Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Operasi Ayah


__ADS_3

" Gak usah anter aku, kamu kan lagi sibuk.." Tari berkata dengan tetap menatap cermin di hadapannya, mencoba mengaplikasikan make up tipis dan sedikit memoles lipstik di bibirnya yang tipis.


" Aku anter aja ah sayang... Gak bisa aku tuh ngebiarin kamu pergi sendirian."


" Aku gak pergi sendiri kok, aku bareng sama mas ojol" jawab Tari enteng. Radit merengut kesal.


" Ya udah sono!!!"


Tari menatap mata prianya, dia berjalan mendekat ke arah Radit yang sedang kesal. Bukannya Tari tidak mau di antar, tapi dia tahu kekasihnya itu memang sedang banyak pekerjaan. Sudah cukup semalam Tari mengganggunya, dia tidak ingin mengganggunya lagi pagi ini. Tari tau Radit ada agenda penting siang ini, dia semalam sedikit mencuri dengar perbincangan Radit dengan asistennya Roman.


Tari duduk di sebelah Radit, lalu membelai pipi kekasihnya itu. Dia mengusap lembut pipi Radit, lalu mengecup bibirnya singkat. Hanya kecupan saja yang Tari berikan,tapi membuat Radit senang bukan kepalang.


Radit meraih tengkuk Tari lebih dekat, lalu ******* lembut bibir ranum wanitanya. Radit tidak puas hanya dengan *******-******* saja, sekarang bahkan lidahnya sudah masuk kedalam rongga mulut Tari dan mereka pun saling menyesap bibir satu sama lain. Nafas mereka memburu, gairah mereka membuncah. Radit benar-benar tidak melepaskan pagutan mereka.


" Dit..."


Radit melepaskan bibir Tari sesaat, lalu kembali ********** lagi. Dia mencium mata, hidung dan kening Tari.


" Kamu ati-ati di jalan. Kalo udah nyampek. langsung hubungin aku ya..."


" Iya sayang, makasih ya bajunya. Bagus.."


" Kamu suka, Milka kan tau selera kamu sayang.."


" Kamu nyuruh Milka beliin daleman aku juga ya?, aku kan gak enak sama dia"


Mereka berbincang sambil berjalan menuju lift. Walau tidak mengantar Tari, Radit tetap mengantarnya sampai Tari masuk ke dalam mobil. Dia juga menghubungi mang Ujang untuk mengantar Tari. Dia tidak mau, Kekasihnya berboncengan dengan pria lain, walaupun itu hanya seorang pengemudi ojek online.


Setelah Tari masuk ke dalam mobil mang Ujang, Radit kembali menuju ruangannya. Kantor masih sangat sepi, ini masih pukul 6 pagi. Hanya ada beberapa petugas keamanan yang memang sudah berjaga sejak tadi malam, dan beberapa cleaning servis yang baru saja datang. Milka, sang sekertaris Radit juga berada tepat di bawah perintah Roman itu juga sudah tiba. Karena Radit menyuruhnya datang dengan membawa baju untuk Tari.


" Pagi pak.." sapa Milka.

__ADS_1


" Terima kasih bajunya Milka, pilihanmu bagus"


" Sama-sama pak"


Walaupun mengucapkan terima kasih, tapi mimik muka Radit sangat datar. Tidak ada senyum di wajahnya. Milka yang sering berada di dekatnya saja, jarang sekali melihat atasannya ini tersenyum. Dia hanya berfikir, bagaimana Tari kuat selama ini menjadi pacarnya, dengan pria yang sedingin es itu.


Milka kembali menatap note pad nya, dia melihat kembali jadwal Radit dan mulai menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan. Tidak boleh ada yang ketinggalan, jika tidak , si Roman lah yang akan memakinya habis-habisan.


****


Hampir pukul 7 pagi, saat Tari tiba di ruangan rawat inap ayahnya. Ibu dan juga Raka yang sudah siap dengan setelan jas kerjanya masih berada di ruangan itu. Sang adik Cecil juga terlihat masih tertidur pulas di salah satu sofa yang terletak di pojok ruangan. Ibu dan Raka tersenyum melihat ke arah Tari.


