Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bab 13 Olahraga Bersama


__ADS_3

Rega masih tergeletak di ranjang milik Radit, sedangkan Radit sendiri, sudah bangun tepat pukul 5 pagi tadi. Dia ingin menemui kekasihnya. Radit benar-benar tidak bisa menahan rindu lebih lama lagi. Semalam dia sudah berpikir akan mengajak Tari olahraga bersama. Dia akan memilih rute yang paling jauh dari sekolah ataupun dari kedua rumah mereka, agar tidak bertemu dengan orang yang mungkin di kenalnya nanti.


Radit sebenarnya tidak menyukai gaya pacaran yang sembunyi-sembunyi seperti ini. Sungguh ini sangat menyiksa bagi nya. Bagaimana tidak menyiksa, seharusnya dia dengan lantang memamerkan kemesraan mereka kepada semua orang, tapi terpaksa Radit harus menahan semua itu. Bahkan jika saat mereka sedang berada di luaran saja, hanya sekedar ingin menggenggam tangan lembut Tari pun Radit tidak bisa. Dia harus bersusah payah menahan hasratnya.


Mereka juga tidak bisa berjalan-jalan dengan santai, ke mall atau hanya sekedar menonton film di bioskop sekalipun. Tari selalu menolak dan memperingatkan kembali bahwa hubungan mereka harus tetap sembunyi-sembunyi seperti ini. Radit sempat kesal!! Apa salah mereka sih!?? Tari bukan istri orang, terlebih Radit juga bukan seorang suami. Mereka tidak sedang berselingkuh.. Ya ampunnn.....jika memikirkannya kepala Radit seakan meledak saja.


Tapi kembali lagi. Bagi Radit, kenyamanan Tari adalah yang penting di sini. Radit selalu memenuhi apapun yang di minta oleh kekasihnya itu.


Radit tidak mempermasalahkan tempat pertemuan mereka, yang terpenting bagi Radit ada sosok Tari yang ada di sampingnya, menemaninya sudah lebih dari cukup.


Tapi entah kenapa, hari ini Radit ingin sekali mengajaknya keluar. Dia akan berusaha mencari tempat yang agak jauh. Dan waktunya juga, Radit memilih pergi pagi-pagi sekali. Radit sudah memikirkan segala resiko yang timbul, dan berusaha meminimalisirnya. Dia ibarat ketua tim yang akan menyusun strategi perang. Dari waktu dan tempat sudah Radit pikirkan dengan sangat baik.


Orang lain kan males sekali keluar pagi sekali kan??? Begitulah yang Radit pikirkan.


Dia mengendap-endap meraih ponselnya di nakas, lalu berjalan dengan sangat pelan menuju ke arah kamar mandi. Dia tidak ingin Rega bangun dan menggagalkan rencananya kembali. Radit tau, Tari selalu terbangun pukul 4 pagi. Setelah lebih dari 1 bulan menjadi kekasihnya, Radit mulai tau kebiasaan-kebiasaan Tari. Jadi dia berpikir akan menghubunginya dan menyuruhnya bersiap-siap.


" Hallo,,tumben pagi-pagi dah bangun Dit" suara di sebrang sana terdengar sangat nyaring di telinga Radit.


" Sayang siap-siap ya... aku jemput sekarang kita olahraga sama-sama ya..."


Suasana berubah menjadi hening, Radit paham Tari masih takut bertemu dengannya berdua saja di luar rumah. Radit akan berusaha menyakinkan padanya bahwa semua akan baik-baik saja.


" Sayang..aku nanti cari tempat olahraga yang jauh dari sekolah atau rumah kita. Makanya aku jemputnya pagi banget ini. Pleasee....kali ini jangan nolak aku ya... "


Radit berbicara dengan nada sedikit memelas. Sungguh Radit ingin pacaran layaknya pasangan-pasangan lain. Tapi dia juga tidak ingin mempersulit Tari dalam hal ini.

__ADS_1


" Baikah.."


Senyum terkembang di wajah Radit, dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Segera dia bersiap-siap. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Tari.


******


Radit melajukan mobilnya menuju rumah Tari, sesekali dia bersiul-siul gembira. Setelan olahraga berwarna abu-abu di tambah sepatu ket berwarna putih membuat Radit terlihat sangat tampan.


Jalanan sudah mulai padat, walau matahari belum muncul di permukaan, kota Jakarta selalu padat 24 jam tanpa mengenal waktu.


