Mengejar Mentari

Mengejar Mentari
Tentang Yudi Prakasa


__ADS_3

Yudi POV


Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari nya. Walau kami sudah tidak memiliki ikatan apapun lagi, tapi tetap saja, namanya tidak bisa hilang begitu saja dari hatiku, hidupku, dan jiwaku. Entah rasa bersalah yang terlalu besar, atau rasa cintaku yang terlalu dalam. Aku tidak tau? Yang jelas, ingatan tentang dirinya tidak bisa hilang.


Nyatanya sekarang aku sudah memutuskan bersama dengan Rere, gadis imut, manis dan juga berisik itu, akhirnya sekarang telah resmi menjadi kekasihku beberapa jam yang lalu. Ada sedikit sesal, aku takut keputusan yang aku ambil dengan hati yang terluka ini, juga melukai Rere. Bagaimana tidak? aku menerima cintanya, setelah hatiku panas melihat foto di ig Radit yang memposting foto mereka berdua dengan Tari. Bukan hanya foto berdua saja yang menjadi masalah di sini, tapi nyatanya, mereka berfoto dengan memamerkan kedua cincin yang sudah melingkar di jari manis keduanya. Mereka bertunangan, mungkin sebentar lagi menikah. Hilang sudah harapanku, ini semua benar-benar berakhir. Aku merutuki kebodohanku di masa lalu, berselingkuh darinya, mengkhianatinya, di saat dia benar-benar mempercayaiku sepenuh hati. Terlalu dalam luka yang aku goreskan, seakan berlutut sekalipun, tidak akan membuat Tari kembali ke pelukanku.


Aku yang saat ini sedang bersama dengan Rere, memutuskan untuk mencoba. Iya, mencoba...? Jahat kan?


Aku hanya mencoba untuk bersama Rere, aku akan mencoba membuka hati aku untuk dirinya. Namun, aku sendiri tidak tahu, kapan itu akan terjadi. Dan sepertinya gadis itu tau yang aku pikirkan, dia bilang mengerti. Dan akan menunggu. Apa maksudnya itu, aku pun tak tahu.


Ku langkahkan kakiku dengan tergesa-gesa, berharap bisa mengejar langkah Tari yang semakin jauh dari pandangan ku. Aku tidak percaya, aku kalah telak dengan bocah ingusan yang menjadi tunangan Tari. Aku pikir, aku bisa mendapatkannya kembali. Nyatanya, dia semakin menjauhiku. Seperti akhir-akhir ini, aku tau dia menghindari bertemu denganku. Walaupun kami mengajar di sekolah yang sama, aku bahkan hampir tidak pernah berbicara dengannya. Hingga pagi ini, Tuhan mungkin sedang baik denganku, aku bisa berpapasan dengannya di koridor yang sama. Dan dia, tidak mungkin bisa menghindariku saat ini.


Maafkan anakmu bu? Aku menjadikan ibu alasan dari obrolan ku. Aku menyuruhnya menemui ibu, karena ibu sedang sakit. Eh gimana ini? aku juga tidak sepenuhnya berbohongkan. Ibu memang beberapa kali menanyakan keberadaan Tari, mereka memang sangat akrab selagi kami masih berpacaran dulu. Malah kadang, aku merasa ibu lebih menyayanginya ketimbang aku, yang anak kandungnya. Tapi soal sakitnya, mungkin aku agak hiperbola sedikit. Ibu tidak sakit, lebih tepatnya sedikit saja sakitnya. Dia merasa pusing setelah pulang dari pasar pagi kemarin. Aku hanya melebih-lebihkannya supaya Tari mau berkunjung lagi ke rumah.


Aku masuk ke ruang guru, disana Rere dengan senyum yang merekah menyambut kedatanganku. Aku pun berbalik tersenyum kepadanya. Aku berusaha ya disini.. menjadi pacar yang baik dan benar. Walaupun kadang otakku ini tidak pernah sekalipun memikirkannya.


