Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bab 3 Seperti mimpi


__ADS_3

"Jika ini memang mimpi,maka tolong jangan bangun kan aku," Raditya wijaya


Tari berdiri


" Radit, sepertinya ibu harus segera pulang" ucap Tari


" Baiklah bu," Radit ingin sekali menahan Tari agar tidak segera pulang. Tapi bagi Radit berbicara dengan Tari seperti ini saja sudah kemajuan yang luar biasa baginya. Biasanya di kelas dia hanya memandang Tari saja. Itupun tidak terang-terangan karena takut ketahuan.


Radit melihat dengan jelas Tari sangat terburu-buru. Mereka baru duduk setengah jam saja. Tapi ada apa dengan jantungku...monolog Radit di dalam hati. Bagaimanapun aku harus memilikinya. Tuhan...bantu aku...Pinta Radit tentunya hanya di dalam hatinya saja.


Radit benar-benar frustasi. Dia mengacak- ngacak rambutnya dengan kesal.


Terlihat Tari sudah berada di luar cafe,dan menghilang bersama motor maticnya.


Radit meminum lagi minuman yang dia pesan tadi,lalu matanya tertuju pada kursi di depannya. Kursi yang di duduki oleh Tari tadi.


Tas itu. Tas Tari tertinggal d cafe. Inikah bantuan yang Tuhan kirim padaku.? Radit menyunggingkan senyum nya.


Radit mengambil tas Tari, lalu berjalan keluar cafe dan segera menuju tempat parkir.

__ADS_1


Menaiki mobil sport keluar terbaru,langsung meluncur ke rumah Tari.


Dia bahkan melupakan Rega, sahabatnya yang mungkin sudah datang ke cafe menemuinya. Rega benar-benar terlambat, tapi ada baiknya juga dia terlambat. Radit terus saja mengukir senyum.


" Ibu Tari..Hallo..Assalamualaikum" sapa Radit di ujung ponselnya


Radit menelpon Tari selagi dia menyetir,mengabarkan jika tas nya tertinggal di cafe. Mungkin Tari sudah sampai Rumah. Tebakan Radit ternyata benar.


" Ini Radit bu, tas ibu tertinggal d cafe. Ibu dimana, biar aku antar ke rumah." sambung Radit lagi


" Benarkah, kamu tidak perlu mengantar ke rumah ibu" Tari benar-benar tidak tahu tas nya tertinggal. Mungkin jika ponsel yang tertinggal baru dia akan cepat sadar. Tari termasuk orang yang tidak bisa lepas dari ponselnya ini.


" Tidak bu, aku sudah jalan ke arah rumah ibu,tinggal masuk gang saja". Radit menjelaskan


" Kamu tahu rumah ibu" tanya Tari lagi


Bagaimana ini, Tari akan merasa aneh jika aku bilang tahu rumahnya. Radit terus saja berpikir agar Tari tidak curiga. Jawaban apa yang harus di ucapkan nya.


Selama ini jika tidak ada jadwal Tari mengajar di kelasnya, malamnya Radit akan pergi ke rumah Tari diam-diam. Hanya sekedar melihat pintu rumahnya. Segila itu perasaan yang Radit miliki untuk Tari.

__ADS_1


" Tahu bu, Ikhsan pernah menunjukkan arah gang rumah ibu padaku"..akhirnya otak encer Radit berfungsi dengan baik.


" Ya sudah bu, aku sedang di jalan lagi nyetir. Aku tutup telpon nya ya bu, Assalamualaikum.." Radit segera meletakkan kembali ponselnya.


Sepertinya dunia sedang berpihak pada Radit. Itu yang d pikirkan Radit sejak siang tadi. Bisa duduk di cafe berdua,sekarang bisa berkunjung ke rumahnya tanpa bersembunyi.


Doa Radit di kabulkan oleh Tuhan.


Mobil Radit terparkir tepat di depan rumah yang berwarna biru itu. Banyak pot- pot menghiasai depan teras rumahnya. Berbagai tanaman bunga ada,berbagai warna, berbagai bentuk. Tari memang suka berkebun. Menurut Tari, berkebun itu membahagiakan. Sesederhana itu definisi bahagia menurut Tari. Tari memang seperti itu, sangat sederhana. Dia merawat bunga- bunga nya ibarat anaknya sendiri.


Radit turun dari mobil, dan Tari keluar membuka pintu, bahkan sebelum Radit mengetuknya.


" Radit,kau sudah datang?"


" Ini bu,tasnya.." sambil mengulurkan tangan dan memberikan tas nya pada Tari.


" Silahkan masuk dan duduklah Radit"


" Terima kasih,bu"

__ADS_1


Mereka berbincang-bincang cukup lama sampai waktu menunjukan pukul 5 sore. Sudah 1 jam Radit di rumah Tari,akhirnya ia pamit pulang.


__ADS_2