
Radit menciumi bibir Tari bertubi-tubi, gairahnya membuncah menahan rindu. Tari mencoba mendorong tubuh laki-laki di hadapannya, namun Radit tidak ingin menghentikan aksinya. Dia terus saja mengeksplor bibir Tari dengan ganas. Bahkan tangannya sudah merengkuh pinggang Tari agar lebih mendekat kepadanya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mobil, spontan menghentikan ciuman mereka. Radit menoleh, melihat mang Ujang sudah berdiri di sebelah pintu mobil. Mungkin mang Ujang melihat kegiatan mereka tadi, Tari benar-benar malu, tapi tidak dengan Radit, dia terlihat tidak peduli sama sekali. Mereka sudah lama di dalam mobil, pantas saja mang Ujang memanggil mereka. Radit membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu. Terlihat dia berbicara dengan mang Ujang, lalu mang Ujang pun berlalu meninggalkan Radit. Tari membuka pintu mobil, dan keluar mengikuti langkah kaki Radit yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Radit.
" Sayang...Kamu kenapa nunduk gitu terus, nanti kesandung"
Radit menoleh ke arah Tari,
" Aku dah bilang jangan cium-cium, kamu tuh suka gak dengerin aku, aku malu sama mang Ujang."
" Mang Ujang gak liat, lagian ngapain cuma ciuman doang gak ngapain-pain.. ayok buruan ibu dah nungguin sayang.." Radit meraih tangan Tari dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
****
Ternyata di dalam rumah keluarga Wijaya sedang dalam keadaan ramai. Ada beberapa orang terlihat di sana. Bahkan ada yang sedang di dalam dapur juga. Hanya Melda dan Roman, yang di ketahui Tari, sedang yang lainnya Tari tidak mengenalnya. Tari merasa canggung. Mungkin di keluarga Radit akan mengadakan acara.
" Bu..." Radit memanggil ibu yang sedang berada di dapur. Ibu menoleh, dan tersenyum karena ada Tari di sampingnya. Ibu sudah merindukan Tari, semenjak Radit kuliah di Bandung, Tari jadi jarang menemuinya. Radit juga jarang sekali membawanya ke rumah, dia lebih suka mendekap Tari sendiri.
Ibu yang berada di dapur pun melangkahkan kaki, bergerak menghampiri mereka.
Ada 3 orang di dalam dapur juga melihat ke arah Tari dan Radit, mungkin saudara dari ibu, karena terlihat dari wajah mereka, sangat lah mirip. Mereka menatap Tari dengan tatapan aneh. Tari merasa tidak enak hati. Ia tersenyum kala ibu datang dan langsung memeluknya, mencium pipi kanan dan pipi kirinya. Hal ini memang kebiasaan ibu, jika bertemu dengan Tari.
__ADS_1
Ibu memandang ke arah Radit, mengamati dengan cermat putranya ini.
" Kamu kusut banget kayak gitu, naik ke atas dan mandi dulu sana."
" Tari aja yang di peluk, padahal Radit ini yang anak ibu lho.." ucap Radit meledek.
" Orang kamu bau !" jawab Ibu lagi.
" Kamu heran ya kenapa di rumah ini ramai sekali, temen ayah mu mau pada datang, dan kebetulan bibi nya Radit juga sedang ada di Jakarta." jelas Ibu dengan panjang kali lebar.
" Ayok, ibu kenalin sama mereka.." Ibu menggandeng lengan Tari mengajaknya menuju ke area dapur. Di sana sudah ada bibi dan 2 anak gadis yang salah satunya Tari kenal, yaitu Melda. Ibu mengenalkan Tari pada mereka, namun tanggapan dari ketiganya tidak menyenangkan buat Tari.
" Jadi dia mbak, yang udah bikin Radit nolak di jodohin sama Melda" ucap bibi Radit kepada Ibu. Tari sedang berada di kamar mandi dan ingin merapikan rambutnya yang mungkin berantakan. Atau sekedar memoles lipstik pada bibirnya, kepercayaan dirinya hilang saat melihat reaksi dari bibi Radit. Siapa sih Tari??? Ia juga sebenarnya sadar diri, tapi dia juga tidak bisa membohongi hatinya, dia sangat bahagia dan nyaman berada di samping Radit. Begitupun dengan Radit,. Hubungan kedua nya kini sudah hampir menginjak tahun ke 2 , membuat Tari lebih mengenal Radit lebih dalam lagi. Kedua keluarga pun merestui hubungan mereka. Tapi Tari tidak tau, dengan keluarga besar Radit. Mungkin tanggapannya akan seperti ini.
