Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bab 9 Sembunyi-sembunyi


__ADS_3

" Hallo" Tari meraih ponselnya, dia masih bergelut dengan selimut tebalnya. Hari sudah berganti, tapi matahari enggan muncul membuat Tari juga malas keluar dari mimpi indahnya. Setelah sholat subuh tadi, Tari tertidur kembali, hingga suara dering ponselnya berbunyi dan mengganggu tidurnya.


" Sayang..kamu baru bangun, aku dah jalan ke arah rumah kamu loh.." suara di ujung ponselnya mendadak membuatnya tersadar. Tari melupakan, jika dia sekarang sudah memiliki pacar.


" Radit, aku tidak ada jadwal mengajar pagi hari ini. Aku lupa memberi tahu mu." Tari sedikit menyesal membuat Radit menuju ke rumahnya dengan sia-sia.


" Lebih baik kamu langsung saja ke sekolah, mang Ujang bisa gak anter motornya ke rumah ku aja"


" Baiklah... Tapi aku merindukanmu.. keluar sebentar aku sudah di depan"


Tari bergegas mencuci mukanya, dan keluar menghampiri Radit. Ibu nya sudah pamit pergi sedari tadi.


" Kenapa kemari, nanti juga kan ketemu di sekolah" Tari menghampiri Radit dengan muka bantalnya. Padahal sekarang masih jam 6, tapi anak ini sudah sampai kemari.


" Pengen sarapan sama kamu sayang... kita ke cafe sebentar ya.. Aku sengaja gak sarapan di rumah."


Tari membukakan pintu untuk Radit dan menyuruhnya masuk.


" Ibu mana???"


" Ibu sudah berangkat kerja, makan di sini aja ya aku punya roti. Kamu mau di bikinin teh?" Tari berlali ke arah dapur guna membawakan roti dan secangkir teh untuk Radit.


Hubungan mereka baru seumur jagung, tapi mereka bahkan tidak canggung sama sekali.


" Kok malah jadi ngerepotin, aku kesini mau ngajakin kamu sarapan di luar.." Sanggah Radit lalu mengikuti langkah Tari dari belakang.


" Aku belum mandi" Tari mengucapkan tanpa ada rasa malu sedikitpun. Biasanya orang yang baru berpacaran akan sedikit jaga image tapi tidak dengan Tari. Dia bersikap apa adanya di depan Radit. Justru Radit sangat menyukainya.


" Mang Ujang sebentar lagi kemari,aku berangkat dulu ya.." Ucap Radit setelah mengecup kening Tari. Dia selesai sarapan dengan Tari, lebih tepatnya hanya dia saja yang makan. Karena Tari bilang masih terlalu pagi, dan dia belum lapar.


*****


Sekolah Radit juga adalah sekolah Tari waktu dia SMA dulu. Tari dengan mudah di terima sebagai tenaga pengajar di sana karena berhubungan dengan alumni juga. Jadi kepala sekolah di sekolah ini, sangat senang alumni sekolahnya dulu ada yang berprofesi sebagai guru. Dia bahkan sering membahas tentang kehidupan para alumni sekolahnya yang sekarang sukses di hadapan murid-muridnya saat upacara bendera.


Memang kepala sekolah tidak berbohong, banyak alumni dari sekolah ini yang menjadi orang sukses.


Mereka tersebar di berbagai posisi pekerjaan di Indonesia maupun luar negeri.


Sekolah SMA N 68 Jakarta ini termasuk sekolah favorite. Banyak anak dari kalangan elit yang bersekolah di sini, biayanya juga cukup mahal dan untuk daya saing pencalonan murid pun sangat sulit.


Menjadi tenaga pengajar di sini adalah hal yang sangat membanggakan bagi Tari. Walaupun dia masih tenaga honerer, tapi gaji di sini sangatlah besar. Dia bahkan bisa menabung dari sisa-sisa kebutuhannya sehari-hari. Tari juga termasuk orang yang hemat, dia biasa hidup sederhana dan tidak pernah berfoya-foya.


Kehidupannya sangat lurus sekali dan mungkin mendekati kata membosankan.

__ADS_1


Tari pernah sekali menjalin hubungan saat dia duduk di bangku SMA. Namun hubungannya kandas di tengah jalan, karena sang pacar memilih kuliah di jogja.


Mungkin dia tidak bisa berhubungan jarak jauh. Dan ketauan berselingkuh saat masih menjadi pacar Tari. Dari kejadian masa lalu yang meyakitkan itu, Tari tidak pernah lagi berhubungan dengan pria.


Tari berjalan menyusuri lorong-lorong kelas menuju ke arah ruang guru. Tari ada kelas pukul 10 pagi, dan dia akan menyiapkan bahan pembelajarannya. Hari ini Tari ada 4 kelas termasuk kelas Radit. Tari duduk dengan anggun di meja kerjanya.


" Tar, pulang nanti temenin ke cafe lagi ya" Ita menyapa sambil duduk di meja.


" Ini meja Ta, bukan bangku... lagian ngapain sih ke cafe lagi. Di jodohin lagi lo..."


