Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bab 2. Tentang Raditya Wijaya


__ADS_3

" Kamu bukan lah rembulan. Setidaknya itulah harapanku, karena masih bisa mendapatkan mu" Raditya Wijaya


Raditya Wijaya


Aku seorang siswa kelas XII. Usiaku 18 tahun.


Bukannya aku sombong. Aku memang tampan dan kaya.


Idola.. Mungkin itulah kata yang pantas di sematkan pada sosokku.


Orang-orang di sekolah ini terutama kaum hawa selalu memandangku dengan panasnya. Bahkan ada yang sampai berteriak histeris. Ada yang terang-terangan menyatakan rasa sukanya padaku. Tentu saja aku langsung menolaknya.


Aku benar-benar tidak menyukai mereka. Sungguh, menurutku mereka menjijikan.


Wanita yang seperti mereka bukanlah tipe ku.


Ada, ada satu wanita.


Yang diam-diam selalu aku perhatikan. Aku selalu ingin tau keberadaannya di antara ratusan wanita di sekolah ini. Seandainya dia bukan guruku. Mungkin ini akan lebih mudah untukku. Bagaimana bisa seorang murid mengejar cinta gurunya?Ini adalah kenyataan, bukan tentang cerita film yang semalam aku tonton. Ini tidak mudah bagiku. Dia bahkan tidak pernah menoleh kearah ku. Jika kita berpapasan di lorong kelas saja, dia tidak pernah menyapaku.


Beginikah rasanya???


Cinta sepihak itu.


Aku mengaguminya,mengidolakannya,bahkan sekarang menginginkannya. Ya Tuhan..


Sudah 2 thn ini aku memperhatikannya diam-diam. Tidak ada yang tahu tentang ini,bahkan rega sekalipun. Orang yang sudah sejak TK bersahabat dengan ku itu tidak ku beri tahu,hanya aku dan orang tuaku saja...


Aku dekat sekali dengan orang tuaku, terutama ibuku. Mungkin karena aku anak tunggal, tidak ada yang tidak ku ceritakan padanya. Termasuk perasaan terpendam ku ini.


Aku terduduk di kursi cafe,menunggu Rega. Anak itu jika berjanji selalu saja ingkar. Sialan!! Aku mengumpat kesal. Bagaimana tidak kesal, sudah setengah jam aku duduk disini,tapi si kampret itu belum nongol juga.


Ini sudah lewat jam makan siang, tapi kenapa cafe ini ramai sekali.? Bahkan tidak ada lagi meja yang kosong. Semua sudah terisi dengan orang berbagai bentuk dan usia.

__ADS_1


Deg...


Aku melihat dia celingak celinguk mencari meja kosong. Mataku tak mau berhenti memandangnya. Ku beranikan diri memanggilnya.


" Ibu"


Dia tak juga menoleh. Aku berteriak lagi sambil tanganku melambai kearahnya.


" Ibu"


Tetap saja..


" Senja Mentari Putri" Suaraku sangat lantang memanggil namanya. Bahkan setelah ku perhatikan para pengunjung cafe menatap kearah ku heran.


Dia tersenyum, menoleh kearahku dan menghampiri mejaku.


Jantungku...tolong jangan seperti ini.


Please...aku mohon.


" Maaf bu, tadi aku sudah memanggil ibu, tapi ibu tak menoleh"


" Makanya aku memanggil nama ibu langsung." jelas ku padanya.


Aku gak mau, mempunyai image jelek di hadapannya. Sekecil apapun, aku ingin tampil sebaik mungkin.


" Duduklah disini bu, tak ada meja yang kosong lagi"


Ku lihat dia melirik ke meja depan kami. aah ada Ibu Ita ternyata bersama seorang pria. Mengapa dia tidak duduk bersama mereka? Pikirku dalam hati.


" Bolehkah??" tanyanya padaku.


" Tentu bu, aku sendirian disini" jawabku dengan cepat.

__ADS_1


" Baiklah dan terima kasih" ucapnya lagi


Aku sangat senang,sungguh.. bisa berdua dengannya tidak pernah terbayang olehku.


Dia sangat cantik, mengenakan kemeja putih dan rok sepan, sangat pas di badannya. Aku sangat menyukai pemandangan di depanku ini. Akankah aku bisa mendapatkan nya??


Siapa yang akan menolak pesonaku. Aku tampan dan juga kaya. Nilai di sekolah juga termasuk bagus. Aku selalu masuk 3 besar di kelas. Tapi semua ini tidak berlaku untuk seorang Senja Mentari Putri...


" Radit, kamu sudah pesan makanan belum?" Tari bertanya sekaligus membuyarkan lamunanku.


" Oh, iya bu. Aku sudah pesan, tapi pesananku belum datang".


" Ibu mau pesen apa"?


" Aku panggil pelayannya ya?" kentara sekali bahwa aku seantusias ini.


" Tidak perlu Radit, sebenarnya ibu juga tidak akan lama"


" Baiklah bu.." aku menutupi kekecewaanku


Kenapa tidak berlama-lama saja bu...? Aku ingin menjawab seperti itu.


Ku lihat dia hanya memandang ke arah meja bu Ita. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Aku juga tidak bertanya. Mana berani aku???


" Lihatlah Radit, apakah Ibu Ita pesan ekspreso?" tanya nya padaku


Ya memang, aku yang secara langsung berhadapan dengan meja Ibu Ita. Sedangkan Tari, harus memutar tubuhnya dulu jika ingin jelas melihat mereka.


" Tolong Ibu, lihat apa yang di minum Ibu Ita" pintanya lagi. karena mungkin aku lama sekali menjawabnya. Jadi dia mengulang pertanyaannya lagi.


" Bu, Bu Ita minum moccacino"


Kampret anak ini,tadi aku tidak menanyakan padanya harus bagaimana jika dia tidak memesan ekspresso.

__ADS_1


Tari terus saja menggigiti kuku nya. Dia gelisah sekali. Aku terus saja memperhatikannya.


__ADS_2