
" Mamas kamu udah pulang" jawab Radit dengan ketus. Dia menyeruput jus jeruk yang di bawa oleh Tari hingga tidak ada sisa.
Tenggorokannya sangat haus menahan rasa kesal.
Tari mengerti Radit pasti sedang cemburu pada Yudi. Tadi Yudi mengantarnya pulang, motornya mogok di pinggir jalan, saat dia pulang dari tempat bimbel tempat dia bekerja., dan kebetulan bertemu dengan Yudi yang menawarkan untuk mengantarkannya pulang. Tari sudah menolak, tapi Yudi memaksanya. Setelah menghubungi tukang bengkel langganannya, Yudi akhirnya membawa Tari pulang ke rumahnya.
" Malah senyum-senyum..gak tau orang lagi kesel. Kamu tau gak, aku bela2in datang langsung kesini, nyetir 3 jam lebih biar bisa nemuin kamu, kamu malah enak-enakan ya ngobrol sama mantan kamu!!!"
" Kamu juga gak bilang dia ngajar di sekolah kita juga, berarti kamu tiap hari ketemu sama dia. Sedangkan kita cuma ketemu seminggu sekali aja.!!" kesal...Radit kesal dengan keadaan seperti ini, dia takut kehilangan Tari. Dia takut Tari berpaling darinya. Apalagi hubungan Tari dan Yudi terjalin cukup lama. Radit benar-benar takut. Ada yang bilang, yang sayang akan kalah dengan yang selalu ada.. Sedangkan dia tidak selalu ada di samping Tari.
" Jangan tinggalin aku" Radit mendekatnya tubuhnya beringsut ke dekat Tari. Tangganya yang kekar memeluk bahu Tari dengan erat, seakan dia tidak ingin kehilangan.
" Kamu tau kan,hari ini tepat setaun kita jadian.." tersenyum dengan masih memeluk Tari. Kepalanya bahkan sudah berada di bahu Tari dan tak ingin menatap netra kekasihnya itu. Dia hanya menggigit-gigit kecil bahu Tari dengan lembut.
" Aku tau!!!" Jawaban dari Tari sontak membuat Radit menegakkan kepalanya dengan cepat. Dia memandang wajah kekasihnya itu, dan melihat kejujuran di sana. Selama ini Radit selalu berpikir dia lah yang lebih mencintai, dialah yang lebih menyayangi, dialah yang lebih rindu. Radit tau, Tari menerima perasaanya karena di paksa oleh Radit. Dan dia cukup kaget mendengar jawaban dari Tari.
" Kenapa, gak percaya ya..???" Ucap Tari lagi dengan tetap beradu pandang.
" Tunggu sebentar, aku ambil buktinya dulu ya.." dia beranjak meninggalkan Radit yang masih saja terbengong di kursinya. Tidak percaya...iya, dia memang tidak percaya..
Dia bahkan sudah menakar kadar presentasi perasaan Tari, mungkin hanya seperempat dari kadar perasaaan Radit padanya.
Tari datang menghampirinya, dengan sebuah kotak yang di bungkus kertas kado berwarna coklat. Kotak itu tidak besar hanya cukup di genggaman tangan Tari yang mungil.
Dia menyodorkan kotak itu kehadapan Radit dan menyuruhnya membukanya.
__ADS_1
"Tadinya aku pikir kamu akan datang besok, untung aku udah siapin dari kemaren" Tari duduk di samping Radit dan meraih tangan Radit lalu menggandengnya dengan erat. Kepalanya ia sandarkan di bahu Radit yang kekar. Sambil menunggu kekasihnya membuka kotak itu, Tari lebih memilih memejamkan matanya. Menyalurkan rasa rindu pada lelaki di sampingnya itu.
Sebuah jam tangan berwarna hitam yang sangat elegan adalah hadiah yang Tari siapkan untuknya. Dia mengecup pucuk kepala Tari yang masih berada di bahunya berkali-kali mengucapakan ucapan terima kasih karena dirinya benar-benar merasa di cintai oleh seorang Senja Mentari Putri.
Ada sebuah note disana..
Sayang..aku mencintaimu. Aku harap semua waktu mu adalah milikku.
