Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Cinta dan Jarak


__ADS_3

"Dekat ataupun jauh, bersama ataupun tidak, tapi aku berjanji akan selalu setia padamu" Radit Wijaya


Hari ini tepat 3 hari semenjak kepergianya Radit ke kota Bandung. Masalah kampus sudah selesai dengan bantuan paman Irwan juga tentunya. Sekarang dirinya sedang berada di dalam ruangan yang berada di kantor nya. Ruangan ini adalah ruangan kerja milik Radit. Pak Wisnu, orang kepercayaan ayah ini tak henti-hentinya memberikan tumpukan kertas Radit. Radit sudah muak melihatnya. Dia ingin segera pulang menemui Tari. Dia sudah sangat merindukan gadisnya itu. Dia mengambil ponselnya di atas meja berniat menghubungi kekasihnya.


Sedang apa dia??? ini masih pukul 10 pagi, Tadi dia sudah menghubungi Tari, dan ia mengatakan ada jam mengajar sampai jam 2 siang nanti. Di letakkannya lagi ponsel itu di atas meja. Nanti saja lah aku menghubunginya...


Radit mulai mempelajari kertas itu satu persatu.. Aktifitasnya terhenti, karena suara dering ponselnya. Dia tersenyum, Tari menghubunginya..


"Iya sayang,,,"


" hemm,ini juga mau keluar makan..masih di kantor yang..banyak tugas yang harus aku pelajari."


Radit memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dan berjalan keluar kantor untuk makan siang.


****


Tari menutup ponselnya kembali, dia masih berada di ruang guru. Tidak sadar sedari tadi Ita sedang memperhatikanya. Tari memasukkan ponselnya kedalam tas, lalu menoleh ke arah sahabatnya.


" Mau ke kantin gak??? Tanya Tari pada Ita yang masih menatapnya tanpa berkedip.


" Kayaknya aku kenal baju yang kamu pakai ini"


Atasan blouse berwarna kream dengan model baby dol bermotif bunga-bunga adalah pakaian yang di pakai Tari saat ini. Di sekolah ini ada hari dimana para guru bisa menggunakan pakaian bebas, bukan seragam yang biasa mereka kenakan. Tari melirik penampilannya sekilas tidak ada yang aneh..


"Apaan sih" dengus Tari kesal.


" Kapan kamu kenalin pacar kamu Tar, aku aja baru pacaran ma Ronald langsung kenalin ke kamu. " protes Ita padanya.


" Dia gak ada di sini, ayok lah aku laper, ntar keburu rame,.." Tari berusaha membicarakan hal yang lainnya, agar Ita tidak lagi membahas masalah pacar lagi.

__ADS_1


Mereka berdua bergegas menuju kantin yang berada di pojok sekolah.


****


Hari terus saja berlalu..


Malam pun berganti siang, hari berganti bulan dan bulan pun kini sudah berganti dengan tahun.


Begitupun hubungan Tari dan Radit. Tak terasa, sudah setahun lamanya mereka berpacaran. Perjalanan Bandung Jakarta, Jakarta ke Bandung , sudah Radit lalui puluhan kali. Demi menemui pujaan hatinya itu. Dia juga tidak pernah absen menghubungi Tari, setiap terbangun di pagi hari ataupun pada malam hari, ketika Radit ingin memejamkan matanya, dia selalu menyempatkan waktunya untuk menghubungi gadis nya itu.


Dia tidak ingin Tari merasa jauh darinya.


Hari ini dia berencana pulang lebih awal dari jadwal biasanya. Biasanya Radit akan menempuh perjalanan Jumat sore dari Bandung lalu kembali lagi pada Minggu malamnya. Namun lain dengan hari ini.


Kamis pukul 2 siang, Radit memacukan kendaraannya di tengah jalanan kota Bandung menuju ke Jakarta. Berpacu dengan kendaraan-kendaraan lainnya, Radit mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Dia sengaja tidak menghubungi Tari. Dia ingin memberikan kejutan kepada kekasih itu. Hari ini tepat 1 tahun hari jadian mereka. Mungkin Tari tidak mengingatnya, karena dari sedari tadi saat mereka saling berkomunikasi via video call pun, gadis itu tidak membahas apapun.


