
Di rumah kediaman keluarga Wijaya sangatlah ramai. Apalagi di tambah dengan kedatangan para kolega bisnis dari sang ayah, menambah ramai suasana malam ini. Roman masih saja menyesap teh nya dengan tenang, duduk di atas sofa sambil menikmati siaran berita dari chanel telivisi swasta. Ada juga Melda yang duduk tidak jauh dari nya, yang sedang memegangi ponselnya, mungkin sekedar memeriksa sosial medianya. Para tamu yang di bawa ayah tadi, masih mengobrol di ruang depan, di sana juga terlihat ibu sedang mendampingi di samping suaminya.
Bibi juga ikut-ikutan ke depan berasa sok kenal dengan para tamu yang adalah kolega bisnis kakak iparnya itu. Dia tidak segan-segan mengumbar senyum ke arah sana sini, membuat Tari yang memperhatikannya merasa geli sendiri.
Radit mengajak Tari duduk di sofa double yang ada di ruangan televisi miliknya, bergabung dengan Roman dan juga Melda yang sudah berada disana. Ada juga anak dari bibi, yang mungkin usiannya sebaya dengan Radit. Tari tidak ingin begitu memperhatikannya. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Radit, dan menatap ke depan ke arah televisi. Fokus menatap acara televisi yang ada di depan matanya.
Padahal apa yang sedang di tontonnya pun, Tari tidak memperhatikannya. Dia hanya ingin menonton saja. Setidaknya ada yang ia lakukan di antara suasana yang canggung ini.
Sungguh Tari ingin segera pulang.. dia merasa tidak nyaman, dan dia tidak menyukai nya. Dia tidak bisa berhenti memikirkan perbincangan yang terjadi antara bibi dan ibu di dapur tadi, ingin mengeyahkannya saja tapi tetap tidak bisa. Melda, gadis yang cantik, dia juga sedang mengerjakan kuliah kedokterannya di salah satu universitas negri di Jakarta. Sudah di pastikan, otaknya juga pintar kan??? Dia juga anak dari keluarga pengusaha, setara dengan Radit. Tidak seperti dirinya??? yang hanya seorang putri dari ibu yang bekerja sebagai tukang cuci saja.
Maafkan Tari bu, kenapa Tari mempermasalahkan kehidupan kita.? Sebelum mengenal Radit, Tari sangat bangga dengan hidupnya. Dia tidak pernah menundukkan kepalanya, hanya karena dia seorang dari keluarga miskin. Tapi berbeda, semenjak dia mengenal Radit.. Dia sering menundukkan kepalanya, tidak percaya diri, bahkan kadang menyalahkan Tuhan atas kehidupannya yang sekarang. Sudah miskin, tidak memiliki ayah lagi. Tari masih menatap ke arah televisi, tanpa ingin mengeluarkan sepatah kata sekalipun.
" Kak Radit, kalo Melda ke Bandung, kakak mau kan ajakin Melda jalan-jalan" Melda berucap dengan nada yang sangat manja pada Radit. Berusaha menarik perhatiannya, dia bahkan tidak peduli dengan wanita yang sedang berada di sebelah Radit. Tari tak bergeming, menoleh pun ia enggan. Bukannya tidak mendengar apa yang Melda katakan, tapi Tari tidak ingin ikut tersulut. Biarkan saja lah..
" Ck. Lo kalo mau ke Bandung, ya jalan aja sendiri. Lo pikir, pak Radit kagak sibuk apa??
Mana sempet dia nemenin lo jalan? laen lagi kalo Mbak Tari yang kesana,.." Roman yang sedari tadi diam, ikut menjawab pertanyaan Melda dengan telak.
Melda cemberut, memajukan bibirnya ke depan. Dia beringsut mendekatkan tubuhnya dan pindah ke kursi sebelah Radit,
__ADS_1
" Orang nanya kak Radit, kamu yang jawab." ucap dia sambil melirik ke arah Roman dengan sebal.