Begitu juga ayah, walau terlihat lemah, tapi simpul senyum di wajahnya masih terlihat . Netra nya juga tidak lepas dari wajah Tari.


" Radit gak ikut De?"


Yah dari awal pertemuannya dengan Raka, dia sudah memanggil Tari dengan panggilan Ade. Awalnya sih Tari merasa ada yang janggal, Tapi Raka menjelaskan jika dia juga memanggil Cecil seperti itu. Raka juga menyuruhnya untuk memanggilnya Abang, seperti selama ini Cecil memanggilnya. Tari senang, dia memiliki keluarga lain selain Ibu. Mungkin ini anugrah dari Tuhan, yang sudah menjawab doa-doanya selama ini. Biarlah masa lalu tetap menjadi masa lalu. Kita harus menyongsong kebahagian yang sudah Tuhan siapkan di hadapan kita. Itulah yang selalu Radit ucapkan di tengah kegundahannya selama ini.


" Loh kok Mang Ujang, mang kamu tidur di rumah Radit?"


Tari menggaruk rambutnya yang tidak gatal, sepertinya dia sudah salah bicara.


Semalam dia memang tidak bilang sama ibu, jika menginap di kantor Radit. Lagian ibu juga kan tidak nanya.


" Hehe.. Tari tidur di kantor Radit bu, semalam dia harus nyelesein kerjaannya. Jadi Tari ikut aja ke kantor. Ada Roman juga kok di sana. Kalo gak percaya, ibu tanya Roman gih.."


Tari tidak ingin ibu berpikir buruk tentang Radit. Selama ini, di mata ibu, Radit pria yang baik.


" Ngapain ibu tanya Roman, bikin malu aja."


Raka yang mendengar percakapan kami hanya tersenyum.

__ADS_1


" Gimana Bang, ayah jadi di operasi sekarang?"


" Iya De, rencana nya gitu, cuma nanti di lihat lagi kondisi ayah. Jadwal operasinya jam 4 sore nanti. Abang juga mau ke kantor dulu kok. "


" Cecil...duh anak ini, padahal dia ada jadwal kuliah kok malah tidur aja." Raka kembali berusaha membangunkan adiknya itu.


" Ih apaan sih Bang, aku baru tidur jam 3 pagi loh bang, jagain ayah. Abang loh tidur terus."


" Abang kan capek, abis kerja De, lah kamu kan cuma keluyuran gak jelas. "


Cecil mengucek-ngucek matanya. Dia beranjak duduk dari sofa. " Mbak udah dateng???"


" Iya , mbak baru dateng."


Ibu yang melihat interaksi antara ketiganya mengucap beribu syukur di dalam hati. Dia bahagia, melihat mereka hidup dengan rukun.


Diam-diam tangan ayah meraih tangan ibu, walau sudah hampir 10 tahun.tapi cintanya pada Rani masih tetap sama. Begitupun dengan ibu, walau di tinggal Rafa, ibu tidak pernah berusaha untuk mencari penggantinya. Bukan karena tidak ada yang menginginkan ibu, tapi ibu benar-benar menutup hatinya selama ini.


Tari ingat betul, berapa banyak pria yang berusaha mendekatinya demi meraih simpati dari ibu. Tapi tetap saja, ibu selalu menolaknya.


Bukan tidak melihat, Tari dan Raka memang sengaja berpura-pura tidak melihat ke arah mereka. Padahal nyatanya, Raka dan juga Tari bahkan Cecil juga melihat ayah yang menggenggam tangan ibu.


" Bang, Tari anterin ke sekolah sekalian ya...kan pengen gitu di anter Abangnya.."


" Apaan sih mbak, Abang tu jatah anterin Cecil ke kampus."


Raka terkekeh melihat kelakuan dua adiknya ini.


" Kamu lupa, Honda jazz merah yang baru di beliin Abang. Apa Abang kasih Tari aja ya? kamu kan mau nya di anter Abang ke kampusnya.."


" Oh iya ya, aku nyetir sendiri ya kemarin Bang.."

__ADS_1


__ADS_2