Tari sedikit mendengar perdebatan antara kakak beradik ini, karena letak kamar mandi yang Tari gunakan terletak tidak jauh dari dapur. Ia terdiam sesaat mendengarkan dengan cermat. Setidaknya ibu Radit masih membelanya.
Setelah pembicaraan keduanya berakhir, akhirnya Tari memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
Ibu yang melihatnya langsung meminta Tari membantunya membawakan masakan yang sudah matang ke atas meja makan. Tari membawa beberapa gelas di atas nampan, tapi dengan cepat Melda mengambil alihnya dan langsung membawanya ke meja makan. Tari terdiam sesaat, Mbok Rah yang jelas melihat kejadian itu terlihat sangat kesal dengan kelakuan Melda. Dia memberikan mangkuk berisi sayur sop, lalu membiarkan Tari membawakannya ke meja makan.
" Tar, kamu susul Radit ke kamar gih, suruh buruan turun. Bentar lagi ayah sampek."
Tari menoleh ke arah ibu, lalu menganggukkan kepalanya. Dia melewati Roman yang sedang duduk manis di sofa depan televisi, Tari sekilas tersenyum ke arahnya. Di atas meja sudah tersedia teh hangat untuk Roman, mungkin Mbok Rah yang menyajikannya. Melda juga mengikuti Tari dari belakang, lalu berbelok dan ikut mendudukkan tubuhnya di sofa dekat dengan Roman.
__ADS_1
" Mas Roman, baru nyampek ya..?" Melda bertanya dengan nada yang di buat-buat membuat Tari menggidikkan bahunya. Ia memilih menaiki anak tangga, dan menuju kamar Radit di lantai 2.
Melda memang sudah mengenal Roman, karena semenjak di kenalkan pada keluarga Wijaya oleh ibunya, Ia sering datang kemari. Mencari-cari perhatian dari ibu Radit, bukannya orang tua Radit tidak memahami maksud dari Melda, tapi Melda adalah anak temannya dan juga teman adiknya. Jadi mereka hanya berusaha menjaga perasaan Melda saja.
Tok tok tok.
Tari mengetuk pintu, dari dalem Radit hanya berteriak menyuruhnya masuk tanpa membukakan pintu untuk Tari. Radit sengaja berlama-lama di dalam kamar, tidak ingin segera turun ke bawah bergabung dengan mereka. Dia tau, ibunya pasti akan menyuruh Tari memanggilnya. Jadi dia sengaja berlama-lama.
Begitu pintu terbuka, Radit tersenyum ke arah Tari. Dia sedang duduk memegang ponselnya, memeriksa beberapa email yang masuk. Ada beberapa tentang perusahaan, ada juga tentang tugas kuliahnya.
Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu berdiri dan berjalan ke arah Tari.
" Aku masih kangen" Radit memeluk Tari yang masih berdiri di hadapannya.
" Udah ih, Ibu dah nungguin di bawah" Tari melepaskan pelukan Radit, lalu berbalik memunggunginya.
Radit berjalan berputar, dan memandang wajah Tari lagi.
" Kenapa..?? Bibi ngomong macem-macem ya."
Radit seperti peramal saja, bagaimanapun Tari menyembunyikannya, Radit selalu mengetahui apa yang sedang di pikirkannya.
Tari menjawab dengan gelengan kepala, lalu mencoba tersenyum menatap Radit.
__ADS_1
Radit sebenarnya sudah tau, bibi sudah bicara pada nya terang-terangan menolak keberadaan Tari, malah bibi menjodohkannya agar berpacaran dengan Melda. Tapi Radit dengan tegas menolaknya.
Radit mengecup kening Tari sekilas, Lalu mengajaknya segera turun ke lantai bawah.