
Seminggu berlalu, akhirnya waktu yang di takutkan Radit datang juga. Dia harus meninggalkan Tari ke Kalimantan. Bisa seminggu atau mungkin lebih, Radit juga tidak bisa memastikannya. Karena ini kunjungan pertamanya, pasti banyak yang harus dia periksa. Ah Radit benar-benar tidak ingin pergi.
Apalagi sewaktu mengatakan pada Tari tentang kepergiannya, eh tidak sampai 1 menit, Tari sudah mengijinkannya. Tanpa berpikir terlebih dahulu, atau meminta dia untuk tetap tinggal. Benar-benar di luar dugaan.
Dia pikir Tari akan merajuk, memintanya untuk tetap tinggal. Apalagi mengingat pesta pernikahan mereka yang kurang lebih akan berlangsung kurang dari 2 bulan lagi.
Entah terlalu percaya dengan Radit, atau tidak terlalu peduli?? Radit jadi memikirkan Tari. Benarkah Tari mencintainya?
Mereka akan segera menikah, tidak mungkin Tari tidak mencintainya. Dia memang seperti itu, selalu bersikap dewasa dan mengerti keadaan Radit. Radit berusaha menepiskan pikiran aneh yang berada di otak kecilnya itu.
Dia bangun dari tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi. Seperti nya dia harus segera mengguyur kepalanya dengan air dingin. Benar kata orang, kalau kita mau menikah, ada saja godaannya. Mungkin pikiran seperti ini, termasuk godaan?
Dia menghidupkan shower, lalu membiarkan kepalanya terguyur air. Setengah jam dia berada di kamar mandi, lalu segera memakai pakaiannya.
Dia akan berangkat ke Kalimantan sore nanti, berdua dengan Roman asistennya. Radit memilih tidak berangkat ke kantor, dia malas kemana-mana hari ini. Jujur saja, tak ada omongan dari Tari membuatnya bertanya-tanya, apakan kadar cinta Tari untuknya ada separuh dari rasa cinta Radit untuk Tari?
Radit menuruni anak tangga dengan wajah yang lesu, walaupun sudah mandi tapi wajahnya tetep tidak bersemangat.
" Mas,"
__ADS_1
Radit menengadahkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk, lalu dia mempercepat langkahnya menuju lantai bawah.
" Sayang,,kok pagi-pagi sudah ada disini?" Radit benar-benar terkejut. Sungguh, dia tidak menyangka pukul 8 pagi, Tari sudah berada di rumahnya. " Kok gak bangunin aku Yank, sudah daritadi ya?" Dia mengecup kening Tari tidak peduli dengan keberadaan ayah yang tengah duduk di kursi makan, lengkap dengan koran dan teh nya.
" Kamu kan mau berangkat ke Kalimantan, aku mau temenin kamu sekalian siapin baju kamu Mas"
" Teh apa kopi?" Tanya Tari
" Teh aja ya, perut kamu ntar kembung minum kopi belum sarapan." Ucap Tari lagi.
Radit mengiyakan saja, karena memang benar dia sudah memiliki gejala maag.
Radit memandangi punggung kekasihnya yang sedang memilihkan beberapa pakaian. Dia sibuk, bahkan hingga beberapa kali mengganti beberapa pilihan bajunya dengan baju yang lain. Radit terkekeh sendiri melihat tingkahnya yang menggemaskan. Dia lupa, tadi pagi bahkan dia sudah meragukan cinta Tari padanya. Lihatlah sekarang, kekasihnya itu rela tidak berangkat bekerja demi menemaninya hari ini.
" Sayang, bajunya gak usah banyak-banyak"
Radit merubah posisi duduknya karena dirasa sudah mulai pegal. Dia duduk dengan sangat manis di tepian ranjang, sambil memainkan ponsel pintarnya. Tidak lupa, Radit juga masih setia memangku laptopnya. Karena memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor, membuatnya harus di sibukkan dengan beberapa pekerjaannya yang dapat ia kerjakan lewat virtual.
" Sayang, masukin bingkai foto yang di mejaku juga deh" ucapnya sambil mengarahkan pandangannya pada foto mereka berdua yang Radit letakkan di meja riasnya. Foto itu, foto yang di ambil sewaktu Radit melamarnya di Bandung. Tari sangat manis berdiri di samping Radit sambil mengapit lengan kekasihnya. Tidak lupa mereka juga memamerkan cincin pertunangan di kedua jari manis mereka berdua.
__ADS_1
Tari menghentikan aktifitasnya, lalu menoleh ke arah Radit.
" Kenapa di bawa Mas, kan di Hp kamu banyak foto kita berdua. Lagian kalo kangen kan tinggal video call aja toh Mas."
" Iya juga ya"
" Mas sini geh, ini dah cukup kan bajunya. Alat mandi kamu juga dah aku masukin semua Mas. Coba Mas cek lagi, takutnya ada yang ketinggalan. Nanti kamu di sana repot lagi."
Radit meletakkan laptopnya lalu menghampiri Tari. Dia ikut berjongkok di depan koper dan memeriksa barang-barang yang sudah di letakkan di sana.
" Seperti nya udah semua Yank.." Radit menutup koper lalu meletakkan di pojok ruangan. Dia menuntun Tari untuk duduk di tepi ranjang, sedangkan Radit memilih e sambil memegang tangan kekasihnya dengan lembut.
" Mas, di sana ati-ati. Jangan terlalu sibuk sama kerjaan terus lupa sama makan. Mas tuh punya maag kalo kambuh entar gimana, gak ada aku apa ibu di___"
Radit membungkam bibir kekasihnya itu dengan bibirnya, lalu ********** dengan lembut.
" Mas..aku belum selesai ngomong ih.."
" Udah diem" Radit menciumnya kembali, dan kali ini lebih bergairah dari sebelumnya. Tari juga membalas ciuman Radit, dia mengalungkan tangannya memeluk Radit dengan erat. Memperdalam ciuman mereka dengan gelora yang membuncah.
__ADS_1
" Aku sayang sama kamu Yank..., kamu baik-baik ya di rumah. Tunggu aku pulang. Jangan nakal" Radit mencium bibir Tari sekali lagi.