Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Gelisah


__ADS_3

Radit Aprov


Aku sadar dan paham apa yang mungkin Tari pikirkan akhir-akhir ini. Aku pun merasa sekarang dia sedikit berbeda dari biasanya. Dia jarang menghubungiku, mengangkat telpon dari ku, atau mengirim pesan padaku. Biasanya, dia yang selalu sibuk menanyakan kabar, sudah makan apa belum? lagi dimana? sama siapa? hal-hal yang untuk sebagian lelaki adalah hal yang paling menyebalkan, tapi tidak untukku. Sungguh, aku sangat menyukainya. Menyukai saat dia selalu menanyakan keberadaanku, bertanya dengan siapa aku pergi,,Aku benar-benar merindukan hal itu.


Dari pagi tadi aku bangun tidur dan langsung pergi ke kampus. Saking terburu-burunya sehingga aku meninggalkan barang yang sangat penting itu. Ponselku tertinggal di meja kecil dekat ranjang yang ada di apartemenku. Ketika selesai dengan urusan kampus, aku berniat kembali ke apartemen, aku takut Tari menghubungiku dan tidak mendapatkan jawaban dari ku. Aku tidak mau membuat gadis itu berpikir yang macam-macam. Aku tau, para wanita kadang selalu membuat skenario tersendiri ketika di hadapkan dengan sesuatu masalah. Mereka tidak bisa berpikir dengan logika mereka, lebih mementingkan soal perasaan. Begitu pula dengan Tari, kekasihku.


Aku berjalan keluar kelas, tergesa-gesa ku langkahkan kaki ku dengan lebar. Aku ingin segera pulang, dan mendapatkan kembali ponselku. Belum juga sampai di pelataran parkir, Roman sudah berlari terburu-buru ke arahku. Raut mukanya kusut, aku bisa menebak pasti sedang ada masalah di kantor dan dia tidak bisa menghubungi nomor ponselku.


" Pak, kemana aja. Saya menghubungi tapi tidak di jawab"


" Sudahlah pak, ayok kita ke kantor sekarang, ada sedikit masalah, dan mereka ingin menemui bapak secara langsung"


Sumpah demi apa? aku ingin mengumpat pada siapa saja saat ini, aku bener-bener ingin segera menghubungi Tari. Sebelum ku masuk ke dalam mobilku, aku menyuruh Roman untuk mengirim seseorang ke apartemen dan membawakan ponselku yang tertinggal di sana. Ku lirik sekilas, Roman sudah menghubungi seseorang untuk segera mengambilkan ponselku yang tertinggal.


****


Aku termangu di dalam kantorku, sekarang sudah pukul 2 siang tapi tidak ada tanda-tanda notifikasi bahwa Tari menghubungiku. Aku mendesah, aku kecewa, bahkan makan siang yang di bawakan Roman masih tergeletak di atas meja makan dengan utuh. Belum ingin aku sentuh. Aku tidak selera makan. Apalagi di saat ku coba untuk menghubunginya, jawabannya sungguh di luar ekspektasiku. Bagaimana perasaan kalian jika jadi seperti ku?? kami tidak bertengkar, tapi rasanya semakin hari semakin hambar.


Aku memejamkan mataku yang tidak kantuk, aku coba memahami apa yang sedang terjadi.


Radit: Sayang, kartu kredit dari aku gak pernah kamu pakek ya?


Tari: Enggak, orang aku gak beli apa-apa kok.


Radit : kok gak beli apa-apa sih sayaang...kamu kan lagi ada di mall. kamu juga sekalian belanja buat keperluan kamu. pake kartu punya aku ya..Aku seneng kalo kamu pake kartunya. aku ngerasa jadi lebih berguna buat kamu, kamu tau kan, aku sayang banget sama kamu. kamu gak boleh ada pikiran buat ninggalin aku. oke.

__ADS_1


Tari : Iya Radit.


Radit : kalo kamu kayak gini terus sama aku, aku mau pulang aja. aku pindah lagi aja cari kampus di Jakarta, aku juga gak mau ngurusin urusan kantor ayah di sini. Aku mau pulang temenin kamu aja!


Aku sudah tidak bisa lagi menahan unek-unek yang ada di hati ku. Ini gak bisa di biarin, yang ada Tari benar-benar menghilang dari hidup ku. Kalau saja, Tari menyuruhku pulang, detik ini pun juga, aku akan pulang. Tari segalanya buat hidupku. Sebesar inilah perasaanku padanya? kadang orang tua ku pun aku nomor dua kan. Tari yang nomor satu. Jika saja orang tua ku tidak menyetujui hubungan ku dengan dia, aku pastikan akan memilih Tari. Hemm memang aku anak durhaka.


Untung saja mereka sangat menyayangi Tari. Aku sangat bahagia.


Ponselku berdering, dan nama Sayang dengan emoji hati tertera di layar ponsel. Nama itu, ia sendiri yang mengetiknya. dari pertama berpacaran sampai sekarang aku tidak mengubahnya.


*Hallo


Kamu tuh ngomong apa sih dit, pulang...pulang ...terus... kalo ngomong suka gak di pikir dulu*.


aku tersenyum, hatiku menghangat, mendengar dia kembali cerewet seperti ini membuatku bahagia.


kamu tuh ngomong apa*!


*Jawab aja, sayang apa gak??


Ya sayang toh Dit... aku sayang sama kamu, selalu sayang sama kamu*.


Wajahku merona, aku sungguh bahagia mendengarnya. segala gundah di hati, akhirnya sirna sudah. Memang jika semuanya langsung di bicarakan maka pasti akan selesai.


*Terimakasih Sayang...Kamu masih lama belanjanya.

__ADS_1


Masih lah, orang ada yang gangguin mulu.


Hehe.. ya udah, aku juga mau makan siang dulu dari tadi gak pengen makan mikirin kamu sayang...


kok bisa belum makan, ini lho hampir jam 3 Dit*.


*Ya ini mau makan, kamu jangan lupa belanja pake kartu aku ya...miss you sayang...


I miss U too*.


****


tok tok tok


" Masuk" aku masih duduk di kursi yang ada di ruangan ku. Kulihat Roman datang dengan membawa beberapa berkas.


" Pak, ini yang harus bapak tanda tangani." ucapnya sambil menyerahkan tumpukan berkas itu dan meletakkanya di mejaku.


Ku raih ponselku saat ku dengar bunyi notifikasi pesan, ku buka pesannya.


informasi pemakaian kartu kreditnya, Tari pasti sudah menggunakannya. Radit tersenyum sambil memandangi ponselnya, tanpa memperdulikan Roman yang sedari tadi menunggunya di depan meja.


" Pak" Roman memanggilku kembali.


" Maaf ya Man.. Tari sudah mau pake kartu kredit yang aku berikan Man. Aku senang sekali" aku memang tidak sungkan-sungkan menceritakan perihal hubungan ku dengan Tari padanya. Usia Roman seusia Tari, jadi aku lebih leluasa bicara padanya.

__ADS_1


Roman menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti. Biasanya pria lain kesal, saat ada wanita yang menghabiskan uang mereka, tapi pria di hadapannya malah tersenyum bahagia. Mungkin dia juga harus memiliki pacar, agar mengerti.


__ADS_2