
Roman sudah berkaca pinggang saat di lihatnya Radit masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Tidak sabar ingin mengumpat karena kesal, Roman sudah menyiapkan segala umpatan yang sudah ia tahan sedari tadi.
" 4 jam, elo bilang bentar pak.. bener-bener elo...tukang ngibul.." Baru saja kaki Radit melangkah melewati pintu. Sapaan sinis dari Roman lah yang terdengar nyaring di telinganya.
Roman masih ingin memaki lagi, tapi mulutnya tertutup saat wajah cantik Tari menyembul di balik badan Radit. Roman yang sedang kesal, hanya tersenyum canggung dan malu.
" Aku ganggu kan sayang" Ucapan Tari membuat Roman lebih canggung lagi. Dia tidak tau, jika atasannya itu akan membawa Tari kemari. Gaya bicara mereka memang seperti ini jika sedang hanya berdua, mereka berbicara formal jika sedang ada orang lain saja. Mengikuti Radit hampir 5 tahun , membuat hubungan keduanya sangat dekat. Roman lebih dari sekedar asissten bagi Radit, dia teman, kakak bahkan orang yang sangat dia andalkan dan dia percaya.
" Gak ganggu kok mbak, bener..." ucap Roman dengan canggung.
" Kamu masuk kamar aja sana, istrahat. nanti kalo dah selesai aku bangunin" Radit mengantar Tari ke ruangan yang berada di sebelah ruang kerjanya. Dia memang menyiapkan ruangan khusus untuk nya beristrahat atau sekedar berganti pakaian. Setidaknya ruangan ini juga berguna untuk Tari. Tari merebahkan dirinya di ranjang yang ada di ruangan itu, dia memang sudah sangat lelah. Apalagi saat ini sudah hampir tengah malam, pantas saja jika matanya sudah sangat mengantuk. Tidak menunggu lama, akhirnya dia pun terlelap.
Pandangan mata Radit tidak beralih sedikitpun dari laptop yang ada di hadapannya, menghitung dan mengamati deretan angka dan persen yang ada di depan matanya. Radit berusaha menyelesaikan laporannya dengan cepat dan tepat. Besok pagi akan di adakan rapat mengenai proyek barunya yang sedang ia tangani. Roman juga tidak kalah sibuknya, tak terasa waktu hamoir menunjukkan pukul 3 pagi, saat mereka mencetak laporan tersebut dan merapikan di dalam map.
" Akhirnya selesai juga pak" Roman menoleh ke arah pintu depan yang berada tepat di hadapannya.
" Ngapain ngelirik-lirik bini gue..."
Radit memelototkan matanya tidak suka.
__ADS_1
" Mau pulang, apa minep sini aja elo pak? Lagian bentar lagi juga nikah, gak apa apa kali ya kalo cuma tidur bareng mah?..."
" Berisik lo, udah sana balik. Besok datang jam 10 aja. Meetingnya juga abis makan siang." Radit kasian melihat Roman yang kelelahan akibat lembur.
Roman tersenyum dengan sangat lebar, dia tau di balik sikap Radit yang tegas, dia sebenarnya orang yang sangat perhatian.
" Terima kasih pak, gue balik yah...inget ..belom sah pak" Ucapnya meledek. Radit yang mendengarnya hanya tertawa.
Setelah pintu ruangan di tutup oleh Roman, dia masuk ke dalam ruangan tempat Tari berada. Di lihat gadisnya itu sudah tidur dengan sangat nyenyak, bahkan dia tidak sadar dari tadi Radit sedang memandangi wajahnya. Bahagia...itu yang di rasakan Radit saat ini, dia sangat bahagia memiliki Tari di sampingnya. Dia tidak sabar ingin menikahi Tari, tapi kata ibunya persiapan pernikahan tidaklah gampang dan butuh waktu. Padahal Radit hanya ingin menikah saja. Lalu hidup berdua dengan Tari. Ijab kabul di depan penghulu sudah cukup bagi Radit. Semakin hari, rasa ingin memiliki Tari semakin besar. Bukan hanya sekedar hasrat laki-lakinya saja yang sudah dia tahan selama ini, Radit sudah menahannya dengan baik selama ini. Radit hanya ingin selalu berada di samping, saat dia terlelap maupun terbangun di pagi hari.
Ibu bilang, wanita pasti punya impian pesta pernikahan yang megah dan mewah. Mungkin itu juga yang di rasakan Tari, Radit tidak mau egois. Dia akan mengabulkan apapun yang Tari inginkan. Baju apa yang ingin ia kenakan, pesta seperti apa yang ia inginkan. Radit akan mengabulkannya. Radit juga sedang membangun rumah impiannya bersama Tari. Radit sengaja tidak memberitahukan pada kekasihnya itu. Dia ingin menjadikan rumah itu, sebagai hadiah kejutan pada Tari di hari pernikahannya kelak. Ibunya lah yang akan mengurus semuanya di bantu dengan WO yang juga di pilih oleh ibu sendiri. Ibunya malah terlihat lebih antusias di banding kan dengan mereka berdua.
Radit merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong sebelah Tari. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan kaos biasa dan celana bahan pendek berwarna hitam.
Baru saja Radit terlelap, dia terbangun merasakan pergerakan ranjangnya. Masih dengan terduduk di atas ranjang, Tari mencoba mengambil ikat rambut lalu merapikan rambutnya.
" Mau kemana Yang..." suara serak Radit membuat Tari menoleh ke belakang.
" Udah pagi, aku mau pulang. Nanti karyawan kamu keburu dateng, aku malu kalo ketauan tidur di sini."
" Ngapain malu sih sayang..."
__ADS_1
Radit memeluk tubuh Tari dari belakang. Sebenarnya dia masih sangat mengantuk. Tapi memang, mereka sedang berada di kantor. Dan Radit tidak ingin, ada orang yang menggunjing Tari. Membuat kekasihnya dijadikan bahan omongan orang lain.
" Lepasin Dit, aku mau mandi dulu..."
" Kamu kenapa sih masih manggil nama aku, aku kan dah bilang jangan panggil nama lagi, panggil sayang, kayak aku manggil kamu"
" Aku belum terbiasa"
" Ya, di biasain lah sayang...kamu mah gak mau nyoba, gimana mau biasa!"
" Iya..iya sayang..."
Radit tersenyum riang, Lalu melepaskan pelukannya. Dia ikut bangkit dari ranjang dan mengikuti Tari ke kamar mandi.
" Ngapain ngikutin kesini sih...."
" Mau sikat gigi sayang, kamu masuk aja aku sikat gigi di sini"
" Sayang, Nanti baju kamu di bawain Milka, dia udah di jalan... Kamu pakai baju itu dulu ya, ntar kalo Milka dateng kamu baru ganti bajunya" Teriak Radit saat Tari masuk ke kamar mandi.
" Iya..."
__ADS_1
" Sayangnya mana...???" teriak Radit lagi..
" Iya..iya sayang..."