
Ita mondar mandir di ruang tamu apartemennya. Kata-kata kedua orang tuanya masih terdengar jelas di telinganya. Menjadikan kegundahan tiada henti. Dia bingung, harus bagaimana di saat kedua orang tuanya menyuruhnya untuk selalu segera menikah. Sedangkan hubungannya dengan Ronald...Ah entahlah... Walaupun Ronald selalu ada jika di butuhkan, tapi Ita masih meragukan perasaan Ronald padanya. Rasanya seperti ada yang mengganjal di hatinya.
Bahkan pernah, Ita menyinggung soal pernikahan, tapi Ronald tidak menanggapinya dengan serius, dia malah mengalihkan pembicaraan seakan topik tentang pernikahan enggan jadi bahan obrolan mereka.
Mungkin Ronald tidak ingin menikah dengan nya?? Entah kenapa pertanyaan itu terselip di pikiran Ita. Seperti serius, tapi seperti tidak menginginkan pernikahan. Ah bingung lah Ita memikirkannya.
" Kalau dia tidak mau menikah sekarang, setidaknya lakukanlah pertunangan dulu"
Ucapan papahnya masih terdengar jelas. Biasanya papah Ita tidak pernah serepot ini mengurusi hubungannya dengan laki-laki. Biasanya yang repot itu adalah mamahnya. Tapi kenapa, sekarang papah juga ikut-ikutan seperti mamah sih...
Ita masih saja mondar mandir, sampai suara bel apartemennya berbunyi, menghentikan gerakannya. Ia melangkah dengan cepat menuju ke arah pintu.
Ronald di sana, dengan penampilan yang sangat rupawan di tambah dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya, dia berdiri di depan pintu. Di tangannya terdapat bunga mawar merah 1 tangkai saja, lalu menyerahkannya kepada gadis yang ada di hadapannya itu.
" Ngapain bunyiin bel sih, kamu kan tau kode pintunya" Ita berbicara sambil duduk di salah satu sofa di ruang tamunya. Ia menyambar mawar merah pemberian Ronald lalu meletakkan begitu saja di atas meja.
__ADS_1
Ronald memicingkan matanya, ia melihat ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Ita. Ada apa??? aku tidak melakukan kesalahan apapun kan? Ia mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di sebelah Ita. Di raihnya bahu kekasihnya itu, lalu ia kecup keningnya dengan lembut.
" Ada apa??" tanya Ronald melihat sedari tadi hanya hening yang ada di ruangan itu. Biasanya Ita yang ceria, manja padanya, kini sikapnya cuek dan seperti tidak menyukai keberadaanya di sini.
" Papah, menyuruh kita menikah!" Ita tau Ronald masih ingin bersantai, tidak ingin terikat dengan sesuatu seperti pernikahan. Terlihat beberapa kali Ita membahas perihal itu di sela-sela obrolan mereka, tapi Ronald selalu menghindarinya.
Ronald bahkan belum mengajaknya menemui keluarganya, padahal hubungan mereka sudah berjalan hampir 2 tahun. Mulanya Ita tidak ingin memikirkannya, tapi mendengar cerita dari Tari, Radit yang mengajaknya menemui kedua orang tuanya di hari pertama mereka berpacaran, membuat hati Ita teriris. Benarkan Ronald mencintainya.!????
Ronald masih terdiam, bibirnya tertutup rapat tidak ingin membahas perihal masalah ini, dia belum siap, entah sampai kapan.. Ronald belum bisa sepenuhnya melupakan luka hatinya. Tapi ia juga tidak ingin menyakiti gadis yang selalu menghiasi hari-harinya 2 tahun ini. Dia tidak menyangkal, bahwa dia mencintai Ita. Tapi jika untuk menikah, Ronald sama sekali belum memikirkannya.
" Nanti aku temuin papah kamu ya???" ucapnya ambigu. Apa maksudnya ini?
Hening sejenak, keduanya seolah memiliki pemikiran masing-masing.
" Aku gak mau maksa kamu buat nikahin aku, karena aku juga gak mau nikah sama lelaki yang menikahi aku karena terpaksa"
__ADS_1
Ita menunduk, dalam katanya terdapat setiap hal yang selalu ingin ia utarakan sedari dulu. Ronald seperti hanya terbiasa dengannya, bukan karena cinta. Itu lah yang selalu Ita pikirkan selama ini.
" Kamu tuh ngomong apa sih... bukannya kita berhubungan ujungnya pasti ingin menikah??? aku pun begitu." Ronald mencoba meraih wajah Ita dengan kedua tangannya, di tatapnya mata kekasihnya itu. Bahkan Ita sudah berkaca-kaca. Dia tidak ingin menatap mata Ronald.
" Hei...kamu kenapa malah kayak gini sih" ucapnya lagi dengan lembut. Ronald mendekap, memeluk gadisnya itu dengan erat. Apa yang sudah dia lakukan? Wanita ini yang selama ini mengisi kekosongan hatinya, menerima apa adanya, segala kekurangan yang ia miliki tanpa mengeluh. Kenapa dia membuatnya menangis.. Ronald merutuki dirinya sendiri. Tubuh Ita bergetar dia malah menangis semakin kencang.
" Aku pikir kamu tidak mencintaiku, aku pikir kamu hanya membutuhkanku.." Ita berbicara di sela-sela tangisnya.. Ronald melepaskan pelukannya, di pandangnya dengan lekat wajah Ita di hadapannya. Jadi seperti itu, selama ini Ita berpikir tentang dirinya. Ronald tersenyum sinis..dia bahkan tidak tau, jika gadis ini sangatlah bodoh. Tidak bisa merasakan apa yang ia rasakan.
" Aku memang membutuhkan mu, karena aku mencintaimu" dia mengusap air mata di pipi Ita, lalu meraih bibir manis kekasihnya, menempelkannya dengan bibirnya. Ronald mencium bibir gadis nya dengan lembut, menyalurkan segala cinta yang ia miliki. Berharap gadis ini akan paham isi hatinya, jika ia juga memang ingin memilikinya. Mereka bahkan sudah sering tidur bersama, tapi mengapa Ita tidak memahami hati Ronald. Dia sekarang sangat mencintai Ita sepenuh hati.
" Orang tua aku ada di Lampung, yang di kenal oleh mamah kamu itu bibi aku. Nanti biar dia dan paman yang datang ke rumah mu ya.." Ronald menghentikan pagutannya. " Atau kamu mau kita ke Lampung, nemui orang tua aku dulu. Aku sih terserah kamu aja" Ucapnya lagi lalu mengecup singkat kening Ita.
Ita menatapnya tajam, sorot matanya seakan mencari jawaban dari pertanyaannya." Kamu bener mau nikahin aku???"
" Ya,kalo kamu udah ngebet pengen nikah sama aku, aku sih gak masalah." Ronald menjawab seraya terkekeh.
__ADS_1
" Ronald......!!!!" Ita tergelak berteriak kencang. Ia bahkan menggigit bahu Ronald dengan keras. Kesal.
" Iya sayang..iya..."