
Tari berjalan keluar menuju gerbang sekolah. Adik tirinya Cecil sudah menunggu di gerbang sekolah sedari tadi. Namun dia belum menyelesaikan pekerjaannya, karena memang jam mengajarnya belum berakhir. Tapi Cecil masih setia menunggu sang kakak di dalam mobil Honda jazz pemberian Abangnya itu. Dia tidak mematikan mesin mobil, karena malas kepanasan di dalam. Dia juga males jika harus menunggu di luar, alhasil disinilah dia, di dalam mobilnya dengan suara mesin mobil yang tetap menyala.
Tari melihat mobil sang adik di luar gerbang, lalu dengan segera menghampirinya. Dia mengetok-ngetok kaca pintu mobil dengan kepalanya dia tempelkan persis di depan kaca. Sang adik di dalam hanya terkekeh melihat tingkah mbaknya itu. Jadwal kuliahnya memang selesai lebih cepat di banding jam mengajar Tari, jadi dia berada di posisi menunggu di sini. Dia menekan tombol untuk membuka otomatis kunci pintu mobil. Tari membuka pintu, lalu masuk ke dalam mobil sang adik.
" Mbak lama ya..Maaf ya Cecil.."
" Ih mbak kok maaf-maaf terus deh dari pagi. Cecil seneng bisa jemput mbak, suer...!!!" Cecil mengangkat tangannya dengan semangat membuat Tari tersenyum.
" Ya..ya baiklah. Ayo kita berangkat"
" Siap mbak"
Cecil melajukan mobilnya membelah kemacetan ibu kota. Sore ini jadwal ayah operasi, semoga semuanya berjalan lancar. Sebenarnya penyakit ayah cukup serius, tapi akan segera sembuh jika dia melakukan operasi secepatnya. Tapi dengan sifatnya yang keras kepala, dan tidak ingin melakukan operasi sebelum menemukan Rani dan putrinya. Alhasil kesehatannya semakin memburuk. Untung Raka, sebagai anak laki-laki tertua dan sudah cukup dewasa. Bahkan Raka sudah mendapatkan gelar S2 nya itu, bisa mengelola perusahaan yang saat itu sedang kesulitan. Hingga membuat perusahaan yang di bangun sang Ayah tidak jatuh dan terpuruk mengikuti jejak pendirinya.
Raka, sebagai pria muda berhasil membuat perusahaan ayah yang sempat oleng itu berdiri dengan kokoh kembali. Di bawah naungan kepemimpinannya. Banyak dewan direksi yang bahkan usianya sudah sebaya dengan ayahnya itu, memuji kinerja Raka. Dia bahkan bisa melebarkan sayapnya hingga perusahaan di bidang pangan dan pariwisata itu masuk ke mancanegara.
__ADS_1
Kiprahnya di dunia bisnis memang sangat patut di acungi jempol. Dia juga sangat mengenal Radit, walau mereka berada di bidang yang berbeda, tapi dengan sama-sama menjadi seorang pengusaha muda yang terkenal tampan dan rupawan membuat keduanya terkenal di antara kalangannya. Siapa juga yang tidak mengenal keluarga Wijaya? Jika saja dia mengetahui adiknya menjalin hubungan dengan Radit, mungkin dia akan menemukan adiknya lebih cepat.
Raka, di tinggal ibunya semenjak dirinya remaja membuatnya menjadi pribadi yang dewasa sebelum waktunya. Belum lagi, ada sang adik Cecil yang manjanya super itu. membuatnya kuat, di tengah masalah keluarganya yang dia hadapi.
Di ruangan kantornya yang megah, Dirga sang asisten mengingatkannya tentang jadwal operasi ayahnya. Dia menutup semua berkas yang berserakan di meja kerjanya, lalu keluar menuju ke rumah sakit tempat ayahnya akan di operasi. Akhirnya, ayah mau juga di operasi setelah dia berhasil menemukan Ibu Rani dan juga Tari adiknya. Rasa sesal dan marah dalam hatinya dengan pengkhianatan ayah pada ibunya menguap begitu saja setelah melihat hidup yang dijalani Ibu Rani dan juga adiknya Tari.
Hidup tanpa suami, membesarkan anak dengan tekanan dan gunjingan yang mungkin dia dengar selama membesarkan Tari tanpa sosok ayah. Membuat Raka melupakan rasa sakitnya selama ini. Apalagi semburat senyum, dan tawa dari sang ayah saat mereka bertemu, membuat Raka juga ikut merasakan bahagia yang di rasakan ayah.