Sebuah kalimat yang sangat singkat tapi sudah mewakili segala perasaan Tari terhadapnya. Kebahagiaanya membuncah, rasa kesalnya karena pertemuannya dengan mantan pacar Tari pun hilang. Dia menegakkan kepala Tari lalu memciumi bibir kekasihnya itu dengan rakusnya. Radit benar-benar lupa dia sedang berada dimana. Kerinduan keduanya pun sudah tak bisa di bendung lagi.
Radit melepaskan pagutan ketika sadar suara televisi terdengar di telinganya.
" Sayang, ada ibu ya..."
" Aku pulang ke rumah dulu ya...besok pas mau berangkat ke tempat bimbel aku jemput kamu di sini..kamu gak usah bawa motor ya....."
Tari mengantar Radit sampai di samping mobilnya. Setelah mengecup kening Tari dengan lembut dia masuk ke dalam mobil dan melajukan kembali mobilnya menuju rumah Radit.
*****
Di sebuah mall yang ada di pusat kota, kali ini Tari dan Radit sedang berada. Setelah berdebat selama perjalanan kesini, akhirnya Tari mengalah menuruti permintaan Radit untuk menonton film di bioskop yang ada di dalam mall tersebut.
Tadi Tari sempat menolak tawaran Radit ketika mengajaknya kesini. Tari takut bertemu seseorang yang mungkin di kenalnya.
" Kita dah setaun pacaran, aku gak peduli lagi"
__ADS_1
Ucap Radit kesal..
Dengan tangan masih memegang setir mobil, Radit masih tetap melajukan kendaraannya ke arah mall.
" Aku bukan lagi murid mu, dan kamu juga bukan guru aku lagi. Atau kamu malu ya kalo ketauan jalan sama aku.. iya sayang..??? " Radit malah mengarang bebas, membuat Tari frustasi. Sebenarnya Tari belum siap, tapi apa yang di katakan oleh Radit juga ada benarnya.
" Ya..ya..kita nonton sekarang.." Radit tersenyum menang. Dia kembali menambah kecepatan mobilnya membelah keramaian jalanan ibu kota. Hari ini malam minggu, dan sudah pasti jalanan akan semakin ramai. Sudah beruntung mereka tidak terjebak kemacetan.
Radit sedang berdiri mengantri di loket pembelian tiket. Dia memilih menonton film bergendre komedi romantis sesuai permintaan Tari. Tari berdiri tidak jauh dari nya. Ini adalah hal pertama bagi keduanya.
Setelah 2 tiket dia dapatkan, dia mengambil alih pop corn dan gelas minuman yang di pegang oleh kedua tangan Tari. Tari tersenyum dan menggandeng tangan Radit dengan mesra.
Lampu di dalam bioskop redup bahkan sedikit gelap menurut Tari
Hanya ada cahaya dari layar di depan sana yang membuat keadaan tidak terlalu gelap. Radit duduk di Tari sambil memegang erat tangannya, bahkan sesekali pria itu tidak canggung-canggung mencium punggung tangannya. Atau bahkan mencium pipinya.
" Tari..." sapa seseorang yang baru duduk di bangku sebelah Radit. Sontak Tari membelalakan matanya kaget. Dia sangat paham pemilik suara tersebut. Tari menoleh ke arah Ita berada, karena sedikit terhalang oleh tubuh Radit. Radit pun ikut menoleh mengikuti arah pandangan mata Tari.
Di sebelah bangku Radit sudah ada Ita, dan juga di sampingnya ada Ronald yang juga tersenyum ke arah keduanya.
Tari cengar cengir menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Coba jelasin maksudnya apa ini????" Ita berteriak sehingga semua mata yang ada di dalam bioskop itupun menoleh ke arah mereka. Ita bahkan sekarang sudah berdiri dari tempat duduknya, membuat Ronald menarik dan membujuknya agar mau duduk kembali.
" Nanti aku jelasin." Ucap Tari setengah berbisik. Dia melepaskan genggaman tanggannya dari tangan Radit, saat sorot mata Ita memandang ke arah tautan tangan itu. Tari tidak bisa tenang saat menonton film, dia tahu suatu saat akan menceritakan pada Ita hubungannya dengan Radit, tapi tidak dengan cara yang seperti ini. Dia menoleh ke arah Radit yang masih dengan santai nya menikmati film yang di putar di layar. Dia pasti senang kan???...menyebalkan!!!.. gumam Tari
__ADS_1