
"makasih banyak Bu atas tumpangan nya, sekarang aku mau berangkat kerja sekalian?", Fadlu berpamitan dengan Bu Aini
Diva yang melihat kepergian Fadlu lewat balik jendela dengan menyibak kan sedikit hordeng sebagai penghalang tirai mata
Setelah Fadlu sudah tak nampak lagi Diva keluar dari kamar dan segera menyambar tas untuk pergi ke butik
"Mau ke butik, kenapa tidak libur saja dulu, temani ibu ke salon?", Ucap Bu Aini sambil memotong kuku di kaki nya
"Tapi rasanya sayang banget Bu kalau harus libur, aku rasa sudah cukup libur selama hampir empat hari, lagian kalau libur mau ngapain juga di rumah", jawab Diva
"Kalau begitu temani ibu ke salon kecantikan?"
"Hah... Baik lah", jawab Diva pelan, sebenarnya Diva ingin sekali menolak keinginan Bu Aini tapi apalah daya
Memang sih di butik sudah ada dua karyawan yang bekerja dan Diva datang hanya untuk melihat dan mengecek
"Ayo berangkat kok malah duduk!", Seru Bu Aini saat melihat Diva malah asyik duduk di sofa
Diva keluar dari rumah mengikuti Bu Aini yang sudah masuk kedalam mobil.
Sopir Bu Aini dengan pelan melajukan mobil menuju salon kecantikan langganan Bu Aini
Setelah sampai tempat tujuan dengan sigap sang sopir membuka pintu mobil mempersilahkan Bu Aini untuk keluar
Diva masih mengekori Bu Aini, layak nya seekor anak ayam yang mengikuti induk nya
"Mari Bu silahkan masuk", ucap sang pemilik salon ramah
Bu Aini mengangguk dan melempar senyum lalu gegas masuk dengan Diva mengikuti di belakang nya
"Perawatan seperti biasa sis?", Tanya sang pemilik salon
"Iya sis, aku rasa wajah ku terasa lelah karena banyak aktivitas aku ingin wajah ku kembali segar dan fresh, lihat lah kantung mata dan sedikit garis di dekat hidung ku", seru Bu Aini dan sang pemilik salon pun mengerti perawatan macam apa yang di inginkan Bu Aini dan segera meminta karyawan nya melakukan perawatan sesuai keinginan Bu Aini
Memang sih usia Bu Aini sudah tak muda lagi hampir kepala enam tapi jangan salah wajah nya sangat kinclong kayak porselen
Ya memang Bu Aini rajin melakukan perawatan di salon, gemar olahraga dan mengonsumsi makanan yang sehat
"Ini anak nya sis, apa mau perawatan sekalian?", Tanya sang pemilik Salon
"Iya sis, berikan dia perawatan yang terbaik agar dia tak terlihat kusam dan kucel lagi?" Seru Bu Aini
"Siap sis", seru pemilik salon lalu mengajak Diva untuk mulai melakukan serangkaian perawatan
Diva yang jarang melakukan perawatan pun hanya pasrah saat sang pemilik salon mulai membersihkan wajah nya
Setelah berjam-jam akhir nya kedua wanita itu sudah selesai melakukan perawatan
Dan gegas pulang ke rumah karena hari sudah beranjak sore
*****
Di rumah sakit...
Fadlu sedang berkerja di ruangan putih milik nya
"Sus apa sudah tidak ada pasien lagi?", Tanya Fadlu sambil melihat jam tangan di pergelangan tangan nya yang menunjukan jam lima sore
"Sudah tidak ada dok!", Jawab Suster
__ADS_1
"Baik lah kalau begitu saya mau pulang saja, lagian jam kerja kita juga sudah habis waktu nya pulang dan dokter Ardi pasti sebentar lagi sampai?", Fadlu berjalan melewati suster jaga yang sedang berdiri di dekat pintu
Fadlu sedang berjalan dari lift menuju parkiran tapi Fadlu urung ke parkiran
Di sebuah lantai ke dua Fadlu berjalan hendak ingin mengunjungi ruangan Sherina yang merupakan dokter kandungan
Tok... Tok...
Fadlu membuka pintu tanpa Sherina menjawab
"Ngapain kesini?", Seru Sherina terkejut
"Mau ngajakin pulang bareng, gimana sudah selesai belum?"
"Pasien ku masih ada tiga orang lagi", Sherina menjawab
"Ya sudah yang semangat aku tunggu di depan?", Ucap Fadlu menyemangati sambil melempar senyum, Sherina pun menimpali senyum Fadlu
Fadlu duduk di bangku khusus tunggu pasien, tangan kanan nya merogoh smartphone milik nya lalu membuka sebuah aplikasi yang mampu membuat nya tersenyum simpul
"Bang aku ke toilet dulu ya?", Suara seorang perempuan yang baru datang
"HM....", Jawab pria dari perempuan tadi, seketika Fadlu memandang sosok lelaki di depan nya karena suara yang tidak asing bagi nya, walau kini badan nya lebih kurus dengan sedikit brewok tapi Fadlu cukup ingat jika itu Leon
"Mas Leon?", Ucap Fadlu ragu
Lelaki itu pun menoleh ke arah Fadlu dan tersenyum kecut
"Bukan nya kamu lelaki yang memeluk Diva waktu itu?", Ucap Leon dan mendekati Fadlu
"Duduk lah mas!", Fadlu masih tersenyum
Leon pun duduk di sebelah Fadlu sambil menatap lurus ke depan
"Seperti yang kamu lihat, kini aku sudah cukup bahagia menikah dengan orang yang tulus mencintaiku, bukan menikah dengan orang yang menginginkan harta bapak ku saja!", Sewot Leon dengan mata yang tegas
"Syukur lah kalau mas sudah bahagia sekarang, oh iya mas tinggal dimana?"