" Gak juga sih...ini masih Ronald yang waktu itu."


" Ogah, mending aku tidur di rumah..."


Tari menjawab sambil berlalu, karena bel ganti pelajaran sudah berbunyi saat nya dia masuk ke dalam kelas.


" Jahat bgt sih jadi temen"... Ita masih aja ngedumel padahal Tari sudah keluar dari ruangan sejak tadi.


******


Tari melirik ponselnya, ada notifikasi pesan


" Ngajar kelas aku kan?"


" kok hemm doank"


" gak usah aneh- aneh deh. Awas kalo macem-macem di kelas. Aku gak mau lagi ketemu kamu!!!"


Tari membalas pesan Radit mengatakan padanya agar bersikap biasa aja selama di kelas.


Kita lihat saja, siapa yang lebih profesional di sini. Radit bergumam di dalam hati sambil menatap layar ponselnya.


" Iya sayang .."


Pintu kelas terbuka, dan di sinilah kelas XII Ipa 1. Kelas seorang Radit Wijaya. Radit juga adalah seorang ketua kelas, bahkan dia juga sempat menjabat sebagai ketua OSIS saat masih duduk di kelas XI tahun lalu.


Namun menurut peraturan kepala sekolah, siswa kelas XII tidak bisa mengikuti organisasi apapun dan di harapkan hanya fokus pada ujian nanti.


Tari mengajar kelas Matematika. Pelajaran yang paling di benci oleh kebanyakan siswa. Tapi tidak dengan Tari, ia sangat menyukai pelajaran ini dari dulu.


" Selamat pagi anak-anak....." Tari mulai menyapa para siswanya dan mulai mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling kelas.


Radit duduk di bangku tengah baris ketiga. Tari melihatnya sekilas dan tersenyum.

__ADS_1


" Sepertinya kalian bahagia..." begitulah Tari memulai kelasnya. Tidak ada lagi materi, karena memang sebentar lagi ujian. Jadi hanya tinggal latihan- latihan soal saja setiap pertemuannya. Begitupun dengan pertemuan kali ini. Hanya di gunakan Tari untuk memberikan kisi- kisi ujian beberapa tahun lalu.


Dia membagikan lembar kertas ke setiap siswanya. Dan memilih duduk kembali di meja guru.


" Tolong tenang...waktu kalian hanya 45 menit saja.."


" huhuhuhuhu" suara riuh siswa sudah menjadi hal yang biasa bagi Tari, apalagi jika mereka di berikan soal mendadak seperti ini. Pasti mereka akan protes.


Tari mengetuk-ngetukkan bolpointnya di atas meja. Dan menyuruh siswa nya kembali tenang. Sambil menunggu mereka selesai, dia memilih mengoreksi hasil latihan soal kelas lain.


******


Tari berjalan beringinan dengan Ita, Ita terus saja memaksa menemaninya ke cafe. Entah sudah berpacaran atau belum mereka, Tari juga tidak tau. Setiap di tanya tuh si Ita hanya nyengir kuda saja jawabnya.


" Aku kesal, kenapa terus-terusan melibatkanku"


" Kamu kan bisa pergi sendiri"


Tari terus saja protes, tapi tidak di dengar sedikitpun oleh Ita. Sebenarnya Ita tak serta merta mengajak Tari, ada niat terselubung di balik ini semua. Dia berniat menjodohkan Tari dengan temannya Ronald, dia seorang akuntan keuangan tempat Ronald bekerja. Semua ini sudah dia bicarakan dengan Ronald yang sekarang sudah resmi menjadi kekasihnya.


"Sudahlah gak usah berisik... Kita ke rumah mu dulu ya narok motormu, habis itu kita dengan mobil ku saja" hari ini Ita membawa mobil ayah nya. Ita sebenarnya termasuk dari keluarga berada, namun dia tidak pernah sombong. Dia jarang mengendarai mobilnya ke sekolah, dia malah lebih sering menggunakan sepeda motornya.


Dering ponsel Tari berbunyi, Radit menelpon...


" Sayang dimana,aku di parkiran"


Tuh kan, Tari melupakan Radit lagi. Hari ini Tari berjanji menemaninya ke toko buku.


Bagaimana menjelaskannya pada Radit...


" Aku mau ke cafe sama Ita.. Kamu ke toko buku sendiri dulu ya...."


Tari menyingkir menjauh dari Ita, dia tidak ingin Ita curiga padanya..


" *Jam berapa kamu pulang???"


" Berangkat juga belom, dah di tanya kapan pulang*???"


Radit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, rencananya bertemu Tari gagal. Tapi mau bagaimana lagi...


" Ya udah, aku gak jadi ke toko buku. Nungguin kamu ada waktu aja ya...?"


" Kalau udah pulang,kabarin aku..miss u..."

__ADS_1


Tari tidak membalas lagi perkataan Radit, dia masih malu. Tari lebih memilih mematikan ponselnya segera, lalu menghampiri Ita kembali.


__ADS_2