
Kacamata hitam masih bertengger di wajahnya yang tampan, ia berdiri di samping pintu mobil menunggu kekasihnya tiba. Tangannya masih memegang ponsel, mengecek beberapa email dan membalas pesan dari Roman tentang pekerjaan. Wajahnya masih berfokus pada ponsel, sehingga tidak menyadari gadisnya sudah berada di hadapannya.
Tari bersama dengan kedua temannya keluar bersama menghampiri Radit yang sudah menunggunya. Radit menegakkan kepalanya lalu tersenyum ke arah Tari.
" Sayang..ini tadi ada pesan dari Roman."
" Kenalin temen-temen aku Dit." ucap Tari sambil memperkenalkan kedua temannya. Tadi mereka memaksa ingin berkenalan dengan pacar Tari, karena selama ini mereka hanya tau dari cerita saja jika Tari sudah memiliki pacar. Selama ini Radit dan Tari selalu bertemu weekend, jadi tidak pernah sekalipun Radit mengantarnya ke tempat Bimbel seperti sekarang ini. Dan ini adalah pertama kalinya bagi kedua temannya melihat dengan langsung kekasih Tari. Mereka sering memergoki Tari menerima panggilan telpon, ataupun panggilan video dari Radit kekasihnya, sehingga membuat mereka penasaran seperti apakah sosok kekasih Tari itu? Dan akhirnya sekarang ini mereka di pertemukan.
Radit tersenyum lalu memperkenalkan diri. Dia menawarkan mengajak makan terlebih dahulu, sekaligus ucapan terima kasih karena sudah menjaga Tari selama ia tidak ada di sini.
Tari yang mendengarnya hanya memutar bola matanya dengan malas. Radit memang selalu berlebihan.
Akhirnya mereka berempat duduk di sini, di sebuah restoran mewah yang di pilih Radit. Radit sangat antusias bertemu dengan teman kerja Tari. Setelah mengajak mereka makan, mereka berpisah karena hari sudah menjelang malam.
Tapi Radit memilih mengajak Tari jalan-jalan terlebih dahulu. Dia menepikan mobilnya, dan mengajak Tari berjalan kaki sambil bergandengan tangan di sebuah taman yang terletak di pinggir kota Jakarta.
Hmm sudah lama, mereka tidak seperti ini. Akhirnya setelah hampir 4 tahun terpisah jarak, mereka berdua bisa membuktikan jika hubungan mereka baik-baik saja. Mereka sering bertengkar, tapi Radit yang selalu lebih mengalah. Radit menggenggam tangan Tari lalu memasukkan tangan mereka ke saku jasnya. Malam semakin dingin, tapi Radit belum ingin mengantarnya pulang.
__ADS_1
" Sayang, senin depan kamu ijin yah kerjanya. Soalnya kita berangkat ke Bandungnya hari Minggunya. Ibu juga rencana nya mau aku ajak sekalian." Ucap Radit menjelaskan.
Ada rencana yang sudah ia susun di hari wisudanya. Dia sudah meminta ijin kepada kedua orang tuanya. Tinggal minta ijin ke ibu Tari nanti, sekalian mengantar Tari pulang. Dia sudah bertekad dan memikirkannya dengan sangat matang. Apa yang di bicarakan Rega padanya membulatkan tekadnya.
Ayah dan Ibu juga sudah menyetujui rencananya. Mereka mendukung Radit. Radit ingin segera menikahi Tari, dia tidak ingin Tari terlalu lama menunggu.
****
Pukul 9 malam Tari dan Radit tiba di rumah Tari. Sudah seharian Tari bersama dengan Radit, tapi tetap saja dia tidak ingin berpisah dari Tari. Ibunya sudah menunggu di depan pintu, dia tau Tari bersama Radit. Jadi ibu tidak khawatir akan keberadaan putrinya. Radit menyalami ibu Tari, dan masuk ke dalam rumah setelah ibu terlebih dahulu menyuruhnya masuk.
" Hah..kamu sakit"
" Enggak, cuma gak enak kalo nelen aja yang..."
Radit memberikan dompetnya kepada Tari. Radit sebenarnya sudah memberikan kartu debitnya kepada Tari, tapi sampai detik ini Tari sama sekali belum menggunakannya. Tidak pernah ada satu laporan pun di ponsel Radit, yang menandakan adanya transaksi kartu debitnya.
" Kamu sekalian beli kebutuhan rumah ya..."
__ADS_1
" Aku abisin ya duitnya.." Tari sambil mengoyang-goyangkan dompet Radit di depan matanya, membuat Radit tertawa.
" Iya sayang"
Tari keluar rumah dengan menggunakan sepeda motor milik ibu, sepeda motor dia masih tertinggal di rumah Radit. Bukan tertinggal, tapi sengaja di tinggalkan. Letak minimarket tidak jauh dari gang rumah Tari, tapi jika berjalan kaki lumayan lelah juga.
Radit sengaja menyuruh Tari keluar, dia ingin membahas rencana nya bersama ibu. Dan menanyakan pendapat ibu. Radit beruntung mempunyai calon ibu mertua yang sangat bijak, dari pertama Tari memperkenalkan Radit sebagai pacarnya, ibunya tidak pernah memandang Radit sebelah mata. Padahal waktu itu, Radit masihlah murid Tari. Bahkan pertama kali Radit mengunjungi rumah Tari, dia masih memakai setelah putih abu-abunya.
Setelah menceritakan rencana nya, ibu pun menyetujui rencana Radit. Radit menyampaikan akan melamar Tari secara resmi setelahnya. Motor yang di kendarai Tari sudah memasuki pelataran rumah Tari. Tari masuk ke dalam rumah dengan sekantong plastik belanjaan di tangannya. Dia duduk di samping Radit, dan mengeluarkan larutan penyegar kaleng padanya. " Makasih ya sayang."
Tari juga mengeluarkan 2 teh botol yang dia beli, dan memberikannya kepada ibu.
" Bu, Radit hari Minggu mau ajak kita ke Bandung. Dia wisuda bu,..ibu bisa kan?" Radit membukakan tutup botol minuman Tari, lalu menyerahkan pada Tari kembali.
" Iya, tadi Radit juga dah ngomong sama ibu, ibu seneng kalau nak Radit mau ngajak ibu"
Obrolan mereka melebar kemana-mana, dengan ibu yang masih berada di tengah mereka. Radit melirik jam tangannya, sudah pukul 10 malam. Radit pun pamit pulang pada ibu dan Tari.
__ADS_1