Biarlah...hanya aku yang mengingatnya.. Saat dirinya berlutut di cafe setahun yang lalu, dan memaksa Tari menerima cintanya. Radit tidak akan pernah melupakan hal yang sangat bersejarah dalam hidupnya. Dari hanya bersembunyi mengagumi, bersembunyi memandangi, sekarang Radit bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan yang Tari jalani. Radit sangat bersyukur dengan keberaniannya kala itu, hingga bisa mengantarkannya dalam hubungan yang lebih dari sekedar pengagum.


Pintu rumah tidak tertutup, Tari terlihat sedikit kaget melihat kedatangan Radit yang mendadak. Radit sudah berada tepat di depan pintu, dia menghentikan langkahnya dan memilih diam di sana.


" Sayang..." Tari beranjak berdiri dari kursi dan langsung menghampiri Radit. Radit selalu memaksanya memakai panggilan sayang saat memanggilnya. Dan hal itu sudah Tari lakukan dalam beberapa bulan ini.


Di langkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Radit yang masih terdiam di depan pintu yang terbuka itu.


" Sayang,,kenalin ini Yudi. Dia guru baru di sekolah." Tari menatap mata Radit yang melihat dengan tatapan tidak suka pada sosok laki-laki itu.


Dia menggandeng tangan Radit lalu menyuruhnya segera duduk.


Yudi mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri, sedangkan Radit dengan sangat terpaksa menerima uluran tangan tersebut.

__ADS_1


Tunggu dulu..Yudi????bukannya nama mantan Tari juga bernama Yudi. Waktu itu, ibu Tari pernah menceritakan sekilas tentang masalalu Tari bersama pria yang bernama Yudi.


Radit menoleh ke arah Tari dengan tatapan curiga..


" Sayang, ambilin aku minum gih..aku langsung kesini loh dari Bandung, gak mampir ke rumah dulu" ucap Radit dengan nada yang biasa.


" Ada perlu apa kamu sama Tari, sampai bertamu ke rumahnya"


Setelah Tari masuk ke dalam dapur, Radit baru memulai perbincangannya dengan Yudi. Pertanyaannya sedikit menginterogasi, karena Radit bukan tipekal yang penyabar jika menyangkut masalah pacarnya.


Rencana membuat kejutan untuk sang pacar di hari yang spesial, justru saat ini dirinya yang terkejut.


" Santai broo, lo juga kan belum jadi suaminya. Kenapa jadi marah kayak gtu"


Wah..wah...ngajak perang ini orang. Radit tidak lagi duduk, dia sudah berdiri beranjak dari kursi saking marahnya.


" Gue minta baik-baik sekarang lo pergi dari sini, gue ada acara sama cewek gue.." Radit berkata dengan pelan agar Tari di dalam tidak mendengar ucapannya ini. Padahal yang sebenarnya dia ingin segera menyeret lelaki ini pergi dari rumah Tari.


" Ok, toh gue masih bisa ketemu di sekolah."


seloroh Yudi lagi sambil mengembangkan senyum yang licik.


Radit masih mengepalkan tangannya denga kesal. padahal laki-laki itu sudah menghilang dari hadapannya sedari tadi. Tapi rasa kesal di hati Radit belum juga menghilang.


Tari datang dengan sebuah jus jeruk di tangannya. Dia melongoh ke arah kursi..


Mencari keberadaan Yudi disana.


"Mas Yudi sudah pulang???" Tanyanya pada Radit dengan polosnya. Padahal orang yang di tanya sedang mencoba menahan marah, terlihat dari wajahnya yang sedikit memerah.

__ADS_1


Mas...Mas dia bilang...Tuhan boleh gak sih gue jedotin kepala gue di tembok. Tapi kalo gue mati, ntar yudi ngambil Tari dari gue..


" Mamas kamu udah pulang dari tadi." Jawab Radit ketus.


__ADS_2