
Ita sempat berdebat dengan kedua orang tuanya, pasalnya Ita menginginkan acara 7 bulanannya di adakan pas week end atau hari Minggu. Tapi orang tuanya kekeh, mengadakan acara 7 bulanan pas hari Kamis. Bertepatan dengan tanggal 7 bulan ini. Menurut mereka, acara 7 bulanan harus mengandung angka 7, 17 dan 27. Mereka masih percaya dengan pepatah nenek moyang mereka. Dan akhirnya Ita dan Ronald mengalah dan memilih tanggal 7 sebagai tanggal acara 7 bulanan calon bayi mereka. Mereka mengikuti saja apa yang orang tuanya inginkan.
Ayah dan ibu Ronald juga sudah datang dari kemarin, membantu menyiapkan persiapan acara 7 bulanan calon cucu mereka. Para orang tua ini sangat bahagia, pasalnya bagi kedua belah pihak , anak dari Ronald dan Ita ini sama-sama cucu pertama bagi mereka. Jadi pantas saja,jika para orang tua itu sangat bersemangat sekali. Mereka di bantu oleh asisten rumah tangga Ita, menyiapkan segala macam makanan dan minuman serta aneka camilan buat acaranya. Ronald juga sengaja mendekor rumahnya dengan beberapa hiasan dan bunga sehingga terlihat semakin cantik.
Berhubung hari Kamis, termasuk hari kerja. Ita memutuskan mengadakan pengajian pada siang harinya, dan mengundang rekan-rekan guru pada sore harinya.
Ita sangat bersemangat menyambut kedatangan rekan-rekannya, ada rekan dari kantor Ronald juga yang sengaja mereka undang dalam waktu yang sama. Dia keluar masuk dapur menyiapkan beberapa makanan dan minuman ringan. Padahal Ronald dari tadi sudah melarangnya. Perut Ita sudah terlihat membesar, ada bibi juga yang membantu, Ayah dan Ibu juga ada, Tari juga ikut membantu tapi dengan keras kepalanya Ita masih saja ngotot ikut menyiapkan makanan bagi rekan-rekannya.
" Kamu duduk aja sih Ta, aku ngeri lho liatnya" Tari melirik Ita dan memandangi perutnya yang terlihat buncit. Dia keluar masuk dapur, dengan perut yang besar membuat Tari ngeri sendiri.
" Kaki mu gak pegel apa, dah duduk aja sana."
Ucap Tari lagi setelah perkataan pertamanya terus di abaikan Ita.
" Tinggal ini aja kok, yuk kamu juga ikut keluar.." Pinta Ita agar Tari ikut dia keluar dari dapur. Tari mengambil alih makanan yang di bawa Ita dan melenggangkan kakinya meninggalkan sahabatnya yang masih terbengong.
Mereka berbaur dengan rekan kantor Ronald, terlihat sekali sedari tadi Rere curi-curi kesempatan memandangi Yudi yang ada di hadapannya. Rere terlihat menyukai Yudi, dia sudah beberapa kali menyampaikan perasaannya tapi dengan jahatnya Yudi selalu menolaknya.
Seluruh guru di sekolah tau jika Rere naksir Yudi, tapi tidak ada yang tau jika Yudi mantan pacarnya dulu. Tari tidak berbohong, toh tidak ada yang bertanya juga.
__ADS_1
Rere termasuk gadis yang ceria, dia tidak malu-malu menunjukan perasaannya di depan semua orang. Menurut dia, cinta itu harus di perjuangkan..
****
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, mereka masih makan malam bersama di kediaman Ita. Tari memilih keluar karena sedari tadi ponselnya berdering. Jika tidak segera di angkat Radit bisa ngomel padanya..
Tadi dia sudah izin jika akan pergi ke rumah Ita, dia tidak bilang jika berangkat bersama dengan teman-temannya. Dia tidak bilang jika bareng Yudi juga.
Jangan deket-deket sama Yudi, laki-laki laen boleh tapi gak sama Yudi. Gak usah ngobrol sama dia, kalo papasan di sekolah menghindar aja.
Tari tersenyum mengingat perkataan Radit tempo dulu. Aneh saja jika ia tidak mengobrol dengan Yudi, merek satu sekolah.
Tari: Yang laen masih makan, mungkin sebentar lagi Dit.
Radit: Mang Ujang udah nungguin daritadi loh, aku dan hubungin dia tadi suruh jemput kamu ,sayang....
Tari : Hah...
Mata Tari melirik ke depan, karena dia sekarang ada di halaman. Dia melihat mang Ujang sedang menunggunya di sebrang di samping mobil yang biasanya di pakai Ibu Radit.
__ADS_1
Tari : Ih ngapain nyuruh mang Ujang jemput sih, aku kan bisa bareng temen-temen..
Radit : Aku pengen jemput, tapi gak bisa. Jadi di wakilin mang Ujang dulu ya... ucapnya seraya tertawa..
Temen-temennya pun ikut keluar, karena malam semakin larut.mereka memutuskan untuk berpamitan pada seluruh keluarga Ita.
Ita dan Ronald mengantar mereka sampai ke depan teras, dan mengucapkan terimakasih atas kedatangan para rekannya.
Mereka tersenyum dan melambaikan tangan, lalu mereka berlalu ke dalam mobil masing-masing.
Mang Ujang menghampiri Tari saat di lihat nya, Tari sudah berada di pelataran rumah Ita.
" Sudah mau pulang non, ayok mobilnya di sebelah sana" ucap mang Ujang..
" Loh kamu di jemput bu.." Rere bertanya.
" Iya, maaf ya gak bisa bareng pulangnya"
Tari melangkahkan kakinya mengikuti mang Ujang yang sudah berjalan terlebih dahulu.
__ADS_1