
Rafa Adi Putra, pria baruh baya yang nampak gagah. dengan selalu memakai setelan jas dan rambut yang selalu tersisir rapi,
Kini tergolek tak berdaya di sebuah ranjang rumah sakit. Semenjak kepergian Santi sang istri, yang selama ini dia sia-siakan telah menyisakan penyesalan yang teramat dalam di hatinya. 10 tahun sudah istrinya berpulang meninggalkannya beserta kedua buah hati mereka, membuat kesehatan Rafa menjadi kian terpuruk.
Di tambah lagi, pertemuan tak terduganya dengan Rina membuat daftar panjang dosanya. Rina, yang dulu dia nikahi secara siri. Rina yang tidak tahu bahwa Rafa sudah memiliki istri bahkan putra. Rina, yang terpaksa dia tinggalkan karena keadaan.
Betapa besar cinta yang Rafa rasakan untuk Rina, tetapi tetap lah suatu kesalahan. Nyatanya dia telah mendua, menyakiti kedua istrinya yang selama ini mencintainya dengan tulus. Istri sah nya itu, mengancam akan melakukan bunuh diri, jika dirinya tidak meninggalkan Rina. Sungguh dia benar-benar menjadi ******** sesat.
Rina yang sewaktu itu mengandung anaknya, dengan sangat terpaksa dia tinggalkan. Sikap Rina yang bijak, membuatnya merelakan Rafa untuk pergi kembali ke istrinya. Walaupun Rafa sadar, dia juga sangat terluka dan tersiksa. Tapi dia tersenyum saat melepas kepergiannya.
Rasa penyesalan, serta rasa yang penuh dosa membuat Rafa sering mengabaikan makannya. Bertahun-tahun hanya alkohol yang menemaninya. Hingga badannya ambruk dan berakhir di ranjang VVIP rumah sakit ini.
Raka sebenarnya masih menaruh kebencian pada sang ayah. Tega-teganya dia menduakan ibu, bahkan memiliki anak lain selain dari ibu nya. Dia marah, dia kecewa, dia bahkan mengabaikan ayahnya selama beberapa tahun ini. Tapi melihat kondisi ayah yang memburuk begini, Raka tidak tega membiarkan ayahnya semakin menderita. Walau bagaimana pun darah memang lebih kental dari pada air.
Ayah harusnya sudah menjalani operasi pengangkatan tumornya. Namun dia bersikeras tidak ingin melakukannya sebelum bertemu dengan putrinya hasil buah cintanya dengan perempuan lain.
Raka menelan ludahnya, dia sudah mengantongi alamat gadis itu. Di perkirakan gadis yang ayah bilang bernama senja itu sebaya dengan sang adik. Dia segera meninggalkan rumah sakit, lalu berjalan menuju parkiran mobil. Dia berniat menemui anaknya ayah, dan menyuruhnya menemui ayah di rumah sakit.
****
Raka mencoba mengetuk pintu, namun sudah beberapa kali mencoba sang empunya rumah tidak juga muncul. Ada tetangga yang kebetulan lewat di depannya ,memberitahukan jika keluarga ibu Rani sedang ke Bandung 2 hari ini.
Akhirnya Raka memutuskan untuk kembali pulang. Dia belum menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di samping kendaraannya.
Seorang pria muda tampan muncul dari balik kemudi mobil, di susul dengan Senja dan juga Rani ibunya. Raka memperhatikan wajah adik tirinya itu. Dia memang anak ayah, wajahnya, hidungnya, matanya mirip sekali dengan ayah. Lain dengan dirinya yang lebih mirip dengan ibu.
Raka keluar dari dalam mobil lalu menghampiri mereka. Ibu Rani, memang sangat cantik. Usianya yang tidak lagi muda, tapi wajahnya masih sama seperti yang terlihat di selembar foto yang selalu Raka bawa. Senja pun begitu, dia terlihat sangat cantik.
__ADS_1
Ayah pasti bahagia aku menemukan mereka?? Aku akan membawa mereka padamu yah, ayah harus sembuh...
Radit menatap sinis pria di hadapannya itu. Radit mengenal pria yang di hadapannya itu, semenjak berada di lingkup dunia bisnis, Sedikit banyak Radit mengetahui jajaran orang-orang penting yang juga berada di dunia yang sama dengannya.
Tapi kenapa dia ada disini? ada keperluan apa.. Radit bertanya-tanya di dalam hati.
"Ibu Rani ya..?"
" Anda siapa ya nak?"
" Bisa kita bicara di dalam bu, ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan, perkenalkan nama saya Raka."
Tari yang sedari tadi hanya terdiam juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
" Ya sudah, mari masuk nak." ada getaran aneh di hati Raka saat sebutan nak di sematkan untuknya oleh Rani. Dia memang sangat merindukan ibunya. Sekian tahun ibunya sudah meninggalkannya, dan dia sangat merindukan sosok ibu.
Radit membuka bagasi mobil, lalu mengeluarkan tas Tari dan membawanya ke dalam.
Dia masuk ke dalam rumah dan melewati ibu juga Raka. Dia memilih masuk ke ruangan keluarga dan meletakkan tasnya di sana. Tari pun mengikutinya dari belakang dan ikut duduk di sofa dekat Radit berada.
" Sayang kamu kenal pria di depan?"
" Aku gak tau" Tari menjawab sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.
" Aku buatin minum dulu ya, kamu mau minum apa Dit?"
" Apa aja sayang, yang penting kamu yang bikinin" Radit berkata sambil mengeluarkan tawanya.
__ADS_1
*****
Di ruang tamu Raka dan Ibu masih berbicara. Raka menjelaskan semuanya pada ibu Rani, tidak ada satu pun yang dia lewatkan termasuk meninggalnya ibu mereka.
Rani terkejut, dia tidak tau jika karena perbuatannya di masa lalu membuat Santi meninggal dunia. Walaupun Raka sudah berulang kali menjelaskan, jika semua ini sudah takdir dan bukan salah siapa pun..
" Ayah ingin bertemu anaknya, Senja bu.. dia tidak ingin melakukan operasi sebelum bertemu Senja dan juga Ibu"
Prang....
Gelas yang berisi teh panas jatuh ke lantai, tak berkeping. Tari masih terpaku di tempatnya, padahal panas dari teh yang dia buat sudah mengenai kakinya. Kakinya juga tergores terkena pecahan beling, tapi dia tetap terdiam. Radit yang sedang berada di ruangan lain pun langsung berlari ke arah Tari.
Begitu pun Raka dan Ibu pun langsung berdiri dan menatap Tari dengan kaget.
Tari berlari masuk ke dalam kamar, dia tidak peduli dengan kakinya yang penuh darah.
" Sayang..."
Radit bingung, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini.
Rani ikut menyusul putrinya ke kamar, dia berusaha mengetuk pintu kamar yang terkunci tapi Tari tidak juga membukanya.
Ibu menangis, dan terus mencoba membujuk Tari agar mau membuka pintu.
" Sudah bu, ibu lebih baik duduk dulu, biar Radit yang bujuk Tari."
" Tolong nak Radit, kakinya terluka harus cepet di obati"
__ADS_1
" Iya bu"