Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 11


__ADS_3

Setahun berlalu...


Teriak kan histeris terdengar di rumah Diva, ya nenek Diva menangis histeris karena mengetahui anak yang teramat ia kasihi jatuh dari bangunan dan menyebabkan kedua kaki nya lumpuh total


Bahkan masih di katakan hidup itu hanyalah sebuah "keajaiban"


"Ya Allah tau akan begini aku takkan mengijinkan anak ku merantau jauh?", Bu Meli nenek Diva masih menangis memeluk tubuh Ilham yang tergolek di atas kursi roda


"Ini semua sudah takdir Bu", Ilham membalas pelukan sang Ibu dengan penuh kasih


"Jadi sudah berapa lama kamu seperti ini ham, bagaimana cerita nya kok kamu bisa sampai jatuh?"


"Waktu itu aku lagi di atas Bu, aku kurang teliti dan hati-hati sehingga aku tergelincir dan jatuh ke bawah?"


"Ya Allah ham pasti sakit sekali?", Bu Meli menatap sendu kedua manik anak nya dengan raut penuh kasih sayang


"Ya sakit lah Bu, tapi Ilham selalu ingat bahwa Ilham harus kuat karena masih ada tiga wanita yang harus Ilham jaga", ucap Ilham dengan mata berair


Meylin yang tau suami nya jatuh dari bangunan dan mengalami kelumpuhan pun sangat terpukul atas kejadian itu


"Mas makan lah dulu?", Meylin memberikan Ilham sepiring nasi dan sayur bening bayam


"Makasih Mey, di saat aku jatuh dan terpuruk bahkan bisa di bilang bahwa kini aku cacat tapi kamu masih setia mendampingi ku sekali lagi makasih Mey?", Ilham mengambil tangan Meylin dan mengenggam nya penuh arti


"Sudah lah.... Makan lah dulu", Meylin pun bergegas pergi masuk ke dalam kamar untuk melihat notifikasi di handphone nya


"Sabar ya say", akun Mawar berduri berkomentar di unggahan status Meylin


Ya baru saja Meylin membuat status tentang suami nya yang jatuh dan harus menderita kelumpuhan


Meylin antusias membalas komen dari teman dunia Maya nya tanpa sadar sedari tadi ada Ilham yang memperhatikan nya


"Mey...?", Panggil Ilham


"Hm....", Meylin menjawab tanpa menoleh ke arah suara


"Boleh bantuin aku mandi, badan ku terasa lengket aku ingin mandi supaya akan lebih segar nanti nya"


"Hah.... Iya iya", Meylin pun bangkit dan mendorong kursi roda Ilham ke kamar mandi


"Maaf merepotkan mu dan sepertinya setiap hari akan begini?", Ucap Ilham sedih

__ADS_1


Meylin tak mendengarkan ucapan Ilham, Meylin segera memindahkan tubuh Ilham ke atas kursi plastik dekat dengan bak mandi dan menaruh sabun serta lain nya di dekat nya


"Mey... Kamu gak keberatan kan membantu ku mandi dan mengurusi ku setiap hari, Mey aku gak mungkin merepotkan ibu, dari kecil ibu sudah merawat ku masa di hari tua nya ibu juga harus merawat ku?", Ilham berkaca-kaca


"Iya", Meylin menjawab dengan ketus


Selesai Mandi dan berganti baju, Ilham duduk di teras sedang Meylin masih rebahan di atas kasur dengan memainkan smartphone milik nya, terkadang terdengar tertawa dan mengumpat gak jelas


Ilham menatap siang hari yang begitu terik, dia seorang lelaki tapi harus selalu duduk di kursi roda dan itu sangat menyakitkan hati nya, kesedihan menggerogoti separuh jiwa lelaki nya


"Loh bapak ngapain disini, kenapa gak tidur siang?", Diva menyalami tangan bapak nya


Ilham hanya tersenyum mendapati anak gadis nya pulang dari sekolah tanpa menjawab pertanyaan Diva


"Ayo masuk pak?", Ajak Diva


"Tidak va bapak mau disini saja melihat siang yang begitu cerah?"


"Baik lah.... Diva masuk dulu ya pak", Diva segera masuk kedalam dan melakukan rutinitas harian nya, setelah selesai Diva segera membantu nenek nya yang buruh di ladang orang


Begitulah kegiatan Diva setiap hari, Diva bukan anak pemalas dan manja, Diva mandiri dan anak yang tegar


Meylin sang Ibu tidak pernah sekalipun membantu pekerjaan rumah, kerjaan nya hanya bermain handphone dan berdandan


Ilham selalu meratapi kelumpuhan nya, Ilham merasa bersedih karena selalu merepotkan orang yang ia kasihi


Hingga suatu hari Meylin mengadaikan rumah milik ibu mertua tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Meylin menggunakan uang itu untuk membeli obat Ilham dan bersenang-senang


