
" Buka gak? kalo gak, aku dobrak nih..." Radit meninggikan suaranya. sudah kesal di bujuk daritadi tapi Tari tetap tidak juga bergeming. Daun pintu di hadapannya tidak juga terbuka. Radit kesal, dia mengkhawatirkan kaki Tari yang terluka.
Dia dan Raka sudah memasang aba-aba, dan memutuskan untuk mendobrak saja pintu kamar Tari. Radit menoleh ke arah Raka, Begitu pula dengan Raka. Seakan mereka berdua menghitung satu dua tiga di dalam hati masing-masing.
Baru saja mereka berdua bersiap mendobrak pintu, pintu kamar Tari terbuka. Nafas lega terdengar dari wajah Radit dan Raka. PPPK yang di persiapkan ibu di sambar Radit dengan segera, ia melesat dengan cepat ke dalam kamar Tari.
Tari duduk di pinggiran ranjang, di lihat wajahnya sudah sembab dan masih ada sisa-sisa air mata di sana. Radit mengerti, ini berat buat Tari. Ayah yang dia tau sudah meninggal, tiba-tiba hadir kembali di kehidupannya. Kebohongan yang ibu sampaikan padanya ketika dia masih kecil hingga kini, terlalu sakit bagi Tari.
Radit melangkahkan kakinya dengan helaan nafas yang berat, dia juga ikut sedih melihat kekasihnya seperti ini. Radit melihat ke arah kaki Tari, darah segar masih mengalir di sana. Sesaat Radit mengeram kesal. Harusnya Tari tidak seperti ini! Melukai tubuhnya, tidak memperhatikan lukanya.
Radit menunduk, berlutut di hadapan Tari yang masih duduk terdiam mematung. Dia mengambil tisu, lalu membersihkan kaki Tari yang terluka. Tidak lupa dia mengoleskan obat di atasnya.
Radit beranjak, lalu ikut duduk di sebelah Tari. Dia meraih tangan Tari, lalu meletakkannya di pangkuannya. Hening sesaat, Radit tidak ingin berkata apapun. Dia hanya meraih kepala Tari dan meletakkannya di bahunya yang kekar.
" Kamu harus dengerin dulu penjelasan ibu, jangan menebak sendiri, aku yakin ada alasan di balik semua ini "
Tak ada jawaban dari Tari, isakan tangisnya malah terdengar semakin kencang. Dia bahkan sudah membenamkan seluruh wajahnya di bahu Radit. Tidak ingin berkata apapun, Tari hanya ingin menangis di pangkuan kekasihnya. Melepaskan semua kesedihan yang di rasakannya.
Setengah jam berlalu, Radit hanya diam dan tidak berkata apapun lagi. Dia membiarkan Tari nya menangis sepuasnya.
__ADS_1
" Menangislah sekarang, tapi besok jangan.."
" Dan jangan lagi melukai tubuhmu, sekarang kamu bukan hanya milik mu sendiri, kamu tunanganku dan sebentar lagi kita akan menikah. Jadi jangan macam-macam.." Tegas Radit pada Tari.
****
Radit keluar kamar setelah di lihatnya Tari sudah terlelap dalam mimpinya. Butuh waktu lama untung menenangkan gadisnya itu. Raka dan ibu masih setia menunggunya di sofa ruang tamu. Waktu memang sudah beranjak malam, Dari tadi ponselnya juga terus berdering tapi terus saja dia abaikan. Dia hanya mengangkat telpon dari ibunya tadi dan mengabarkan jika dia mungkin akan pulang terlambat.
Selain dari itu, Radit tetap mengabaikannya.
Dia duduk di sebelah ibu, dan Raka. Lalu mendengarkan dengan seksama cerita dari keduanya. Ibu juga mengenalkan pada Raka jika Radit ini adalah calon menantunya.
Radit juga tidak bisa menyalahkan Raka di sini, jika dia ada di posisi Raka saat ini mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama.
" Aku coba buat ngomong ma Tari, tapi aku gak janji ya... aku gak mau maksa, aku akan ikutin apapun keputusan dia"
" Thanks bro..."
" Sama-sama.."
__ADS_1
Mereka berdua pamitan pada ibu lalu masuk ke kendaraan masing-masing.
****
Jam sudah menunjukan pukul 12 siang, tapi Radit masih sibuk dengan tumpukan kertas yang berada di atas mejanya. Hanya 2 hari dia tidak masuk kerja, tapi kerjaan dari pagi seakan tidak ada habisnya. Dia bahkan tidak bisa keluar untuk makan siang, padahal tadinya dia ingin menengok Tari sebentar. Tapi jika di lihat dari keadaan yang seperti ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain meneruskan pekerjaannya yang sudah menanti. " Man, pesenin makan ya... terserah apa aja lah. " Perintahnya pada asisten pribadinya itu, saat di liriknya Roman memasuki ruang kerjanya. Roman bahkan belum menutup pintu, tapi satu perintah sudah keluar dari mulut bosnya itu.
" Siap pak"
Ucapnya seraya membalikkan badannya menuju luar ruangan Radit. Dia segera memencet tombol di ponselnya dan menghubungi aplikasi online yang bisa mengantarkan jasa makanan. Jaman sudah sangat modern, membuat pekerjaan Roman lumayan terbantu.
Tadinya dia ingin mengajak bos nya itu makan siang, tapi rencana nya ia urungkan sebab sepertinya Radit masih banyak pekerjaan. Dia pun tidak bisa keluar makan siang, jika bosnya sendiri tidak meninggalkan ruangan. Dia berjaga-jaga jika Radit membutuhkan dirinya.
Dia kembali duduk di mejanya. Sambil menunggu makanan pesanan tiba, dia mengecek beberapa email yang masuk.
Sedangkan di ruangan Radit, dia beberapa kali mencoba menghubungi Tari tapi panggilannya tidak juga di jawab. Radit berdiri mondar mandir dengan gelisah, dia takut sesuatu tejadi dengan gadisnya itu. Apalagi suasana hatinya sedang kacau. Dan Radit kesal, di saat seperti ini dia tidak bisa menemani Tari.
Radit mencoba menghubungi Tari untuk kesekian kalinya,
Jika tidak di angkat juga, aku akan mendatanginya! ucap Radit di dalam hati.
__ADS_1