Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Kembali bersama


__ADS_3

Radit mengucek- ngucek matanya di atas ranjang. Dia terbangun dari tidur panjangnya lalu menyenderkan kepalanya di sandaran ranjang. Di lihatnya ke arah dinding yang terdapat jam disana, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Seberapa lama dia tertidur..??


Radit kemudian teringat kembali kejadian bersama Tari pagi tadi, dari tiba di sekolah hingga berujung di kamar pribadinya. Ada bubur dan segelas air di atas meja dekat kamarnya, mungkin Tari yang membuatkan untuknya. Radit ingin keluar ke bawah, dia ingin melihat apakah Tari masih berada di rumahnya ataukah sudah pulang..


Suara gelak tawa dari teman-temannya terdengar hingga ke dalam kamarnya. Dia membuka pintu lemari pakaiannya, lalu menganti kaosnya dengan yang baru. Baju nya sedikit basah karena keringat saat dia demam tadi. Kepalanya sudah tidak begitu pusing, dan suhu badannya pun sudah kembali normal. Radit mengambil kaos berwarna abu-abu,memakainya lalu keluar menghampiri sumber suara di bawah sana.


Tari pasti sudah pulang sedari tadi, karena tidak mungkin Tari masih berada di rumahnya jika ada teman-teman Radit berada disini.


Ponselnya juga sudah dia pegang, sambil menuruni tangga, dia mengirim pesan kepada Tari. Menanyakan dimana keberadaanya..


Radit : Sayang....kamu dimana???aku baru bangun..


Radit mengirim pesan lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


" Gila lo kalo tidur dah kayak kebo, gue pikir lo udah alamat..." celoteh Rega sesaat setelah Radit mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di tengah-tengah mereka.


Di ruangan itu tidak hanya Rega, ada Alvin, Dino , Danu dah juga Sarah kekasihnya Danu. Ada juga 5 wanita lagi di sana yang juga teman sekelas Radit.


Di atas meja juga sudah terpampang beberapa gelas yang sudah kosong juga beberapa makanan ringan yang mungkin sudah di siapkan oleh mbok Rah. Dan hampir semua makanan yang tersedia di atas meja itu sudah tidak ada isinya alias habis. Pasti mereka sudah membuat mbok Rah kerepotan. Orang tua Radit tidak pulang, mereka memang mengatakan akan menginap sehari di Bandung.


" Alamat apaan...lo doain gue mati..." Radit melempar bantal kursi ke arah Rega. Tapi dengan cepat Rega mengelak dan bantal tersebut malah mengenai kepala Sarah.


" Ih .maapin gue ya..gue kagak sengaja sumpah.."


Danu mengelus kepala Sarah dengan sayang, seperti sedang memamerkan kemesraan kepada para jomblowan dan jomblowati yang sedang berada di ruangan ini..


Raga terkekeh geli melihat tingkah Danu.

__ADS_1


" Kagak usah pamer kali bro...."


" Radit yang udah punya pacar aja gak pernah pamer, malah di umpetin dari kita!!"


Sontak ucapan dari Rega itu membuat seisi ruangan saling melirik. Maksudnya???


Jika Rega saja tidak tau siapa pacar Radit, apalagi mereka?? Yang hanya sebutir debu di hadapan Radit..hehe


" Lo dah punya pacar Dit??


Danu dengan terus terang menanyakan secara langsung saking penasarannya, siapa sebenarnya wanita yang sudah meluluhkan hati Radit. Secara di sekolah dari yang tercantik, terpintar dan ter ter segala gala nya selalu di tolak oleh seorang Radit.


" Gaku usah di dengerin si Rega, dia kan mulutnya lemes kayak cewek..." Seloroh Radit tanpa menjawab rasa penasaran temen-temennya itu.


" Cantik banget ya nyampek lo sembunyiin gitu dari Rega, ???" Sekarang Alvin pun ikut menyuarakan isi hatinya..


" Gak cantik, dia pacaran sama bini orang, makanya di umpetin." Rega terkekeh sambil kembali memakan keripik singkong pedas yang masih tersisa sedikit di dalam toples.


