Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Rencana Ronald dan Ita bagian 2


__ADS_3

Setelah obrolannya bersama Ronald di apartemen tempo lalu, mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan pesta pertunangan terlebih dahulu. Malam ini, Paman dan Bibi Ronald yang ada di Jakarta dan juga Ayah dan Ibunya dari Lampung akan datang ke rumah Ita untuk melamar gadis itu secara langsung di hadapan kedua orang tua nya.


Ita sangatlah cantik, di depan meja rias yang terletak di sudut kamarnya dia duduk dengan sangat tenang. Ada 2 perias wanita yang sengaja di sewa papahnya untuk merias anak gadisnya itu. Ita duduk diam, saat kedua orang tersebut merias wajahnya. Tari yang terduduk di ranjang hanya memerhatikan temannya dengan kagum. Betapa cantiknya Ita, Ronald pasti bahagia mendapatkan dirinya. Tak terasa senyum tersungging di sudut pipinya, seandainya...seandainya Radit juga melamarnya seperti ini. Dia pasti akan bahagia sekali..


Mengingat Radit, tidak mungkin dia akan melamarnya sekarang, Kuliahnya saja belum lulus. Belum lagi dia selalu ambil ijin karena harus ke luar kota urusan kantor. Tari mengerti, memang susah menjadi seorang Radit, dimana dia harus kuliah sambil mengurus perusahaan. Tari sebenarnya ingin segera menikah. Umurnya juga sudah pantas menikahkan?? Temen-temen kuliahnya sudah banyak yang menggendong anak. Sekali lagi, Tari tidak pernah membahas ini di hadapan Radit. Dia tau, Radit masih muda, dan jalan dia masih sangatlah panjang membentang di depan sana. Dia juga tidak ingin, laki-laki itu kepikiran jika dia membahas masalah ini. Biarlah..yang terpenting sekarang, mereka berdua saling mencintai. Radit juga tidak bisa menemaninya di sini, dia ada agenda kantor yang penting yang tidak dapat dia tinggalkan. Tari meraup nafasnya panjang kali ini. Hendak berdiri, dan melihat sahabatnya dari dekat.


" Kamu cantik banget Ta..." Ucapnya dengan senyum mengambang di wajahnya. Di tempelkannya pipi mereka, dan saling berpelukkan erat. Ita sudah selesai di make up, dia sangat cantik memakai kebaya berwarna gold, dengan kain yang menjuntai kebawah... Riasan di wajahnya pun sangat cantik, pas sekali di wajah Ita. Tidak terlihat menor, ataupun terlihat pucat. Mungkin kedua wanita yang meriasnya tadi sangatlah lihai.. Ita terlihat seperti putri.


" Mbak, tolong riasin temen aku juga ya..." pintanya pada kedua perias tersebut.

__ADS_1


Mereka menganggukkan kepala, lalu menghampiri Tari yang duduk di sebelah Ita. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum acara di mulai. Acara pertunangan Ita dan Ronald pun terkesan sangat mewah. Maklum, Ita adalah anak orang kaya. Papahnya punya bisnis yang lumayan besar, banyak rekan bisnis papah ya yang di undang di pesta ini.


Begitupun dengan Ayah dan ibu Radit juga termasuk dalam daftar tamu undangan.


Tari meraih ponselnya yang bergetar di atas meja rias, lalu segera menggangkat panggilan itu.


" Sayang...acaranya belum mulai kan?" Radit melakukan panggilan video, dia masih berada di Jogja dengan pak Wisnu. Rencana nya Radit akan pulang esok hari, setelah acara tanda tangan kontrak besar yang sedang di tanganinya kali ini. Jika ia sedang berada di Bandung, ia pasti sudah meluncur untuk menemani kekasihnya. Ia memicingkan matanya, melihat bahu Tari yang terekspos. Tari menggunakan gaun berwarna hitam dengan belahan dada yang rendah sehingga memperlihatkan bahunya yang mulus.


" Siapa sih yang milihin baju itu!!" ucap Radit dengan lantang. Ita yang berada di sampingnya pun ikut tertawa mendengar ucapan Radit, dan 2 wanita yang sedang merias Tari pun juga tak kuasa menahan tawa mereka.

__ADS_1


" Makanya kesini, lagian kerja terus sih kamu..." Ita menoleh ke arah kamera ponsel Tari dan ikut menanggapi ucapan mantan muridnya itu.


" Lo yang milihin ya bu, gak mungkin Tari milih model baju kekurangan bahan kayak gitu" Radit masih terlihat kesal, ia kembali duduk di pinggiran Ranjang sambil terus menatap wajah kekasihnya yang terlihat sangat cantik. Harusnya ia disana, menggadeng tangannya, dan tidak akan membiarkan lelaki manapun memandang ke arah Tari. Radit sangat kesal, acara pertunangan Ronald dan Ita memang cukup mendadak. Sedangkan agenda dia ke Jogja sudah ada di jadwal 1 bulan sebelumnya. Radit tidak bisa merubah jadwalnya, dan dia memilih membiarkan Tari di sana sendiri.


Ita hanya mengangguk kecil, sambil tersenyum menjawab pertanyaan dari Radit.


" Sayang...itu dah keliatan cantik, dah gak usah di tambahin apa-apa lagi muka kamu itu" Dia masih melihat kedua wanita yang pasti juru rias itu memberikan beberapa aplikasi make up di wajah Tari.


" Sebentar lagi selesai kok mas," Ucap mbak yang berbaju kuning,..

__ADS_1


Radit benar-benar terlihat kesal sekarang.


__ADS_2