"Aku tinggal di perumahan Cempaka"
"Berarti tidak terlalu jauh dari tempat tinggal ku", jawab Fadlu pelan
"Ngapain kamu disini?" Ketus Leon menatap Fadlu
"Aku bekerja disini mas"
"Oh begitu rupanya!"
"Mas sendiri mau kontrol kehamilan rupanya sehingga mendatangi dokter Sherina?"
"Tidak"
"Lalu ngapain kesini?", Fadlu merasa heran
"Mau progam hamil, setelah menikah hampir empat jalan lima tahun kami tak kunjung memiliki anak, dokter bilang aku kurang subur, hah itu terdengar memalukan"
"Masa sih mas, bukan nya dulu waktu mas menikah dengan Diva, Diva di nyatakan hamil ya mas?", Ucap Fadlu lagi
"Aku sendiri tak yakin jika anak yang di kandung Diva anak ku, selama setahun pernikahan kami, tak sekalipun aku mendengar Diva mengatakan Cinta pada ku"
__ADS_1
Fadlu menelan Saliva mendengar penuturan Leon yang terlihat seperti menahan sesuatu
"Aku pikir dulu Diva sangat mencintai mu, bahkan mungkin saat melakukan hubungan suami istri Diva membayang kan jika aku itu adalah kamu, aku gak pernah menangkap sinyal Cinta Diva untuk ku, bahkan aku melihat kalung bernama kan FaVa di genggaman nya dengan Isak tangis nya yang pilu, aku yang melihat itu merasa murka pada nya?", Mata Leon memerah
"Lalu dengan seenak nya mas menyiksa dan melakukan kekerasan fisik pada Diva?", Ketus Fadlu mulai marah
"Ya... Sampai aku harus mendekam di penjara selama empat tahun?", Jawab Leon tegas
"Apa mas sama sekali tidak merasa bersalah?", Geram Fadlu
"Untuk apa aku merasa bersalah, aku di posisi yang benar, bagaimana mungkin seorang istri malah mencintai lelaki lain"
"Apakah mas pernah berkunjung dan menjenguk anak kandung mas?"
"Untuk apa aku menemui nya, bahkan aku sama sekali tidak mengharapkan kehadiran nya di dunia ini, aku membenci ibu dan anak itu"
Plak....
Sebuah tamparan Fadlu daratkan pada pipi sebelah kanan Leon dan membuat Leon terperanjat kaget bukan main
Fadlu merasa kan sesak di dada nya bagaimana mungkin Diva bisa hidup dengan lelaki angkuh dan egois seperti Leon
"Apa-apaan kamu ini?", Seru Leon dan berdiri dan mencengkeram kerah baju Fadlu
"Lelaki berengsek, beraninya main tangan sama perempuan, lelaki pecundang, kamu sama seperti sampah", umpat Fadlu berapi-api
Bugh.... Bugh.....
Sebuah tinju mendarat di pipi Fadlu dan nampak mengeluarkan darah di sudut bibir nya
Fadlu tak terima dengan Bogeman yang di lakukan Leon dengan tangkas Fadlu membuat Leon babak belur dengan pukulan bertubi-tubi
Sherina yang mendengar perkelahian itu pun keluar dari ruangan dan segera memanggil sekuriti pihak rumah sakit
Sekuriti nampak melerai kedua lelaki yang sedang adu pukulan itu
Sekuriti dan istri Leon memegang Leon yang terus ingin memukul Fadlu
Pun demikian Sherina dan seorang perawat memegang Fadlu yang seakan sedang membabi buta ingin menghajar Leon
"Lepaskan!", Teriak Fadlu saat Leon sudah tak ada lagi di hadapan nya
"Ada apa sih dlu, kamu sampai berkelahi seperti itu, kamu tau jika sampai direktur tau kamu berkelahi di rumah sakit kamu bakal kena sangsi", tegas Sherina
Fadlu mengibaskan tangan Sherina dan berlalu menuju parkiran mobil
Sesampainya di parkiran mobil, Fadlu segera mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi
Mulut Fadlu terus menerus menggerutu dan merutuki diri yang tidak tau betapa Diva menderita selama ini
"Maafkan aku Diva, aku tidak bisa menjaga mu seperti apa janji ku dulu, nyata nya aku membiarkan mu menderita dengan keadaan hidup mu, selama bertahun-tahun kamu terus memndam cinta dan hanya melantunkan dalam doa tanpa berniat memberi tahu ku?", Lirih Fadlu dengan menghentak-hentakan tangan pada stir mobil
Fadlu menangis membayangkan betapa Diva menderita selama itu dan tetap berusaha tegar dan baik-baik saja seolah-olah hidup nya selalu bahagia
"Aku takkan membiarkan hatimu sakit lagi va, aku akan menjaga dan mencintai mu dengan tulus aku janji, aku tidak akan membuat mu menangis lagi, sudah cukup selama hampir berpuluh tahun kamu menangis karena cinta ku"
Gas mobil yang terlalu tinggi dan melebihi jarak normal tempuh membuat Fadlu oleng dan tak terkendali
Brak.... Brak... Booom....
__ADS_1
Mobil Fadlu menabrak sebuah truk bermuatan hingga terpelanting beberapa meter
Sehingga membuat mobil Fadlu ringsek