Seratus juta itu lah nominal awal yang Meylin ambil tanpa berpikir panjang, toh setelah mereka gak bisa membayar maka Meylin akan mencoba melarikan diri dari keluarga Ilham, bahkan Meylin tak mau memikirkan kepusingan setelah nya


Meylin berpikir ia masih muda jadi sangat di sayangkan jika ia harus menjalani rumah tangga dengan pria lumpuh, Meylin merasa berhak meninggalkan Ilham yang tak mampu memberikan nafkah lahir maupun batin


Secara diam-diam Meylin masih berkomunikasi dengan Arvi sang mantan kekasih gelapnnya dulu, Meylin pikir setelah meninggalkan Ilham dan hidup bersama Arvi hidup nya akan jauh lebih baik


Dan Setelah tiga bulan dari hari oertama Meylin mengambil uang ke Bank, seorang dep kolektor datang untuk menagih uang pinjaman karena sudah tiga bulan tidak membayar


Bu Meli menjawab dengan tegas karena ia tak merasa mengambil uang dari Bank, Bu Meli dengan tegas tak akan membayar uang angsuran sesuai nominal yang di minta


"Aku gak akan membayar uang angsuran Karana aku gak merasa berhutang ke Bank!", Teriak Bu Meli penuh emosi


"Ibu... Ibu lihat foto copy sertifikat ini, yang asli ada pada pihak bank, ini ada berkas yang lengkap bahwa tiga bulan yang lalu ibu mengambil sejumlah uang senilai seratus juta rupiah dan ibu mengambil angsuran selama satu tahun, jadi ibu harus membayar sebelas juta rupiah setiap bulan dan ibu sudah menunggak selama tiga bulan?", Tegas sang dep kolektor

__ADS_1


Bu Meli meraih kertas berkas dan mulai membaca, mata nya merah dengan wajah yang begitu tegang "tidak mungkin?", Ucap Bu Meli lagi


"Bagaimana ibu, apa ibu percaya sekarang?", Sang kolektor mengambil berkas dari tangan Bu Meli dan berkata kembali


"Ibu harus membayar bulan ini kalau tidak rumah ibu akan kami ambil alih?"


"Beri kami waktu?"


"Baik ibu, kami akan memberi waktu sampai tiga hari kerja kami ke depan, alangkah baik nya jika ibu menyetor kangsung pada kami jangan kami yang datang ke rumah ibu, kami permisi?"


Selepas kepergian sang dep kolektor Bu Meli menangis terisak-isak dan Diva beehambur memeluk sang nenek


"Bagaimana mungkin Meylin tega melakukan ini, untuk apa uang sebanyak itu!", Bu Meli bergumam nyeri di ulu hati


Diva masih memeluk nenek nya tanpa berkata apapun, Diva sendiri masih tidak habis pikir oleh perbuatan mama nya yang tiba-tiba itu


"Maaf kan aku Bu?", Ucap Ilham


"Gak ham kamu gak salah"


"Aku salah Bu ini semua salah ku yang lumpuh, seandainya aku tidak lumpuh semua ini tidak akan terjadi, semua ini salah ku Bu salah ku?", Ilham menepuk dada nya


"Sudah ham sudah.... Lebih baik kita cari cara bagaimana membayar angsuran tiga bulan ini, ya Allah sebelas juta setiap bulan selama satu tahun", bu Meli mengusap air matanya


"Bagaimana pun Meylin berhutang penjelasan pada kita untuk apa uang sebanyak itu, aku rasa jika membeli obat untuk ku selama tiga bulan ini pun tak akan sampai berpuluh-puluh juta?", Ilham berkata sambil menatap langit


"Nanti setelah Meylin pulang kita tanyakan", Bu Meli menatap hangat anak lelaki kebanggaan nya


Setelah berjam-jam Meraka menunggu kedatangan Meylin bahkan hampir larut malam nyata nya Meylin tak kunjung pulang ke rumah


Entah pergi kemana Meylin, sedang mereka tau Meylin sudah tak mempunyai keluarga lagi..


Mereka tidak marah atau dendam pada Meylin hanya mereka butuh penjelasan di gunakan untuk apa uang sebanyak itu?


Bahkan Diva sendiri tidak bisa memejamkan mata nya untuk tidur padahal besok ia akan ujian kelulusan sekolah


Jangankan waktu untuk tidur bahkan untuk belajar pun Diva tidak punya waktu untuk itu


Hari-hari nya sibuk, sekolah, bekerja dan mengurus rumah..


"Ibu Diva ingin ikut ibu?", Batin Diva menangis, Diva tau bahwa Meylin bukan ibu kandung nya...

__ADS_1


Ibu kandung Diva meninggal saat melahirkan Diva


"Ibu ... Ibu... Ibu....", Panggil Diva lirih hingga matanya benar-bemar terpejam ke alam mimpi


__ADS_2