
" Apa???"
" Seminggu lagi elo bilang?"
Radit uring-uringan di dalam kamar hotelnya. Roman mendadak mengabarkan pembatalan rencana kepulangannya ke Jakarta. Di karenakan ada masalah dengan produsen bahan baku yang di butuhkan perusahaan Radit. Sudah seminggu dia berada di kota asing ini, dia ingin segera pulang.
Apalagi Senin depan, dia ada janji untuk mencoba baju pengantin bersama Tari. Dia mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Roman yang sedari tadi duduk di sofa yang berada di kamar itu pun, hanya bisa menundukkan kepalanya.
Dia kurang handal dalam hal ini, bisa-bisanya dia kecolongan. Ini adalah kali pertama Roman melakukan kesalahan di hadapan Radit. Dia biasanya sangat teliti dan rapi. Entah kenapa , akhir-akhir ini, otaknya seakan tertinggal di Jakarta.
Selama seminggu berada di Kalimantan, Roman tidak bisa lagi bertemu dengan Milka sang sekertaris seksi bos nya. Biasanya mereka selalu berinteraksi, walaupun interaksi mereka lebih sering perdebatan dan pertengkaran. Tapi Roman menikmatinya.
Sekarang dia merindukan Milka, merindukan suaranya, merindukan wajahnya, merindukan pertengkaran mereka.
" 3 hari, pokoknya gue kasih lo waktu 3 hari. Elo beresin kekacauan ini segera Man, kalo gak, gue tinggal lo di sini. Gue kangen Tari. "
Radit menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Dia benar-benar kesal.
" Iya pak, gue usahain. Ni gue mau langsung ke TKP. Gue juga pengen balik pak. Kali-kali di Jakarta ada yang kangenin gue. Pengen gue cepetan pulang"
Radit menolehkan kepalanya ke arah Roman, mencebikkan bibirnya kesal.
" Mana ada???"
Roman hanya mengedikkan bahunya,lalu berlalu meninggalkan kamar Radit.
****
" Sayang"
Tari yang sedang memeriksa kertas ujian di kamarnya, menjawab ucapan Radit tanpa menoleh wajah Radit yang berada di layar ponselnya. Mereka sedang melakukan panggilan video, tapi daritadi Tari masih sibuk dengan tumpukan kertas di hadapannya. Tidak menghiraukan panggilan manja Radit.
" Sayang..aku kangen,kamu gak mau lihat muka aku?"
" Iya iya Mas, aku lagi ngoreksi kertas ujian Mas. Besok harus di bagiin."
" Aku aja yang seorang CEO perusahaan gak sesibuk kamu Yank.." ucapnya lagi dengan nada kesal.
__ADS_1
Tari meletakkan alat tulisnya, lalu membereskan kertas-kertasnya kembali. Menumpuknya dengan rapi di atas meja. Wajahnya beralih ke layar ponsel, Radit yang melihatnya tersenyum.
" Udah puas.. Ribet banget deh"
" Sayang, aku usahain 3 hari lagi pulang ya? ini semua gara-gara Roman. Dia kerjanya jadi gak becus yank... kelamaan jomblo kali dia Yank.."
" Huss, Mas gak boleh kayak gitu kalo ngomong"
" Emang iya kok, aku kesel banget tau gak, sekarang tu kunyuk gak tau lagi dimana?."
Karena sedari pertemuannya di kamar hotel sore tadi, Roman belum kembali ke hotel. Dia masih sibuk mengurusi masalah nya dengan salah satu produsen bahan baku. Sedangkan sang bos nya itu malah sibuk pacaran.
" Ya udah kamu sambil ngoreksi aja Yank, aku temenin"
" Beneran boleh, entar ngambek lagi kalo aku nya cuma fokus ke kertas"
" Iya sayang, tapi kalo kita dah nikah kamu gak usah ngajar lagi aja ya Yank.. kamu di rumah aja urusin aku, sama anak-anak kita!"
Tari yang sudah mulai bergelut dengan kertasnya kembali menoleh ke arah layar. Menatap Radit dengan kesal.
" Sayang, gak boleh ngomong kayak gitu. Pamali tau"
" Terserah"
" Aku kan cuma nyaranin sayang, bukan ngelarang."
****
Tok tok tok
Tari yang masih bergelut dengan kertas di mejanya menoleh ke arah pintu. Dia beranjak dari kursi,lalu membuka pintu kamarnya.
" Sibuk ya dek? " Raka menghampiri kamar adik tirinya.
" Gak sih Bang, ada apa?"
" Besok temenin abang ke pesta nikahan temen Abang ya Dek? Cecil besok gak bisa nemenin, Abang males pergi sendiri, suka di bully sama temen-temen."
__ADS_1
" Oh..iya Bang, Tari juga gak ada acara kok. Jam berapa acaranya?"
" Jam 7 ya dek, entar Abang siapin gaun buat kamu ya..?"
" Gak usah Bang, Tari ada kok"
" Bukan gitu Dek, ni Abang pilih yang warna nya sama. Biar serasi gitu"
" Terserah Abang deh"
Tari kemudian melanjutkan aktifitasnya kembali.
****
Di Kalimantan
3 hari telah berlalu. Roman dengan sigap menghampiri bosnya. Mereka berdua akan pulang ke Jakarta hari ini, dengan penerbangan paling pertama.
Radit sudah siap, melenggang pergi dari hotel dengan koper yang di geretnya. Matahari sudah terik di cakrawala.
Roman sudah berdiri di samping mobil yang akan mengantarkan mereka ke Bandara. Supir mengambil alih koper mereka berdua lalu meletakkannya di bagasi mobil.
Di dalam mobil Radit mencoba menghubungi kekasihnya, namun sudah beberapa kali mencoba, Tari belum juga mengangkat panggilan darinya. Hal ini membuat Radit gelisah. Terakhir kali menghubungi Tari adalah malam tadi. Dia sebenarnya sudah mengirim pesan semenjak ia bangun, tapi sampai sekarang pesan yang di kirim belum kunjung mendapat balasan.
Radit mencoba sekali lagi, ia berharap kali ini Tari menjawab panggilan. Namun hal ini tetap sama, panggilannya tetap tidak ada tanggapan.
" Man, kok Tari gak jawab telpon dari gue ya?"
" Ih, mana gue tau. Elo kan cowoknya?"
" Elo bisa gak sih, jawabnya yang lembutan dikit Man...."
Radit mencebik kesal,
" Lah terus gue harus jawab apa, kalo gue jawab tau alesannya lo pastinya ngamuk kan ma gue"
Mereka masuk ke dalam pesawat dan siap meninggalkan kota Kalimantan.
__ADS_1