Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Rencana Dadakan bagian 2


__ADS_3

Tepat pukul 6 pagi, Alvin dan Dino sudah berada di kediaman rumah keluarga Wijaya. Dengan menggendong tas ransel di belakang kedua punggung mereka. Rega sangat tampan menggunakan kaos berwarna hitam dan di padukan dengan celana jeans berwarna biru. Begitupun Alvin, menggunakan kaos berwarna putih dan tidak lupa juga dengan jaket hitam yang sangat pas melekat di tubuhnya.


Radit melangkahankan kakinya menuruni setiap anak tangga menuju lantai bawah, ia melihat kedua sahabatnya tengah duduk di meja makan yang berada dekat dengan dapur. Ayah dan ibu juga tengah duduk di antara mereka. Terlihat Mbok Rah juga sedang menghidangkan makanan di atas meja makan. Dan mbak Rani juga sedang membantu, kesana kemari menyiapkan makanan.


Radit mencium pipi ibu nya sebelum mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang masih kosong di meja makan. Terdapat 6 kursi di sana, dan biasanya hanya mereka bertiga yang akan sarapan bersama, karena mbok Rah biasanya akan memakan sarapannya bersama dengan pekerja yang lain setelah majikannya menyelesaikan sarapan mereka.


Kini suasana ruang makan terlihat sangat ramai, Rega dan Alvin dengan kekonyolan mereka membuat suasana sarapan yang biasanya terasa hening, menjadi semakin hidup. Tak henti-hentinya mereka bercerita sambil tetap menguyah makanan mereka. Ayah yang biasanya tenangpun, terlihat ikut tertawa sekali kali.


****


Pukul 6.30 pagi, Radit sedang berada di belakang kemudi mobilnya dengan Rega yang berada di samping , duduk dengan tenang di kursi penumpang. Sedangkan Alvin sedang asyik memainkan ponselnya di kursi yang ada di belakang kursi kemudi. Radit mengeluarkan alat kecil di dalam dashboard lalu memakainya di telinga kirinya, mengangkat sambungan telponnya yang sedari tadi berdering.


"Iya sayang, ni sebentar lagi nyampek..Aku ajak Rega ma Alvin tadi sudah hubungi Bu Ita juga, dan dia bilang tidak masalah."


Mendengar nama bu Ita di sebut membuat kedua sahabatnya saling menoleh, penasaran dan langsung ingin menanyakan pada Radit.


Namun Radit masih saja berbincang dengan orang di sebrang sana melalui ponselnya, membuat mereka dengan sabar menunggu.


Setelah perbincangan telpon itu berakhir, Rega langsung angkat bicara tanpa memberi jeda pada Radit untuk sekedar menarik napasnya.

__ADS_1


" Maksud kamu Bu Ita guru SMA kita dulu???" tanya Rega dengan nada penasaran." Hemmm"


Rega menendang kaki Radit yang berada di samping kakinya, membuat Radit mengaduh kesakitan. Alvin yang duduk di kursi belakangpun memajukan tubuhnya, mendekati kedua sahabatnya yang ada di depan.


" Hemm,,, hemm tu maksudnya apaan ****..!!!! Teriak Rega kesal. Tidak puas dengan jawaban Radit, dia menendang kaki nya lagi.


" Tari, pacar gue...!!!!" Ucap Radit dengan sangat singkat, jelas dan padat itu membuat kedua sahabatnya melongo tidak percaya..


Bahkan si Alvin, belum juga menutup mulutnya yang terbuka akibat terkejut.


" Maksud lo, Bu Tari guru matematika di sekolah kita dulu???" suara Alvin terdengar sangat keras, apalagi mulutnya berbicara tepat di samping telinga Radit.


" Bisa munduran lagi gak duduknya, kawah lo keluar semua kena muka gue tau!!!"


Tari memang sangat cantik, dalam artian enak di pandang. Kulitnya putih, matanya yang lentik dan rambutnya yang panjang hitam, memang tipe idaman kebanyakan laki-laki termasuk Rega dan Alvin. Tubuhnya yang mungil, membuat dia terlihat selalu lebih muda dari umur nya saat ini yang sudah menginjak usia 23 tahun. Perbedaan usianya dengan Radit tidak begitu kentara, karena sosok Radit terlihat sangat gagah dan pas bersanding dengan Tari yang bertubuh mungil. Tak terasa bibirnya tersungging memikirkan kekasih hatinya itu...


" Gak usah godain dia nanti, ntar dia malu. Ngerti gak???" pinta Radit pada kedua sahabatnya.


****

__ADS_1


Radit dan Alvin mengikuti Radit turun dari mobil dan memasuki rumah sederhana milik Tari. Tari sangat cantik dengan celana jeans dan atasan berwarna pink. Rega dan Alvin sampai melongo melihat penampilan Tari, membuat Radit mendengus kesal...


" Gak usah kayak gitu ngeliatnya bisa gak ????"


Dan bukannya menjawab mereka berdua hanya cengar cengir saja. Radit pamit pada ibu Tari, dan mengajak mereka memasuki mobil kembali. Kini Tari yang duduk di kursi penumpang karena Radit yang harus menyetir. Sedang kedua sahabatnya duduk di belakang tentunya.


Radit memasangkan sabuk pegaman pada tubuh Tari dan mengecup keningnya singkat. Tari malu dengan tingkah Radit, apalagi di dalam mobil ini, tidak hanya ada mereka berdua. Tari tersenyum canggung, tidak berani menoleh ke belakang saking malunya.


" Hargai yang lagi jomblo ini dong sob..." ucap Rega pada Radit... Radit hanya menoleh mengejek pada keduanya...


" Sayang, Ita kok gak bareng kamu,???" Tari pikir mereka akan berangkat bersama dari sini..


" Nanti ketemuan ma Ronald di jalan, dia juga dah berangkat kok Yang..." jelas Radit..


Percakapan antara kedua sejoli ini tidak luput dari 2 pasang mata yang berada tepat di belakang mereka. Tersenyum, terkekeh, entah apalagi ekspresi mereka, yang jelas kedua sahabatnya ini belum percaya sepenuhnya, pemandangan langka yang mereka lihat hari ini. Tidak terlintas sama sekali di benak mereka berdua, sahabat nya ini akan memacari guru SMA nya. Benar- benar tidak meyangka..


Apalagi interaksi kedua nya yang sedari tadi selalu mereka perhatikan, Radit terlihat sangat nyaman dengan Tari, walau Tari sedikit malu-malu tapi mereka yakin orang yang duduk di depan sana saling jatuh cinta.


" Kapan gue ketemu jodoh gue" tiba-tiba Rega membuka suaranya. " Gue ngiri sama lo, dit. sumpah!!!" ucapnya lagi dengan nada memelas...

__ADS_1


" Gimana mau punya pacar, move on aja belom..mang gue gak tau lo diem-diem sering stalking intagramnya Rara" oceh Alvin yang nyeleneh membuat Rega cemberut.


Sontak ketiganya tertawa terbahak-bahak mendengar informasi tentang Rega dari Alvin...


__ADS_2