Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bandung


__ADS_3

Kedua kendaraan melaju dengan kencang membelah jalanan. Mobil Radit memimpin di depan sedangkan mobil honda jazz berwarna merah milik Ita mengikuti di belakangnya. Mereka sempat berhenti di tengah jalan tadi, mampir di sebuah mini market untuk membeli makanan ringan dan softdrink. Perjalanan Jakarta Bandung akan memakan waktu kurang lebih 3 sampai 4 jam, itupun jika tidak terjebak macet. Rega menawarkan untuk bergantian mengemudi, tapi Radit menolaknya.


Dia tidak akan merasa lelah jika ada Tari di sampingnya. Sepanjang perjalanan yang di tempuh pun tidak luput dari sendau gurau mereka berempat. Rega dan Alvin tidak menyangka, Tari yang notabene seorang guru itu, bisa mengimbangi obrolan anak muda seperti mereka bertiga. Bahkan kadang Tari yang lebih semangat di antara mereka. Tertawa, berteriak bahkan Tari juga mengumpat. Tidak ada lagi rasa canggung, sekarang mereka berbaur menjadi satu.


Setelah perjalanan panjang, akhirnya kendaraan yang di naiki mereka sudah sampai di besment sebuah hotel. Radit sengaja memilih hotel ini, karena berada tepat di sebelah kantornya. Meeting yang akan di hadirinya bersama klien juga berada di restoran yang terdapat di hotel ini. Mobil milik Bu Ita juga sudah terparkir dekat dengan mobil mereka. Radit mengajak semuanya untuk masuk ke dalam hotel dan memesan kamar untuk mereka menginap.


Radit memesan 3 kamar untuk mereka, Rega akan sekamar dengan Alvin, Tari dengan Ita, dan tentunya Radit dengan Ronald. Setelah memberikan kunci kamar, akhirnya mereka pergi ke kamar masing-masing.


Waktu masih menunjukan pukul 11 siang, mereka akan berkumpul kembali untuk makan siang jam 12 nanti. Radit memilih langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, meluruskan punggungnya yang pegal. Sedangkan Ronald sedang duduk di sebuah sofa yang ada di sana.


" Lo mau tidur Dit,..? Ronald beranjak ke kamar mandi, sebelumnya menoleh ke arah Radit. Mata nya memandang fokus pada kaki Radit yang masih memakai sepatu. Tapi Radit tidak menaikkan kakinya itu ke atas ranjang, melainkan di biarkannya terjuntai menyentuh lantai..Dia lelah, sampai tidak ingin melakukan apapun lagi, selain memejamkan matanya.

__ADS_1


" Sepatu lo setidaknya copot dulu tuh..." ucap Ronald lagi. Tanpa menunggu jawaban dari Radit, ia langsung membuka pintu kamar mandi. Dan membersihkan diri di sana.


Sedangkan di kamar 412 yang di tempati oleh Rega dan Alvin juga sedang membersihkan diri. Mereka bergantian menggunakan kamar mandi, sekedar untuk membasuh muka mereka yang terlihat lusuh.


****


Di sebuah restoran yang berada di dalam hotel akhirnya mereka semua bertemu. Radit memilih tempat itu karena Tari menyukai masakan Sunda, dan di restoran ini terdapat berbagai macam menu makanan khas Sunda.


Namun, saat mereka meyantap santapan mereka, tiba2 ada seorang wanita yang cantik menghampiri Radit.


" Pak Radit Wijaya kan?..."

__ADS_1


Radit menengadahkan kepalanya, menoleh ke arah sumber suara. " ya..." singkat saja jawaban Radit, dia memang tidak mengenal perempuan yang sedang menyapanya ini.


" Saya Jeslin pak, Nanti kita ada janji meeting di hotel sini" Jeslin mengulurkan tangan ke arah Radit, dan sambil menatap mata Tari, seolah meminta izin dia membalas uluran tangannya.


Penampilan Jeslin sangat lah sexy, dengan setelan jas ala kantoran di padukan dengan rok yang hanya sebatas lutut, hampir mempertontonkan seluruh pahanya yang mulus. Hati Tari tak menentu, makanan kesukaan yang sengaja ia pesan pun tidak di sentuhnya sama sekali. Mungkin Radit selalu bertemu dengan wanita-wanita yang seperti ini, berbeda dengan dirinya. Tari lebih suka memakai celana jeans belel, dan hanya dengan menggunakan T sihrt saja. Tari bahkan tidak mempunyai pakaian yang layak. Baru kali ini dia tidak percaya diri dengan keadaanya. Dia tidak pernah mempermasalahkan hidupnya, tapi kali ini dia mulai membandingkan hidupnya dengan orang lain. Tari terdiam sampai Jeslin menarik kursi yang kosong demi sebelah Radit, terlihat sekali dia memang sengaja menggoda Radit. Radit memang sangat tampan, dia juga termasuk putra tunggal orang berada, wajar saja banyak wanita yang mengantri untuk menjadi pasangannya. Nyali Tari menciut, dia bahkan sudah menunduk dan enggan menyentuh makanannya sama sekali.


" Sayang...ayok buruan makan,habis ini aku harus meteeng dengan Bu jeslin.." Radit menatap Tari dan mengambilkan sendok dan garpu untuknya.


Tari menatap Radit sekilas, lalu menyuapkan makanannya.. " Dit, ntar aku ajak Tari ke Mall ya...kamu kan ada janji kan?" Ita meminta izin pada Radit. Walau bagaimana pun, dia harus tau kan kemana kekasih nya ini pergi.


" Yang penting jagain bini gue ya bu, dia kan gak ngerti daerah sini"

__ADS_1


" Tenang aja kan ada kunyuk-kunyuk ini pada jagain kita" Ucap Ita pada Rega dan Alvin yang masih saja menguyah makanan..


__ADS_2