Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Bab 5 Mencoba Lebih Dekat


__ADS_3

" Akan aku hilangkan jarak, akan aku mulai mendekati dirimu" Raditya Wijaya


Radit senyam senyum membuka pintu kamarnya. Dia terus saja menatap ponselnya. Baru saja dia berbalas pesan dengan Tari. Radit harus lebih agresif kali ini. Sebentar lagi ia lulus, dan tidak ada waktu lagi. Perasaannya pada Tari adalah nyata, dia tidak peduli jika Tari gurunya. Bukankah kita tidak bisa memilih kemana cinta kita akan berlabuh?


" Aku harus menghilangkan jarak, aku harus berusaha semampuku"


Akhirnya Radit memberanikan diri mengajak Tari makan siang di cafe. Dia menggunakan alasan balas budi sebagai tamengnya kali ini. Dan Tari menyetujuinya.


Waktu sudah menunjukan jam 10 malam, saat Tari menyuruhnya segera tidur.


" Aku akan tidur Tari, aku akan mematuhi perkataan mu" Radit bergumam sembari melangkahkan kaki nya menuju ranjang king size nya.


" Radit, tumben jam segini anak ibu sudah tarik selimut. Kamu sehat kan sayang?? Kamu bahkan belum makan malam." Rosa memegang dahi anak semata wayangnya, lalu menyentuhkan tangannya kembali ke dahi nya sendiri.


" Tidak panas..."


Rosa kesal karena radit tidak juga menjawab pertanyaan dari nya.


" Ibu, Radit tidak apa-apa, Radit capek ingin tidur. Tadi sore Radit sudah makan bu. Radit makan di rumah Tari bu. Guru Radit itu.."


Radit tidak bisa menyimpan apapun dari Rosa, ibunya.


" Benarkah, bagus dong" Rosa membetulkan letak selimut anak kesayangannya.


Bagi Rosa, walaupun Radit sudah menginjak usia 18thn, dia tetap pangeran kecil di matanya.


" Ya sudah, karena sudah malam kamu tidur, besok ibu akan mendengar cerita mu. Ok"


" Iya bu, malam ibu" Radit bangun dan segera memeluk ibu nya. Radit terpejam, ini adalah tidurnya yang paling nyenyak.


Matahari kembali muncul, silaunya datang dan memasuki sela- sela lubang kamar Radit. Hordeng jendela kamarnya masih tertutup, tapi di bagian atasnya ada sedikit celah sehingga cahaya dapat menembusnya. Dia segera bangun, menuju kamar mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah.

__ADS_1


Tidak lama baginya untuk bersiap-siap, karena Radit tidak suka berlama-lama di kamar mandi. Toh dia sudah tampan. Begitulah ke narsisan seorang Radit. Dia merapikan rambutnya, lalu memasukan kemeja baju nya.


Langkah kaki nya terlalu cepat menuruni tangga, sehingga Rosa yang sedang di meja makan menoleh ke arahnya.


" Jangan terburu-buru Radit, nanti jatuh.." Rosa berbicara dengan nada sedikit tinggi.


" Radit ada jadwal piket ibu," Radit menjelaskan sambil mengambil sepotong roti tawar dan mengoleskan selai coklat di atas nya.


Radit pergi setelah memeluk dan mencium kening ibu nya.


" Assallamualaikum ibu, Radit berangkat ya..."


" Walaikum salam, hati-hati sayang....."


Radit menaiki mobil sport nya dan melaju di jalanan Jakarta yang selalu saja ramai.


" Bu..ibu dimana??" Radit menelepon Tari. Tidak lupa dia memakai headset karena sedang menyetir.


" Ada apa? Ibu sudah di kantor"


Dia masih tetap menelpon Tari.


" Ya sudah aku kesana bu.." Radit berjalan melewati lorong kelas menuju kantor guru.


Dia menutup sambungan telepon, tanpa menunggu jawaban Tari.


Tari sendiri heran, ada apa dengan Radit.?


Radit mengetuk pintu kantor, tempat para guru bekerja. Untung saja ini masih pagi, belum banyak guru yang datang. Radit melihat masih banyak meja guru yang kosong. Dia berjalan ke arah meja Tari berada.


Tari menatap Radit, seakan dari tatapan matanya bertanya " Ada apa???"

__ADS_1


" Aku mau menyerahkan tugasku" Radit membuka rek seleting tas nya lalu mengeluarkan paper bag coklat.


" Ini, aku pergi dulu ya bu. Sebentar lagi bel"


Tari masih saja terbengong di tempat duduknya, memandang paper bag itu.


Apaan anak ini,..Tari bahkan belum sempat bertanya apa isi paper bag ini? Tapi Radit sudah pergi, berlalu begitu saja tanpa menjelaskan apapun. Untung saja dia berkata tuga, jadi guru yang lain tidak terlalu memperhatikan kami.


Tugas? Tugas apa?


Seingat Tari, Tari tidak memberi tugas apapun kepada Radit, maksudnya kelasnya Radit.


Tari membuka paper bag itu, ada sebuah note disana..


"Di makan ya bu..ini buat sarapan ibu,aku sengaja membeli di perjalanan tadi 😘"


Apa Radit mulai menggodaku, baru sekali mereka mengobrol di luar jam sekolah, tapi kenapa sikapnya sudah seperti ini..Dan emoticon ini, apa maksudnya???


Tari masih bergelut di pikirannya.


" Ciye, dari siapa..pagi-pagi di bawain sarapan" Ita memeluk Tari dari belakang membuat lamunannya buyar seketika. Tari meremas kertas note dari Radit lalu membuangnya ke kotak sampah.


" Ini di bawain ibu ku, kamu mau? Udah sarapan belum?" Tari terpaksa berbohong.


Ya... Dia mulai berbohong dan berbohong lagi demi menutupi kebohongan-kebohongan sebelumnya.


Tidak mungkin Tari berkata ini dari Radit, Apa yang di pikirkan Ita terhadap nya jika mengetahui Radit mulai menggodanya.


Jujur saja, Tari sedikit tergoda. Tatapan Radit sangat sejuk, tingkah nya lucu dan selalu membuat bibirnya tersenyum. Belum lama dia mengenal Radit secara pribadi, tapi apa yang di rasakan nya saat ini? Tari benar-benar tidak mengerti.


Teng teng.teng. bel pertanda jadwal pelajaran di mulai. Tari dan Ita bersiap- siap menuju kelas masing-masing.

__ADS_1


Hari ini tidak ada jadwal mengajar di kelas Radit. Jadi Tari bisa sedikit lega, setidaknya dia tidak akan bertemu dengan Radit di sekolah. Setelah insiden tadi pagi, Tari bingung harus bicara apa jika bertemu dengan Radit. Lebih baik ia menghindar saja jangan sampai bertemu. Itu yang Tari pikirkan.


Tari bahkan melupakan janji temu nya di cafe dengan Radit.


__ADS_2