Mbok Rah masuk menghampiri mereka dengan membawa nampan berisikan beberapa gelas minuman. Dia menaruhnya di atas meja lalu meletakkan gelas yang sudah kosong di atas nampan, guna membawanya kembali ke dalam dapur.


" Den, tadi non Tari pesen kalau Den Radit sudah bangun, buburnya di suruh langsung di makan Den???" Obatnya juga ada di laci meja"


Mbok Rah mengingatkan Radit karena di lihat majikannya itu malah asyik mengobrol dengan para sahabatnya sampai lupa memakan bubur dan meminum obatnya.


Rega melirik Danu, Danu pun melirik Alvin. Sebenarnya tadi sebelum kemari, mereka sudah membahas tentang perlakuan Tari sewaktu di kelas tadi saat Radit sakit. Radit bahkan memeluk tubuh Tari di ruangan kelas. Tingkahnya tidak luput dari penglihatan Danu dan Alvin karena memang mereka duduk dekat dengan Radit. Mereka bertiga memandang Radit dengan tatapan curiga..


" Iya mbok...tadi Tari pulang jam berapa?? Mang Ujang anterin dia pulang gak???"

__ADS_1


Hah...Tari Radit bilang??? bukannya "bu Tari" justru Radit malah memanggil Tari langsung dengan mulutnya.


Untung hanya mereka bertiga yang mendengar ucapan Radit, karena yang laennya termasuk Dino sang wakil ketua kelas itu sedang asyik menonton film di mini home teater yang berada di ruangan keluarga rumah Radit.


Mata Rega menatap Radit dengan tajam, seolah tatapannya bisa membunuh Radit dengan satu tusukan saja.


Tapi dia belum bersuara, dia menunggu Mbok Rah menyingkir terlebih dahulu.


" Tadi mang Ujang mau mengantar tapi non Tari nya sudah pesen ojek online Den.." ucap mbok Rah menjelaskan.. Lalu ia pamit kembali masuk ke dalam dapur.


****


" Jelasin.. maksudnya apaan? kok lo bisa dengan entengnya manggil guru kita dengan namanya aja"


" Sebrengsek-brengsek nya gue, gue juga gak berani kayak lo gitu" ucap Rega dengan nada penuh selidik. Seperti sedang menginterogasi seorang kriminal saja.


Radit tidak sengaja sebenarnya, dia pikir tidak ada teman-temannya dan malah menyebutkan nama Tari dengan santainya pada mbok Rah.. Tapi Radit tidak ingin berkata jujur, dia baru saja kembali dengan Tari. Jika dia mengungkapkan hubungannya sekarang, dia takut Tari akan kembali marah lagi padanya. Mending gue boong ketimbang cewek gue marah!!!


Radit terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan dari Rega. Dia berusaha berpikir alasan apa yang logis untuk di sampaikan pada sahabatnya itu. Tak hanya Rega, Alvin dan Danu pun sudah tidak sabar menunggu jawabannya.


" Ya orangnya aja kagak ada, kalo orangnya ada mah mana gue berani. Yang ada gue di hukum suruh ngerjain tugas seabrek-abrek ntar" Radit berkata dengan tegas dan mimik muka yang di buat seserius mungkin berharap ketiga temannya itu puas dengan jawabannya dan menghentikan pembicaraan ini.


" Lo juga manggil bu Santi dengan sebutan sexy kan... ya giliran gue nyebut nama doang lo pada komplain...?"


Rega mengeleng-gelengkan kepalanya berusaha mencerna kata-kata Radit. Bener juga sih yang di omongin Radit...


" Wih..parah lo ga, lo gak sopan tau...manggil guru kita sexy...eh tapi ya emang Santi itu sexy banget ya bray...apalagi kalo udah pake rok yang agak pendekan gitu..gue pengen banget deh tiduran di bawahnya" Ucap Alvin membenarkan perkataan Radit.

__ADS_1


Radit menyunggingkan bibirnya, setidaknya saat ini mereka berhenti mencurigai nya.


" Parah ya lo pada ngatain guru kayak begitu," Danu menyela mengatakan ketidak setujuannya pada ketiga sahabatnya itu.


__ADS_2