
" Sekarang jelasin, maksudnya apa ini!! sejak kapan kalian berhubungan, jangan-jangan waktu Radit masih di sekolah ya..."
" Oh...foto cewek yang kamu post waktu itu, adalah foto Tari. bener???" Ita tanpa sadar menggebrak meja yang ada di depannya.
Mereka berempat sedang duduk di sebuah restoran cepat saji yang berada di dalam Mall.
" Bebbs..udah dong..kamu tuh urakan banget deh. sumpah..!" Ucap Ronald sambil memegang tangan Ita mencoba menghentikan kelakuan pacarnya itu, agar tidak semakin menjadi-jadi.
" Kamu tuh seorang guru, inget..sabar..." pinta Ronald lagi.
" Cepet ngomong, gak usah diem aja" ucap Ita dengan emosi.
" Maafin aku Ta,, aku memang udah setaun ini pacaran sama Radit".. jelas Tari dengan nada pelan. Ucapan Tari membuat Ita kaget, dia bahkan menumpahkan gelas minuman yang ada di hadapannya. Dia marah, dia merasa tidak di hargai, dia merasa tidak di anggap. Seperti itulah perasaan Ita saat ini.
" Kamu mau sampe kapan nyembunyiin ini dari aku,??? kalo hari ini kita gak ketemu, mungkin kamu juga gak akan pernah cerita. iya kan???"
" Aku ini sahabat kamu, kamu pikir aku gak bisa mengerti perasaan kamu Tar,,,?" Ita bahkan sudah terisak..menangis..dia sudah tidak tahan lagi.
Tari menghampirinya, memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat sambil mengucapkan permintaan maaf berkali-kali.
" Maafin aku Ta...terus terang aku malu karena jatuh cinta sama murid aku sendiri. Aku tidak percaya diri Ta...."
" Ini pertama kalinya aku jalan keluar berdua dengan Radit, dan langsung ketemu sama kamu.. aku bener-bener butuh waktu yang sangat lama.. Kamu tau aku kan??"
" Bukannya aku gak nganggap kamu sahabat aku, tapi aku sejujurnya malu.."
Ita menegakkan kepalanya, menatap manik sahabatnya yang juga berkaca-kaca seperti dirinya. Jika dia berada di situasi seperti Tari, mungkin dia akan melakukan hal yang sama. Kita mana tau, kemana cinta akan berlabuh?? kita juga tidak bisa memilih kepada siapa akan jatuh cinta? karena cinta selalu menemukan arahnya sendiri.. tidak tau kapan dan dimana..
" Udah jangan nangis, kamu jelek..ntar Radit gak mau lagi sama kamu"
Mereka berdua tertawa sambil berlinang air mata...Ah...wanita...memang aneh...
__ADS_1
Radit tersenyum..
Tari kembali ke tempat duduknya lagi, lalu menoleh ke arah Radit.
" Hari ini aku yang traktir ya bu, anggap juga sebagai permintaan maaf dari aku" Radit tersenyum di hadapan kedua orang yang ada di depannya. Tangannya meraih tangan Tari lalu meletakkannya di atas paha nya.
" Ya iya lah.. Harus!!! " kekeh Ita lagi.
Radit juga berniat mengenalkan Tari pada Rega. Bukan mengenalkan, karena memang Rega sudah mengenal Tari. Dia akan mengatakan bahwa Tari adalah orang yang ia cintai dan sekarang menjadi kekasihnya.
" Bu, kalo Yudi macem-macem ibu bisa kan langsung hubungi aku " Radit mengeluarkan ponselnya meminta Ita memasukkan nomer ponselnya. Ita memandang ke arah Tari seperti membutuhkan penjelasan..
" Kemaren Mas yudi nganterin aku pulang, pas Radit baru dateng dari Bandung, Ta.." ucap Tari menjelaskan pada Ita.
" Sayang, kamu bisa gak, gak manggil-manggil pria lain mas mas gitu? emang dia kakak kamu apa!?" Radit berkata sambil meletakkan sendok dan garpunya.
Ita yang melihat perubahan sikap Radit hanya bisa tersenyum geli, begitupun dengan Ronald.