Untung hanya padat merayap, mobil-mobil masih dapat melaju dengan kecepatan lumayan cepat. Setidaknya dia tidak terjebak macet. Hari ini suasana langit seperti mendukung langkah Radit. Kalau hujan, bisa gagal juga kan??? Ih amit-amit....Radit mengetuk-ngetukkan tangannya di dasbor mobil.


Tepat pukul 5.30 mobil Radit sudah tiba di halaman rumah Tari. Tari dan ibunya juga sudah menunggu di halaman rumah.


Rani adalah nama ibunya Tari. Rani sengaja ikut keluar menemui Radit, karena dia juga akan keluar rumah untuk pergi bekerja. Rani bekerja menjmjadi tukang cuci di beberapa rumah tetangga mereka. Tari sudah berulang kali menyuruhnya untuk berhenti bekerja, Tari masih bisa menanggung kebutuhan rumah mereka tapi Rani dengan tegas menolaknya.


Seperti itu lah jawaban Rani jika anaknya menyuruhnya beristirahat saja di rumah. Rani tidak ingin membebani Tari, dia sudah sangat bersyukur memiliki putri yang cantik dan berhati baik seperti Tari. WalaupunTari hidup tanpa kasih sayang bahkan sentuhan sang ayah, tapi Tari tumbuh menjadi wanita yang kuat.


Jika mengenai ayah Tari, Rani tidak ingin membicarakan perihal pria yang sudah mengisi relung hatinya selama ini.


Terlalu mencinta, hingga akhirnya dia terlalu membencinya, membencinya dengan teramat dalam. Seperti itulah perasaan Rani terhadap ayahnya Tari.


Mereka tersenyum, menyambut Radit yang berjalan ke arah mereka.


" Kok ibu di luar juga bu.." Radit berjalan lalu mencium punggung tangan Rani. Badannya sedikit membungkuk menandakan dia sangat menghormati wanita paruh baya yang menjadi ibu dari kekasihnya itu.

__ADS_1


Sikap sopan Radit terhadap ibunya juga tidak luput dari perhatian Tari, Tari sangat bahagia Radit bisa dekat dengan ibunya. Ibunya adalah keluarga satu-satunya bagi Tari. Dia juga adalah orang yang paling berharga bagi Tari. Radit sangat mengerti dan paham akan hal itu.


" Ibu sekalian mau ke depan nak,.."


" Ibu duluan ya.. kalian hati-hati di jalan"


Rena berlalu melangkahkan kaki ke tempat kerjanya. Hanya beberapa gang saja untuk sampai di sana.


Radit membukakan pintu mobil penumpang dan menuntun Tari masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia memutari mobilnya dan membuka pintu mobil kemudi lalu masuk ke dalam nya juga.


Dengan gagah Radit memasangkan sabuk pengaman pada badan Tari, membuat pipi Tari merah merona. Sudah sering Radit memperlakukannya dengan manis seperti saat ini, tapi tetap saja tubuh Tari tidak terbiasa. Setiap sentuhan Radit selalu membuat detak jantungnya berdetak tak karuan, belum lagi pipinya merona dengan sendirinya tanpa di suruh oleh yang punya tubuh.


Radit terus saja mengulas senyumnya sepanjang perjalanan..


" Kita mau kemana sih Dit, dah 1 jam lebih kok gak nyampek- nyampek.." Tari membenarkan letak duduknya karena pinggangnya sudah terasa pegal...


" Kita gak olahraga ke taman yang ada di Bandung kan???" Tari terkekeh geli, membayangkan jika memang terjadi kejadian seperti itu.


Guna menghindari berjumpa dengan orang yang mungkin di kenalnya saat berolahraga nanti, Radit memutuskan pergi ke taman yang ada di kota Bandung. Haha..


Tari ingin sekali tertawa, tapi dia malu tentunya.


" Maaf ya sayang, kali ini tidak sesuai ekspektasi kamu.. Tapi kalau kamu tidak merasa lelah bolak balik Jakarta Bandung, aku bisa melakukannya untukmu." Tantang Radit.


Radit menggenggam erat tangan Tari sambil mencium punggung tanggannya dengan lembut. Mobil masih berhenti, karena lampu lalu lintas masih berwarna merah sampai akhirnya suara klakson mobil di belakang mobil mereka mengganggu aktifitas mereka. Radit mencium kening Tari sekilas sebelum akhirnya melajukan kembali kendaraannya.

__ADS_1


" Sebentar lagi sampai, kamu sudah lelah ya?? apa kita sebaiknya sarapan dulu.. Kamu mau makan apa sayang..."


Radit menoleh ke arah Tari sebentar lalu kembali fokus pada jalanan di depan mereka.


__ADS_2