Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Hadiah dari Raka


__ADS_3

Saat pria dewasa menangis, di situlah titik rendah pria tersebut. Jika para wanita sering sekali mengeluarkan air matanya, tapi bagi pria hal langka itu jarang sekali terjadi. Dan jika hal itu terjadi, berarti dia benar-benar merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Permohonan maaf, serta pengakuan kesalahan di masa lalu, membuat Rafa sang Ayah tidak kuasa menahan tangis kepedihan yang ia pendam selama beberapa tahun ini. Dia benar-benar terpuruk. Raka tau betul bagaimana perasaan ayah.


Dengan bantuan Dirga, Asisten pribadinya itu bisa melakukan segala hal dengan sangat cepat. Dia handal dan dapat di andalkan dalam segala bidang. Setelah berunding dengan kedua adiknya, Cecil dan juga Tari. Raka diam-diam menyiapkan dokumen pernikahan untuk ayah dan juga ibu. Kedua adiknya setuju adanya pernikahan ini, jika dengan ayah dan ibu, tidak usah di tanyakan lagi. Keduanya kentara sekali, jika masih memiliki rasa yang sama seperti dulu. Dirga sudah mengabari jika sudah tiba di rumah sakit lengkap dengan penghulu dan juga saksi. Untuk Wali dari Ibu, karena beliau sudah tidak memiliki saudara lagi, hanya adiknya yang berada di Semarang itu juga sudah Dirga datangkan langsung dari sana. Mereka akan tiba sebentar lagi bersama Dirga dan juga penghulu.


Ibu yang tidak mengetahui apa rencana dari Raka pun kaget saat melihat kedatangan adiknya dan juga penghulu. Setelah menjelaskan semuanya, akhirnya pernikahan pun di gelar dengan sangat sederhana di ruangan VVIP tempat ayah di rawat. Setelah ijab kabul di lafalkan oleh ayah dengan lantang, akhirnya ibu Rani kini resmi menjadi nyonya Adi putra. Tidak lagi secara siri, Karena Raka sudah mendaftarkan pernikahan mereka. Anaknya juga sudah menyiapkan sepasang cincin kawin untuk ayah dan ibu. Semua berjalan dengan lancar sesuai yang mereka harapkan.


Ayah masuk ke dalam ruang operasi tepat pukul 4 sore. Sesuai jadwal yang sudah mereka sepakati bersama. Radit datang dengan tergesa, setelah pertemuan pentingnya dengan klien sehabis makan siang, akhirnya dia bisa segera meninggalkan pekerjaannya dan menemani kekasihnya di ruang tunggu rumah sakit.


Pertemuannya kali ini memang cukup menyita waktunya, biasanya hanya butuh 1 jam saja bagi Radit untuk meyakinkan kliennya, nyatanya persentasi yang di bawakan secara langsung olehnya memakan waktu yang cukup lama. Di luar perkiraannya. Untung saja, pada akhirnya klien setuju dan memutuskan bekerja sama dengan perusahaan Radit.


Raka, yang sedari tadi tenang sekarang tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya. Setelah 3 jam berlalu, tidak ada dokter maupun perawat yang keluar dari ruang operasi. Hanya untuk sekedar menjelaskan apa yang terjadi di dalam. Cecil pun sudah berjalan mondar mandir sedari tadi. Sedang Tari dan ibu, hanya saling menggenggam tangan dan saling menguatkan. Masih dengan kebaya putih yang ia gunakan, ibu memeluk putrinya dengan erat. Dia tidak berhenti berdoa di dalam hati, semoga operasi ini berjalan dengan lancar.


" Duduk si dek, Abang pusing liat kamu mondar mandir gitu. Gak capek apa kaki?"


Cecil menghentikan aksinya, lalu beringsut memeluk Abangnya.


" Cecil takut Bang, dah 3 jam lewat loh Bang."