" Radit bahkan udah manggil Tari " Sayang" aku bener-bener gak nyangka" Dia menggeleng-gelengkan kepala,
"Pak Wisnu Yang.. aku angkat dulu ya.." Radit memperlihatkan layar ponselnya pada Tari, dia tidak ingin kekasihnya itu menerka-nerka siapa yang menghubungi nya saat ini, Radit lebih senang menunjukan semuanya pada Tari. Radit bahkan tidak beranjak dari tempat duduknya, dia mengangkat sambungan telponnya dengan masih duduk di tempatnya berada, di samping Tari tentunya.
Tari menyuapkan makanan ke mulutnya, malam ini dia lapar sekali. Pertemuan tiba-tiba dengan Ita menguras habis energinya. Harusnya hari ini menjadi kencan yang menyenangkan, malah menjadi yang mendebarkan bagi Tari. Tapi dia bersyukur, batu yang selama ini ada di hatinya tiba-tiba menghilang. Dia sangat lega, lega yang luar biasa.
" Iya pak..hemm..kan Radit akan di sana senin pagi.."
" Iya bapak mengerti tapi klien kita ini akan bertolak ke negara lain hari senennya itu Dit, jadi dia meminta memajukan pertemuannya besok. Karena memang sudah tidak ada waktu lagi"
" Kalo begini, Radit harus kesana sekarang juga dong..begitu maksud bapak??"
" *Tidak ada pilihan lain lagi Dit, bapak harap kamu mengerti ini semua demi perusahaan, demi ayah kamu."
__ADS_1
" Pertemuannya bapak atur pukul 3 sore, kamu bisa berangkat besok pagi dari sana*" ucapan pak wisnu itu seperti oase di gurun pasir..setidaknya dia tidak harus berangkat malam ini juga. Lagi pula dia masih sangat lelah jika harus berkendara ke Bandung malam ini.
Demi Ayah, kalimat singkat itu membuat Radit sudah tidak bisa lagi menolaknya. Dia menghela nafasnya panjang,mencoba menerima..
" Baiklah pak.."
Radit menutup sambungan telponnya dan menatap wajah Tari dengan sendu. Belum cukup rasa rindunya terobati kini Radit harus berangkat kembali meninggalkan kekasihnya itu.
" Bu..mau gak besok pagi liburan ke Bandung. Ibu bisa kan ijin 2 hari dari sekolah, nanti aku ngomong sama paman Irwan deh." Ucap Radit tiba-tiba pada Ita membuat Ita yang mendengarnya sedikit heran.
" Kok dadakan gini sih, eh maksud kamu pak Irwan kepala sekolah kita?" Ita balik bertanya..
" Pak Irwan itu, adik Pak Herman, ayahnya Radit" Jelas Tari dengan malas. Dia heran kenapa hanya Ita yang di ajaknya ke Bandung. Padahal kan yang jadi pacar Radit disini dirinya.
Radit paham dengan gelagat gadis itu, dia memang bodoh kadang-kadang.. Radit tertawa di dalam hati.
" Iya bu,..kalo pergi sama Ibu kan aku enak ijin sama Ibu nya Tari nanti. .." jelasnya lagi agar Tari tidak kembali salah paham.
" Jadi kamu ngajak aku juga..!!" Tuh kan benar, dia memang bodoh.
" Kamu juga bisa ikut Ronald, masalah akomodasi biar aku semua yang atur. Kalian cukup bawa diri aja. Gimana???" Pinta Radit lagi pada keduanya.
" Tapi gue bawa mobil sendiri ya, kayaknya gue gak bisa lama-lama di sana. Kalo cuti dadakan gini paling cuma dikasih sehari kalo gak 2 hari doang" Ucap Ronald menjelaskan.
" Ok, deal gak masalah... besok pagi kita berangkat. Ntar gue hubungin lo lagi ya ketemuannya dimana."
" sipp" ucap Ronald kembali..
" Thanks broo"
Radit senang, dia akhirnya bisa mengajak Tari ke Bandung. Setidaknya dia bisa bersama dengan Tari sedikit lebih lama. Sambil mengantar Tari pulang, dia sudah berbicara pada ibu Tari perihal rencana nya. Dan ibunya juga sudah menyetujuinya, karena memang Radit bilang jika Ita juga ikut rombongannya.
__ADS_1
Hal itu membuat ibunya tenang. Dia hanya berpesan agar berhati-hati. Berpacaran dengan sehat, dan menjaga Tari dengan baik.
Radit menggangguk paham dan berjanji akan menjaga Tari dengan baik.