah lelah sedari tadi. Pagi hari dia sempat bekerja, lalu menunggu ayahnya di operasi hingga tengah malam seperti ini. Dia pasti sangat kelelahan. Tapi, aku belum ingin keluar dari kamar, aku masih ingin menatapnya menggenggam tangannya hingga ia tertidur. Dan hal itu benar-benar aku lakukan. Setelah dia terpejam, aku menutup pintu perlahan dan kembali turun ke bawah.
Aku melihat ibu dan ayah masih di ruang keluarga. Ngapain juga mereka? Bukannya tidur. Aku bertanya-tanya di dalam hati.
" Tadinya kalo 15 menit lagi kamu gak turun, mau ibu kawinin sekalian.!"
__ADS_1
Bukan ayah, tapi suara ibu langsung menggema di telingaku. Dia tadi sudah mewanti-wanti agar aku tidak berlama-lama di atas. Nyatanya hampir 1 jam berlalu , aku baru menampakan diriku lagi di hadapan ibu.
Aku tersenyum penuh arti, aku tau, ibu tidak benar-benar sedang marah.
" Kan Radit bilang, buruan bu.. Ibu yang bilang paling cepet 3 bulan lagi. Padahal Radit udah gak tahan."
Aku mendudukkan tubuhku di atas sofa sebelah Ayah. Ibu memukul kepalaku dengan majalah di tangannya.
" Liatin yah, anak ayah."
****
Hari ini Aku dan Tari akan memilih cincin pernikahan. Cuma cincin dan baju pengantin saja yang di haruskan aku ikut serta di dalamnya. Selain dari itu, hanya ibu dan Tari saja yang akan memutuskan semuanya. Tari pun menyetujui hal itu. Tari adalah wanita yang tidak terlalu rumit.
Semenjak mengambil alih jabatan di kantor pusat, memang kesibukanku sedikit bertambah. Ada beberapa hal yang harus aku pelajari, dan beberapa proyek lama maupun baru yang harus aku tangani sendiri.
__ADS_1
Rencana nya pernikahan kami akan di laksanakan 3 bulan lagi. Tidak terlalu mewah, jika di bandingkan dengan pernikahan anak pengusaha lainnya, pernikahanku tergolong sederhana. Tari tidak ingin pesta terlalu mewah, dan aku, akan menuruti apapun keinginan istriku. ya...aku sudah tidak sabar menjadikan dia istriku.
Seperti pagi ini, aku bangun tidur dan mendapati Tari dengan apron pinknya berada di dalam dapur. Ada ibu juga disana, tidak ketinggalan mbok Nah juga berada di dalam dapur. Dia sibuk kesana kemari menyiapkan sarapan kami.
Aku tersenyum lalu menarik kursi makan yang berada dekat dengan dapur. Tari tersenyum ke arahku. Dia melangkahkan kaki menghampiri meja makan, dengan segelas teh di tangannya dia meletakkanya tepat di mejaku. " Teh nya Dit".
" Sayang, kamu gak usah masuk ya hari ini. Kita mau cari cincin. Aku gak ada jadwal pagi, tapi siangnya ada pertemuan lagi. Aku dah bilang sama om Irwan kok."
" Kok kamu yang minta ijin sih Dit, harusnya kan aku ijin sendiri sama pak Irwan, aku gak enak kalo kayak gini"
" Kamu kan istri aku, sayang"
" Belum"
" Ya udah, aku ke dapur lagi ya"
__ADS_1
Dia mengabaikan ucapanku dan berlalu kembali ke dapur. Sarapan kali ini terasa berbeda. Tari mengambilkan nasi dan lauk di atas piringku. Belum jadi istri saja dia sudah seperti ini, aku sudah tidak sabar lagi.