" Berdoa Cecil, semoga semuanya berjalan dengan lancar." Ibu yang juga berada di antara Cecil dan Tari berusaha menenangkan keduanya. Padahal di dalam hatinya juga ada perasaan takut yang berkecamuk.


" Sayang, makan dulu ya..kamu dari pulang ngajar tadi belum makan kan?"

__ADS_1


Radit tau, ini bukan saatnya memikirkan isi perutnya. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Tari melewatkan makannya. Tari memiliki magh, jika melewatkan makannya dia bisa saja kambuh.


" Aku mau nunggu aja di sini Dit" Tari memelas memohon pada Radit, agar membiarkannya kali ini.


" Enggak, makan dulu, ntar magh kamu kambuh gimana?"


" Iya Radit benar, kalian makan dulu. Raka ajak juga adikmu dan Dirga makan sekalian. Kalau ibu sudah makan tadi sebelum kalian datang, Ibu akan menunggu di sini"


Akhirnya mereka semua pergi ke kantin yang ada di rumah sakit. Memang nyatanya mereka semua melewatkan makan siang bahkan makan malamnya, saking sibuknya memikirkan pernikahan dan operasi. Setelah makan mereka semua kembali ke ruang operasi, tapi keadaan tetap sama. Belum ada dokter yang keluar, menandakan operasi di dalam masih berlangsung.


Akhirnya setelah sekian jam menunggu, dokter yang bertanggung jawab mengoperasi ayah pun keluar. Memberitahukan kabar gembira jika operasi yang ayah jalani berjalan dengan lancar. Beberapa saat lagi, ayah akan di bawa ke ruang inap kembali. Walau masih harus di pantau selama 24 jam pasca operasi, setidaknya berita baik ini sudah cukup membuat mereka sedikit lega.


****


Radit dan Tari tiba di kediaman Wijaya hampir tengah malam. Radit sudah menghubungi Ibunya jika Tari akan menginap di sini. Banyak kamar kosong di rumah Radit. Radit juga sudah menceritakan perihal ibu Rani yang sekarang sudah menikah kembali dengan ayah kandungnya yang tidak lain Rafa Adi Putra. Keluarga Wijaya, terutama Ayah memang sudah mengenal seorang Rafa. Sama seperti Raka dan Radit. Rafa dan Herman juga kenal karena mereka sama-sama pengusaha.


Ibu membukakan pintu, dia membawa Tari dan berjalan meninggal sang putra di belakang.


Radit berdecih lirih melihat tingkah ibu. Jika mereka berdua bertemu, selalu saja Radit di abaikan. Ayah juga masih terjaga, mungkin menunggu Radit dan Tari tiba.


" Bu, anterin Tari ke kamar Radit. Biar Radit tidur di kamar bawah."

__ADS_1


" Loh kenapa? Ibu dah siapin semuanya kok."


" Kamar bawah kasurnya gak empuk bu, empukkan juga kasur Radit. Lagian ibu ngapain sih, gak beli kasur yang sama?"


" Waktu itu lagi promo Dit, makanya ibu beli yang itu. Eh gak taunya kualitasnya beda"


" Uang ayah emang kurang bu, pake beli yang promo gitu."


Tari hanya diam mendengar perdebatan kedua anak dan ibu ini. Padahal kasur yang kata Radit tidak empuk itu, pasti lebihlah empuk daripada kasur yang berada di rumah Tari. Dia malah pernah tidur beralaskan tikar saja. kenapa malah ribut sih?


" Ayok, aku anterin ke atas" Radit mengapit lengan Tari lalu mengabaikan sang ibu yang masih ingin berdebat dengannya.


" Ajak makan dulu Dit, Tarinya.."


" Siapa yang mau makan tengah malem gini sih bu?" Radit menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke bawah tempat ibunya berada.


" Buruan turun, jangan lama-lama di atas. Belum sah.!" ucap Ibu lagi.


" Siap Ibu"


" Lama-lama kita gak nyampek-nyampek Yank kalo ibu ngomong terus"

__ADS_1


__ADS_2