Tari, gadis berparas cantik yang sekarang menjadi adiknya itu sudah memiliki kekasih. Bahkan mungkin mereka berdua akan menikah dengan segera. Melihat bagaimana Radit memperlakukan Tari, Sebagai sesama pria, Raka tau, Radit sangat menyayangi adiknya. Entah apa yang sudah Tari alami selama hidupnya, Raka berharap adiknya akan bahagia.
Tak terasa, mobil sudah berhenti. Tandanya mereka sudah tiba di Rumah sakit. Mobil Honda Jazz merah juga sudah terlihat terparkir disana. Cecil pasti sudah sampai lebih dahulu. Raka ingat tadi pagi, dia menyuruh untuk membelikan mobil keluaran terbaru untuk Tari. Dia bilang kasian, Tari memakai sepeda motor untuk mengajar. Raka tidak menyangka, semua berjalan lancar seperti ini. Tidak ada kebencian, yang ada hanyalah cinta. Cinta sesama saudara.
Raka keluar dari dalam mobil, sebelum memberikan beberapa intruksi kepada asistennya itu. Dia berjalan menuju ruang VVIP tempat sang ayah di rawat. Masih ada 2 jam lagi sebelum operasi di mulai. Raka sudah memberikan dokter terbaik untuk ayahnya. Dia sudah menyiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin. Dia membuka kenop pintu ruangan, Di sana terlihat kedua adiknya sudah berada di samping ranjang sang Ayah. Juga Ibu Rani yang telaten mengurus ayahnya, bahkan setau Raka, Ibu Rani ini belum pulang ke rumahnya semenjak kemaren. Dia tetap setia menunggu dan mendampingi ayah di rumah sakit.
" Kamu sudah datang Nak?"
__ADS_1
Raka melihat raut wajah ayah yang berseri, tidak lagi pucat seperti biasanya. Raka yakin, ayah sudah siap secara fisik maupun mental untuk melakukan operasinya kali ini. Raka bersyukur, dia dapat menemukan ibu Rani dan Tari. Setidaknya saat ini ayah sudah memikirkan kesembuhannya, tidak lagi terpuruk dengan kesalahan masa lalunya.
" Iya yah, tadi ada beberapa berkas yang harus Raka tinjau. Bagaimana perasaan ayah? Ayah sudah siap yah? Raka harap ayah kembali sehat seperti dulu. Kami menunggu kepulangan Ayah kembali ke rumah."
" Ayah, Mbok Ijah titip salam, dia bilang rindu sekali dengan ayah. " Cecil, gadis itu menyela pembincangan kami. Yang sontak membuat kita semua yang berada di ruangan tertawa terbahak-bahak.
" Bilang, Ayah juga rindu dengannya" Ayah menanggapi candaan putri bungsunya itu.
" Pria yang kemarin kemari, ayah ingin bertemu dengannya lagi, apa dia tidak kemari Tari? "
Tari yang masih berdiri di sana mendadak terkejut dengan pertanyaan ayahnya. Dia sebenarnya belum terbiasa dengan semua ini.
" Banyak pekerjaan ayah, nanti kalau sudah selesai dia akan kemari"
" Terima kasih, sudah mau bertemu dengan ayah. Ayah banyak kesalahan, ayah tau ayah tidak pantas di maafkan. Tapi tetap saja, ayah berusaha memohon maaf padamu, juga pada ibu mu. Semoga kalian sudi memaafkan pria yang sudah banyak menyakiti kalian ini. Jika ayah masih hidup setelah operasi ini, Ayah akan menebus kesalahan ayah di masa lalu dengan seluruh umur ayah yang tersisa. Ayah akan berusaha membahagiakan kalian semua. Anak-anak ayah. Ayah juga meminta maaf padamu Raka, dan juga Cecil. Ayah melukai hati ibu kalian, pernikahan kami memang hasil dari perjodohan. Tapi Demi Tuhan, ayah menyayangi kalian dengan segenap hati ayah. Ayah tidak bisa menyayangi ibu kalian sepenuh hati, karena memang hati ayah mu ini sudah di penuhi oleh ibunya Tari. Tapi sungguh, Ayah berusaha menjadi suami dan ayah yang baik. Ayah bahkan rela meninggalkan mereka berdua, dan memilih ibu kalian. Tapi hati manusia mana yang tau, sejauh apa ayah berusaha. nyatanya tetap saja, ayah menyakiti kalian semua" Kini air mata dari seorang Rafa Adi Putra meleleh di hadapan kami semua anak-anaknya.
__ADS_1