Radit yang mendapat serangan dadakan, langsung menggeser tubuhnya mendekat ke arah Tari. Dia melirik Tari yang dari tadi hanya terdiam.
" Bener kata Roman, gue mana sempet nemenin lo jalan, gue sibuk! " jawab Radit tidak berbeda jauh dari omongan Roman.
Dia meraih tangan Tari, mengenggamnya dengan kedua tangannya. Radit tidak tau apa yang sedang mengganggu pikiran Tari, tapi dia juga tidak bisa menanyakannya di sini.
Roman memandang ke arah kursi mereka, dan dengan jelas melihat wajah Melda yang tambah cemberut. Lalu kembali menonton televisi lagi.
Ibu dan bibi datang menghampiri, menyuruh mereka menuju meja makan. Acara makan malam akan segera di mulai, mereka akan makan bersama dengan kolega bisnis ayah juga. Orang- orang yang ada di ruangan tamu, sudah berpindah dan duduk di meja makan, merekapun ikut di belakang ibu menuju ke kursi yang kosong di meja makan.
Ada rendang, ada sop, tumisan juga ada. perkedel kentang dan bakwan goreng juga sempat di buat ibu. Tidak lupa pelengkap yang paling favorite bagi ayah, yaitu sambal.
Ibu menyajikan makanan rumahan yang sederhana untuk para tamunya.
Ibu mempersilahkan para tamunya makan, dan ia mengambilkan makanan untuk sang suami.. Tari memperhatikan setiap gerakan ibu, ah bahagianya melihat pemandangan ini. Dia juga ingin seperti ini jika memiliki suami kelak. Sekedar mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya dan makan bersama di meja makan dengan penuh kebahagiaan.
Tidak sadar, Tari menyunggingkan senyumnya yang manis setelah melihat interaksi antara ayah dan ibu Radit. Dia dan Radit..entah kapan? Radit juga tidak pernah membahas pernikahan. Dia begitu sibuk dengan urusan kantor dan kuliah, mana sempat memikirkan tentang pernikahan. masih bisa menghubungi Tari lewat ponselnya saja, sudah termasuk beruntung.
__ADS_1
" Sayang, Kamu mau seperti ibu dan ayah?" Radit menggenggam tangan Tari dan berbisik ke telinganya dengan pelan. Ibu membelalakkan matanya, melihat tingkah dari putra semata wayangnya itu. Di hadapan para kolega bisnis ayah pun, Radit tidak segan-segan memperlihatkan kemesraannya pada Tari.
" Sudahlah bu, mereka kan masih muda" jawab ayah membela putranya. Ia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya itu.
" Kenalin, itu Radit putra saya.." Ucap ayah kepada rekan kerjanya tersebut. lalu mereka memperkenalkan diri. Begitupun dengan Tari dan yang lainnya juga ikut di kenalkan oleh ayah.
Ayah tidak segan menyebut Tari calon mantunya, membuat bibi yang mendengarnya jadi tambah kesal.
Acara makan malam pun berjalan dengan lancar, mereka kembali berbincang-bincang. Roman memilih beranjak ke kamar tamu, kamar yang biasa ia pakai untuk tidur jika sedang berada di rumah bos nya itu.
Sedang Melda, bibi dan anaknya serta ibu memilih menonton serial televisi di ruang keluarga. Radit mengajak Tari mengobrol di taman belakang, sedari tadi dia ingin berbicara dengan Tari tapi situasi rumah yang ramai membuatnya mengurungkan niatnya.
Mereka duduk di bangku belakang dekat dengan kolam renang yang ada di kediaman Radit. Tari memandang ke langit luas, ada banyak bintang di atas sana, bulan juga muncul dengan cantik. Menambah suasana semakin romantis. Malam yang sangat indah. Gumam Tari dalam hati.
Tapi tak seindah suasana hatinya saat ini.
" Sayang..kamu dari tadi diem aja, ada apa???"
" Hemm" Tari menoleh dan tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan dari Radit..
__ADS_1