Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Pulang


__ADS_3

Kota Bandung berbeda dengan kota Jakarta. Walaupun saat ini mereka masih berada di pusat kota, tapi udara yang berada di sini lebih bersih dan lebih sejuk. Tari dan Radit sedang berjalan-jalan di jalan setapak yang terdapat di kota Bandung. Kedua tangan mereka saling mengait, seolah waktu yang mereka habiskan bersama selama 3 hari di kota ini, belum juga cukup untuk mengobati rasa rindu keduanya.


Radit sengaja menahan Tari lebih lama di sini, sedangkan yang lainnya memilih meninggalkan kota Bandung terlebih dahulu. Ronald tidak bisa ijin lebih lama dari kantor, sehingga Ita menemaninya pulang. Sedangkan Rega dan Alvin memilih pulang ke Jakarta menumpang mobil Ita dengan dalih tidak ingin lebih lama lagi melihat kemesraan yang di pamerkan Radit pada Mereka.


Waktu masih sangatlah pagi saat Radit mengetuk pintu kamarnya tadi. Bahkan Radit tidak memberinya kesempatan untuk mandi karena akan terlambat melihat matahari terbit, jika harus menunggunya mandi terlebih dahulu. Dan akhirnya hanya dengan mencuci muka dan menggosok giginya, Tari mengikuti Radit yang entah akan membawanya kemana..


Setelah menempuh waktu sekitar setengah jam dengan berkendara, akhirnya mereka berjalan melewati jalan setapak menuju ke bukit yang berada di atas.


Tidak sia-sia perjuangan mereka, setelah berjalan beberapa meter dari parkiran mobil tadi, kini mereka berdua sedang berada di atas bukit., hamparan pohon yang berada di sekeliling tempat ini pun menambah suasana semakin sejuk, terlihat beberapa orang juga berlalu lalang seperti mereka, mungkin juga tujuannya sama, melihat matahari terbit..Radit merangkul bahu Tari dan meyenderkan kepala gadis itu di bahu nya yang bidang. Mata mereka menatap lurus kedepan, dan sinar matahari yang terlihat dari atas sini mulai muncul. Warna keemasan di atas langit terlihat indah dari tempat mereka berdiri. Radit mencium pucuk kepala Tari dengan lembut, membuat Tari menengadahkan kepalanya, menatap mata Radit yang juga menatap ke arahnya. Pandangan mereka bertemu, beberapa detik Radit dan Tari tidak ingin menghentikan aktifitas ini.

__ADS_1


" Makasih sayang, ini sangat indah" Ucap Tari dengan masih menghadap ke arah Radit. Netra nya tidak ingin berpaling dari kekasihnya itu, perasaannya menghangat, jantungnya berdebar dengan cepat.. Walau sudah setaun menjalin kasih, tetap saja jantungnya selalu berdebar dengan kencang bila sedang berada di samping pria ini.


" Aku mencintai kamu, sayang.." Radit menggenggam tangan Tari lebih erat, menyatukan bibirnya dengan lembut bibir Tari. Gairahnya menggebu, ia terus ******* bibir Tari dengan lembut, hingga napas keduanya memburu. Radit dan Tari sama-sama tidak ingin melepaskan ciuman mereka. Radit merengkuh pinggang Tari, membuatnya semakin mendekat. Lalu di ciumnya lagi bibir kekasihnya itu dengan sangat lama.


Radit tersenyum, wajahnya berbinar, dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Langkahnya menuntun langkah mungil kaki Tari menuruni jalan setapak menuju ke pelataran parkir kendaraannya.


" Sayang, nanti siang kita pulang ke Jakarta nya ya,, ada beberapa hal yang harus aku urus pagi ini sama pak Wisnu. Kamu gak papa ya aku tinggal sendiri dulu di hotel" Radit sudah menginjak gas mobilnya setelah memasangkan sabuk pengaman pada badan Tari.. Melajukan kendaraan nya segera menuju kembali ke hotel.


****

__ADS_1


Radit masih berada di ruang Rapat. Sungguh hal ini bukanlah impiannya, berada di balik meja bekerja dengan tumpukan kertas dan juga jadwal yang sangatlah padat. Tapi kalimat "demi ayah" Itu selalu jadi alarm pengingatnya saat hati nya sudah mulai lelah.


Ia bahkan melewatkan sarapannya tadi pagi, saking asyiknya mengajak Tari jalan-jalan. Sudah 2 jam rapat ini berlangsung, tapi pak wisnu belum mengisyaratkan rapat ini akan segera berakhir. Ia memang pimpinan cabang di sini, tapi segala keputusan final di perusahaan ini masih di pegang oleh pak Wisnu sampai ia memegang gelar sarjananya. Radit menghela napas panjang, bahkan sesekali memejamkan matanya yang memang sudah terkantuk. Sampai tepat pukul 12 siang, akhirnya rapat di hentikan dengan kesimpulan belum mendapat titik temu dari permasalahan yang di bahas tadi.


" Pak, Radit harus balik ke Jakarta siang ini. Radit ijin 3 hari ya pak, gak mungkin kan Radit langsung balik kesini lagi.." Ucap Radit sambil mensejajarkan langkahnya agar sejajar dengan pak Wisnu, Orang kepercayaan ayahnya. Sebenarnya pak Wisnu sudah mendengar perihal Radit yang membawa pacar nya ke hotel, semalam Pak Herman ayahnya Radit sudah menghubungi dirinya dan memberitahukan hal tersebut. Dirasa belum kunjung mendapat jawaban, akhirnya Radit berucap kembali.


" Sebenarnya kemarin Radit bawa pacar Radit kemari pak, sudah 3 hari ini dan sudah bilang sama ibunya juga kalau hari ini mau pulang ke Jakarta..." Radit menundukkan wajahnya lesu, matanya hanya memandang lantai yang ada di bawahnya. Pak Wisnu ini memang sangat tegas, dia patuh dan taat pada peraturan perusahaan. Dia juga tidak segan-segan menegur dirinya, jika memang melakukan kesalahan, walaupun ia adalah calon pimpinan perusahaan ini, tetapi tetap tidak menjadi pengecualian bagi pak Wisnu.


" Kenapa tidak di kenalkan ke bapak jika membawa kekasih mu?? Lagian bukannya di ajak menginap di rumah bapak, kamu malah ajak dia menginap di hotel. Kamu tau kan Radit, Ayahmu menitipkan mu pada bapak, jadi di sini, bapak lah orang tua kamu. " Radit menegakkan kepalanya kembali, di tatapnya wajah teduh milik Pak Wisnu. Ia sangat baik, tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Pantas saja ayah menyukainya.

__ADS_1


" Lain kali Radit kenalin ya pak,, sekarang Radit pamit pulang dulu"


" Ingat, hati- hati di jalan. kalau masih lelah jangan terburu-buru kemari, biar bapak yang tangani urusan di sini." ucapnya lagi sambil meletakkan tangannya di bahu Radit dan menepuk-nepuk bahunya pelan..


__ADS_2