Rere menghampiri mejaku dengan segera, setelah aku mendaratkan pantatku di kursi kerja milikku. Dia menyodorkan kotak makanan yang aku sendiri tidak tahu apa isinya. Dia juga meletakkan botol air mineral di meja, tetap dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya. Mungkin dia sedang berbunga-bunga, setelah semalam cintanya yang sepihak itu akhirnya berakhir.

__ADS_1


" Ciye ciye...dah pacaran langsung terang-terangan gini pak Yudi" Ucap Bambang, guru olahraga di sekolah ini.


Aku hanya meliriknya sekilas, tanpa ingin menjawab sedikitpun. Aku melihat kotak bekal yang di berikan Rere, lalu mengucapkan terima kasih. Tidak lupa, dengan senyum yang sangat menawan dan rupawan aku ukir indah di wajah tampanku.


" Kamu udah makan belum?"


Aku bertanya pada Rere yang masih berdiri di hadapan meja kerjaku, dia malah malu-malu seperti itu. Padahal dulu, urat malunya seperti hilang di telan bumi, tapi kenapa setelah resmi menjadi pacarnya, dia malah berlagak sok malu-malu seperti itu. Membuatku ingin tertawa saja.


" Kalo belum makan, sini makan sama-sama" Ucapku lagi, karena sedari tadi yang ku ajak bicara tidak menjawab sama sekali.


Aku membuka kotak bekal yang Rere siapkan, aku memang belum sarapan. Sebenarnya jadwal mengajarku masih nanti siang, tapi aku sengaja berangkat pagi karena ingin bertemu dengan Tari. Sekali lagi aku tegaskan, aku tau jadwal dia mengajar disini.


Nasi goreng dengan irisan sosis dan bakso di dalam nya, juga ada dadar telor yang di taruh di atasnya. Aku mengambil sendok, lalu menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutku. "Hemm...enak" aku menoleh ke arah Rere. Dan dia pun tersenyum dengan pujian dari ku.


" Besok, aku buatin lagi kalau kamu suka."


" Gak usah, aku gak mau ngerepotin kamu"

__ADS_1


Aku berusaha menolak, bukan apa-apa aku memang tidak ingin merepotkannya. Apalagi, hatiku belum sepenuhnya menerimanya.


Dia tertunduk memandang sepatunya sendiri.


Mungkinkah dia tidak suka jawabannku. Apa aku sudah menyakitinya lagi?


" Baiklah, bawakan sarapan untukku setiap pagi ya..apa aku sarapan ke rumahmu setiap pagi, bagaimana? sekalian kita berangkat sekolah bareng?" Aku membelokkan jawabanku setelah melihat raut wajahnya yang sedih. Walau bagaimanapun aku tidak ingin dia sedih. Dia, pacarku sekarang. Aku harus melupakan Tari dan memberikan kesempatan untuk diriku sendiri. Aku juga harus bahagia.


Dia menengadahkan lagi kepalanya, lalu tersenyum.


" Ya udah, aku akan masak. Aku tunggu kamu di rumah setiap pagi. Aku ke kelas dulu ya Mas."


Hah..gak salah kan..? Mas. Biasanya dia memanggilku dengan sebutan Pak. Aku juga selalu memanggilnya dengan sebutan Ibu.


Kami seorang pengajar disini, semua rekan kerja sesama guru selalu memakai sebutan Bapak atau Ibu untuk memanggil rekan kerja mereka. Tapi Mas? Aku mengulas senyumku kembali. Ah..beginikah rasanya.? Sudah lama aku tidak merasakannya. Usiaku sudah hampir kepala 3. Tapi aku seperti abg gila.


Aku membereskan buku-buku tugas yang menumpuk di mejaku, aku memeriksa satu persatu tugas yang siswaku kumpulkan. Masih ada beberapa jam lagi sebelum aku pergi ke kelas.

__ADS_1


__ADS_2